Waspada Kekeringan Meteorologis Meluas di NTT, Ini Peringatan BMKG
Kupang - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) baru saja mengeluarkan peringatan serius terkait ancaman kekeringan meteorologis yang diperkirakan akan melanda hampir seluruh kabupaten d...
Kupang - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) baru saja mengeluarkan peringatan serius terkait ancaman kekeringan meteorologis yang diperkirakan akan melanda hampir seluruh kabupaten dan kota di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Hampir 85 persen wilayah diproyeksikan mengalami defisit curah hujan signifikan dalam beberapa pekan mendatang.
Berdasarkan data satelit, sejumlah daerah bahkan telah memasuki fase hari tanpa hujan berkepanjangan, dengan catatan lebih dari 30 hari tanpa presipitasi. Kondisi ini berpotensi memicu krisis air bersih, gagal panen, serta peningkatan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Pemicu dan Wilayah Terdampak
Kekeringan meteorologis ini dipicu oleh dominasi angin timur monsun yang bersifat kering dan minim massa uap air. Akibatnya, peluang terbentuknya awan hujan sangat rendah. Wilayah pesisir utara dan selatan seperti Timor, Sumba, Flores, dan Alor menjadi zona paling rentan. BMKG mendeteksi indeks kekeringan di beberapa stasiun telah mencapai level "awas" atau siaga merah.
Berdasarkan peta prakiraan, kemarau panjang ini akan berdampak pada lebih dari 20 kabupaten/kota di NTT. Beberapa daerah yang dipastikan mengalami kekeringan parah antara lain: Kupang, Belu, Malaka, Sumba Timur, dan Lembata. Di wilayah tersebut, rata-rata curah hujan bulanan diprediksi hanya berkisar 0-20 mm—jauh di bawah normal 100-150 mm.
"Kami memproyeksikan bahwa kondisi tanpa hujan akan terus berlangsung setidaknya hingga Oktober mendatang. Jika tidak diantisipasi, dampaknya bisa sangat luas terhadap sektor pertanian dan ketersediaan air," ujar salah satu pejabat BMKG setempat yang tidak disebutkan namanya.
Fenomena ini mengingatkan pada tragedi kekeringan tahun 2019 yang menyebabkan puluhan ribu warga kesulitan air dan memicu darurat pangan di beberapa titik. BMKG menegaskan bahwa situasi saat ini memiliki kemiripan dengan tahun-tahun El Niño sedang hingga kuat, meskipun ENSO masih dalam kondisi netral lemah.
Langkah Antisipasi
BMKG mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk segera melakukan langkah antisipasi. Konservasi air menjadi prioritas utama, termasuk penggunaan embung, penampungan air hujan, serta penghematan air bersih. Para petani diimbau menunda tanam hingga hujan stabil, dan beralih ke komoditas yang lebih tahan kekeringan.
Di tingkat tapak, kelompok tani di NTT mulai mengadopsi teknologi panen hujan dan sistem irigasi tetes sederhana. Sementara itu, Palang Merah Indonesia (PMI) setempat juga telah menyiagakan tangki air bersih dan tim dapur umum sebagai langkah preventif.
Selain itu, instansi terkait juga diminta untuk mempersiapkan distribusi air bersih ke wilayah-wilayah yang berpotensi krisis. Posko kesehatan diharapkan siaga menghadapi peningkatan penyakit terkait air seperti diare. Masyarakat juga diwanti-wanti untuk tidak membakar lahan secara sembarangan.
Peringatan dini ini juga berlaku bagi sektor pariwisata yang bergantung pada sumber daya air. BMKG akan terus memperbarui peringatan setiap 10 hari sekali dan berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) untuk pemetaan risiko. “Kami mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersinergi menghadapi musim kering ini, karena dampaknya bisa diminimalkan jika semua pihak waspada sejak dini,” kata seorang pejabat BMKG Stasiun Klimatologi Kelas II Kupang. Masyarakat dapat mengakses informasi resmi melalui kanal BMKG atau menghubungi posko di masing-masing kabupaten.
Baca juga:
Comments (0)