Bima Arya Dorong Kepala Daerah Bangun Identitas Wilayah Melalui Strategi City Branding dan Inovasi Lokal
Jakarta – Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto menyampaikan pandangan strategisnya mengenai pentingnya peran kepala daerah dalam membangun identitas wilayah. Ia menekankan bah
Jakarta – Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto menyampaikan pandangan strategisnya mengenai pentingnya peran kepala daerah dalam membangun identitas wilayah. Ia menekankan bahwa identitas daerah harus digali dan dikembangkan dari kekayaan kearifan lokal yang dimiliki masing-masing daerah di Indonesia.
Menurut Bima, keberagaman yang dimiliki oleh Indonesia bukan sekadar fakta demografis atau kultural, melainkan sebuah modal besar yang harus diterjemahkan menjadi kekuatan pembangunan. Hal ini, jelasnya, dapat diwujudkan melalui penerapan konsep city branding yang terintegrasi dan didukung oleh ekosistem inovasi yang berkelanjutan. Tanpa adanya identitas yang kuat, pembangunan di suatu daerah akan kehilangan ruh dan karakternya.
Bima Arya mengkritisi pola pembangunan yang selama bertahun-tahun terjadi di banyak daerah. Ia menilai, terlalu banyak wilayah yang terjebak dalam pola pembangunan seragam, sehingga karakter khas dan keunikan masing-masing daerah menjadi kurang menonjol. "Padahal, setiap daerah di Indonesia ini dianugerahi keragaman sejarah, budaya, dan potensi lokal yang luar biasa. Semua itu bisa menjadi identitas sekaligus sumber pertumbuhan ekonomi daerah yang signifikan jika digarap dengan serius," tegasnya.
Membedah Tiga Pilar City Branding
Dalam keterangan tertulis yang diterima media kami pada Rabu (24/6/2026), Bima Arya secara mendalam membedah makna dari city branding. Ia menolak anggapan yang menyempitkan konsep tersebut hanya sebagai upaya pencitraan sesaat. Menurutnya, city branding memiliki tiga dimensi waktu yang esensial dan saling terkait.
"City Branding itu bukan hanya sekadar pencitraan. Enggak, salah. Tapi di City Branding itu, satu, ada citra saat ini. Kedua, ada cerita masa lalu. Dan ketiga, adalah cita-cita masa depan seperti apa," ujar Bima Arya menegaskan definisinya.
Penjelasan Bima Arya ini menggarisbawahi bahwa membangun merek sebuah kota atau daerah adalah proses holistik. Dimensi "citra saat ini" berkaitan dengan bagaimana kondisi dan persepsi publik terhadap daerah tersebut pada masa sekarang. Sementara itu, "cerita masa lalu" menuntut para pemimpin daerah untuk menggali narasi sejarah, warisan budaya, dan nilai-nilai luhur yang menjadi akar identitas wilayah. Adapun "cita-cita masa depan" merupakan proyeksi dan visi pembangunan yang ingin dicapai, yang harus selaras dengan potensi lokalnya.
Lebih lanjut, Wamendagri menyiratkan bahwa kepala daerah memiliki tanggung jawab utama sebagai arsitek dari narasi ini. Mereka harus mampu merangkai cerita masa lalu, mengelola realitas masa kini, dan merancang mimpi masa depan menjadi sebuah kesatuan identitas yang otentik dan kompetitif. Dengan demikian, sebuah daerah tidak hanya dikenal, tetapi juga memiliki daya tarik dan daya saing yang berkelanjutan, baik untuk sektor pariwisata, investasi, maupun pengembangan ekonomi kreatif berbasis komunitas. Laporan kami mencatat, pendekatan ini menjadi krusial di tengah persaingan antardaerah yang semakin dinamis.
Comments (0)