OJK Bongkar Modus Tipu-tipu Nasabah hingga Bobol Rekening
Tangerang Selatan - Pelaku penipuan semakin canggih dalam menjalankan aksinya. Berdasarkan temuan terbaru, para penipu mampu memindahkan uang hasil kejahatan ke berbagai rekening berbeda hanya dalam
Tangerang Selatan - Pelaku penipuan semakin canggih dalam menjalankan aksinya. Berdasarkan temuan terbaru, para penipu mampu memindahkan uang hasil kejahatan ke berbagai rekening berbeda hanya dalam waktu hitungan menit. Kecepatan inilah yang membuat peluang penyelamatan dana korban menjadi sangat kecil, terutama jika laporan baru disampaikan beberapa jam setelah insiden terjadi.
Kondisi memprihatinkan ini mendorong Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk mengambil langkah strategis dengan membentuk Indonesia Anti-Scam Center (IASC). Lembaga ini berfungsi sebagai pusat koordinasi yang menangani penipuan dalam transaksi keuangan secara terpadu dan responsif.
Sekretariat Satuan Tugas Pemberantasan Aktivitas Keuangan Ilegal (Satgas PASTI), Hudiyanto, mengungkapkan bahwa faktor kecepatan menjadi penentu utama dalam penanganan kasus-kasus semacam ini.
Kecepatan adalah segalanya. Semakin cepat korban melapor, semakin besar kemungkinan kami bisa menyelamatkan sisa dana yang belum sempat dipindahkan oleh pelaku ke jaringan rekening lain,
tegas Hudiyanto dalam keterangan yang dikutip oleh media kami, Kamis (15/5/2025).
Melalui IASC, OJK memperkenalkan mekanisme penundaan transaksi secara cepat untuk menghentikan aliran dana mencurigakan sebelum berpindah tangan sepenuhnya. Selain itu, rekening-rekening yang diduga kuat digunakan oleh pelaku kejahatan akan langsung diblokir guna memutus mata rantai pencucian uang hasil penipuan. Langkah ini diharapkan mampu membantu proses penyelamatan sisa dana milik korban yang kerap raib begitu saja dalam sistem perbankan yang dimanipulasi.
Modus yang digunakan pelaku biasanya melibatkan manipulasi psikologis dan teknis untuk mendapatkan akses ke data pribadi serta kredensial perbankan nasabah. Setelah berhasil membobol rekening, uang curian akan dipecah ke puluhan rekening berbeda dalam waktu yang sangat singkat, membuat pelacakan menjadi rumit tanpa adanya respons cepat dari pihak berwenang dan lembaga keuangan.
Hudiyanto menambahkan bahwa masyarakat tidak boleh ragu atau menunda-nunda ketika menyadari telah menjadi korban. Setiap detik yang berlalu tanpa laporan hanya akan memperlebar ruang gerak pelaku untuk menghilangkan jejak transaksi ilegal mereka.
Pembentukan IASC menjadi tonggak penting dalam penguatan ekosistem keamanan transaksi digital di Indonesia, yang selama ini kerap menjadi bulan-bulanan sindikat kejahatan siber lintas negara. Dengan adanya pusat koordinasi ini, diharapkan sinergi antara regulator, perbankan, dan aparat penegak hukum bisa berjalan lebih efektif dalam menekan angka penipuan keuangan yang terus meningkat dari tahun ke tahun.
Comments (0)