KH Zulfa Mustofa: Tradisi Menulis Kitab Harus Bangkit Kembali

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Zulfa Mustofa mengajak para ulama, kiai, akademisi, dan kalangan pesan

Jul 09, 2026 - 14:29
0 0
KH Zulfa Mustofa: Tradisi Menulis Kitab Harus Bangkit Kembali
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Zulfa Mustofa mengajak para ulama, kiai, akademisi, dan kalangan pesantren untuk segera menghidupkan kembali tradisi menulis kitab. Ajakan ini disampaikan menjelang Muktamar NU yang akan digelar dalam waktu dekat, menandai urgensi gerakan literasi keulamaan di tengah gempuran era digital.

Jelang panggung besar Muktamar Nahdlatul Ulama, Wakil Ketua Umum PBNU KH Zulfa Mustofa melontarkan seruan tajam: kebangkitan tradisi menulis kitab tak bisa ditunda lagi. “Kita kehilangan momentum intelektual jika ulama hanya mengkonsumsi, bukan memproduksi karya tulis. Tradisi menulis adalah roh keilmuan pesantren,” tegasnya di Jakarta. Ajakan ini menjadi sinyal bahwa agenda literasi akan menjadi salah satu prioritas dalam rekomendasi strategis organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut.

Bagi KH Zulfa, menulis kitab bukan sekadar aktivitas akademik. Ia adalah pilar peradaban Islam Nusantara yang terbukti melahirkan ulama-ulama besar seperti Syekh Nawawi al-Bantani dengan puluhan karya fiqih dan tasawuf, serta KH Hasyim Asy’ari yang kitab-kitabnya masih dikaji di ribuan pesantren. Jika tradisi ini mati, komunitas pesantren akan kehilangan otoritas intelektual dan hanya menjadi konsumen pemikiran luar. “Kita tidak boleh hanya bangga dengan warisan masa lalu, tapi harus menciptakan warisan baru untuk generasi mendatang,” tambahnya.

Tantangan yang Menggerus Tradisi Menulis Kitab

Produktivitas kitab orisinal dari ulama Indonesia merosot drastis. Berdasarkan catatan internal PBNU, dalam satu dekade terakhir, jumlah kitab baru yang ditulis oleh kiai produktif hanya berkisar kurang dari 15 judul per tahun. Angka ini sangat kontras dengan era keemasan 1900–1970 yang rata-rata melahirkan lebih dari 50 kitab per tahun. Beberapa faktor utama yang diidentifikasi:

  • Beban administratif dan dakwah yang menyita waktu ulama senior;
  • Pergeseran ke konten digital pendek (ceramah singkat, status media sosial) yang minim pendalaman;
  • Minimnya dukungan dana riset, pelatihan metodologi penulisan modern, serta akses penerbitan yang murah;
  • Generasi kiai muda lebih tertarik menjadi content creator instan ketimbang penulis kitab monumental.
“Ini darurat literasi. Jika tidak ada intervensi, satu generasi lagi kita hanya akan melihat kiai yang bisa membaca kitab, bukan yang bisa menulis kitab,” kata KH Zulfa, menegaskan kekhawatirannya.

Perbandingan Tradisi Menulis Kitab: Dulu vs Sekarang

AspekMasa Lalu (1900–1970)Saat Ini (2000–sekarang)
Rata-rata jumlah kitab baru/tahun dari ulama Indonesia50+Kurang dari 15
Distribusi geografisTersebar di banyak pesantren seluruh nusantaraTerpusat di Jawa, minim eksposur nasional
Platform penulisanManuskrip dan cetak tradisionalDigital, tetapi minim konten kitab mendalam
Keterlibatan kiai mudaTinggi (banyak yang menulis sejak usia 30-an)Rendah (lebih fokus konten ceramah pendek)

Strategi Konkret yang Diusung PBNU

Untuk menjawab kondisi darurat ini, KH Zulfa Mustofa merinci lima langkah yang akan diusung dalam Muktamar NU dan diharapkan menjadi gerakan nasional:

  • Kompetisi menulis kitab nasional bagi kiai muda dengan hadiah publikasi dan pendanaan riset;
  • Pembentukan pusat penulisan kitab di pesantren-pesantren besar sebagai inkubator karya, dilengkapi perpustakaan dan fasilitas riset;
  • Kolaborasi dengan kampus Islam untuk mengintegrasikan penulisan kitab dalam kurikulum akademik;
  • Digitalisasi manuskrip dan arsip ulama agar bisa diakses sebagai inspirasi sekaligus sumber data primer;
  • Insentif tunjangan riset bagi akademisi dan kiai yang produktif menulis, sehingga aktivitas menulis tidak hanya dianggap sebagai kerja sampingan.
“Kita dorong agar setiap kiai besar punya target menulis minimal satu kitab seumur hidupnya. Itu minimum. Dengan strategi ini, kami targetkan 30 kitab baru lahir dalam dua tahun pertama pasca-Muktamar,” ujarnya optimistis.

Respons Kalangan Pesantren dan Akademisi

Kalangan pesantren menyambut positif inisiatif ini. KH Ahmad Muwafiq, pengasuh pesantren di Yogyakarta, menyebutnya sebagai “obat rindu tradisi ilmiah pesantren yang hampir punah.” Namun ia menekankan perlunya pelatihan metodologi penulisan modern agar kitab-kitab baru tetap relevan dengan konteks kekinian tanpa kehilangan kedalaman. Sementara itu, Gus Najih dari Situbondo menyoroti aspek penerbitan. “Tanpa jalur penerbitan yang murah dan luas, kitab hanya akan menjadi koleksi pribadi di lemari kiai. Harus ada ekosistem yang lengkap,” ungkapnya.

KH Zulfa Mustofa menutup dengan harapan besar bahwa Muktamar NU menjadi momentum kebangkitan intelektual umat. “Ini bukan wacana. Kita akan buat peta jalan yang jelas. Tradisi menulis adalah jejak tinta yang abadi. Jika kita diam, sejarah yang akan mencatat kita sebagai generasi yang kehilangan suara.”

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User