Isak Tangis Ibunda Sahri Sobirin Pecah di Hadapan Komisi III
JAKARTA — Tangis histeris memecah ruang rapat Komisi III DPR RI, Selasa siang. Ibunda almarhum Sahri Sobirin tak kuasa membendung duka saat anggota dewan memintanya menceritakan kronologi kematian s...
JAKARTA — Tangis histeris memecah ruang rapat Komisi III DPR RI, Selasa siang. Ibunda almarhum Sahri Sobirin tak kuasa membendung duka saat anggota dewan memintanya menceritakan kronologi kematian sang anak.
Suasana hening seketika berubah menjadi isak tangis yang menusuk. Perempuan paruh baya itu hanya bisa terisak, tubuhnya gemetar, sebelum akhirnya ditenangkan oleh kerabat yang mendampingi. Momen emosional ini menjadi puncak dari audiensi yang membahas dugaan malapraktik penegakan hukum.
Kronologi Ketegangan
Pertemuan berlangsung di Gedung Nusantara II, Senayan. Dipimpin langsung oleh Wakil Ketua Komisi III, sesi awalnya berjalan formal. Hingga akhirnya tiba sesi mendengarkan langsung keluarga korban. Ibunda Sahri yang duduk di kursi depan tiba-tiba menunduk dalam saat namanya disebut. Air matanya jatuh sebelum sepatah kata pun terucap.
Anggota Komisi III dari Fraksi PDI Perjuangan, yang memandu sesi, berusaha menenangkan. “Kami memahami ini berat. Tapi suara Ibu penting untuk keadilan,” ujarnya. Namun tangis itu justru semakin keras. Beberapa anggota dewan terlihat menunduk, yang lain mengusap mata.
Fakta Kunci Kasus
- Sahri Sobirin (19) dilaporkan meninggal dunia dalam peristiwa yang diduga melibatkan oknum aparat dua pekan lalu.
- Keluarga mengklaim ada kejanggalan pada hasil visum dan penanganan awal oleh polsek setempat.
- Komisi III memanggil Kapolres dan Direskrimum Polda Metro Jaya dalam rapat tertutup tiga hari sebelumnya.
- Keluarga membawa bukti rekaman video dan pesan singkat yang diduga menunjukkan adanya intimidasi pascakejadian.
Tuntutan Tegas Keluarga
Setelah tangis mereda, kuasa hukum keluarga membacakan tiga tuntutan utama. Pertama, proses autopsi ulang secara independen dan transparan. Kedua, penahanan segera terhadap terlapor yang hingga kini masih berdinas. Ketiga, pengawasan langsung DPR terhadap proses rekonstruksi.
“Kami tidak akan berhenti sampai ada keadilan. Ini anak satu-satunya, Pak. Kami tidak punya siapa-siapa lagi,” lirih ibunda Sahri dengan suara tersengal, sembari memegangi foto almarhum.
Wakil Ketua Komisi III menegaskan pihaknya akan memanggil seluruh pihak terkait dalam rapat kerja resmi pekan depan. “Kami pastikan tidak ada perlindungan terhadap siapapun,” tegasnya di hadapan awak media usai audiensi.
Sementara itu, puluhan massa pendukung yang menunggu di luar gedung menggelar doa bersama. Mereka membentangkan poster bertuliskan “Tangkap Pembunuh Sahri” dan “Aparat Bukan Kebal Hukum”. Hingga berita ini diturunkan, situasi di lokasi masih kondusif dengan penjagaan ketat dari aparat keamanan internal DPR.
Baca juga:
Comments (0)