KH Zulfa Mustofa: Tradisi Menulis Kitab Harus Bangkit Kembali
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Zulfa Mustofa mengajak para ulama, kiai, akademisi, dan kalangan pesan
Jelang panggung besar Muktamar Nahdlatul Ulama, Wakil Ketua Umum PBNU KH Zulfa Mustofa melontarkan seruan tajam: kebangkitan tradisi menulis kitab tak bisa ditunda lagi. “Kita kehilangan momentum intelektual jika ulama hanya mengkonsumsi, bukan memproduksi karya tulis. Tradisi menulis adalah roh keilmuan pesantren,” tegasnya di Jakarta. Ajakan ini menjadi sinyal bahwa agenda literasi akan menjadi salah satu prioritas dalam rekomendasi strategis organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut.
Bagi KH Zulfa, menulis kitab bukan sekadar aktivitas akademik. Ia adalah pilar peradaban Islam Nusantara yang terbukti melahirkan ulama-ulama besar seperti Syekh Nawawi al-Bantani dengan puluhan karya fiqih dan tasawuf, serta KH Hasyim Asy’ari yang kitab-kitabnya masih dikaji di ribuan pesantren. Jika tradisi ini mati, komunitas pesantren akan kehilangan otoritas intelektual dan hanya menjadi konsumen pemikiran luar. “Kita tidak boleh hanya bangga dengan warisan masa lalu, tapi harus menciptakan warisan baru untuk generasi mendatang,” tambahnya.
Tantangan yang Menggerus Tradisi Menulis Kitab
Produktivitas kitab orisinal dari ulama Indonesia merosot drastis. Berdasarkan catatan internal PBNU, dalam satu dekade terakhir, jumlah kitab baru yang ditulis oleh kiai produktif hanya berkisar kurang dari 15 judul per tahun. Angka ini sangat kontras dengan era keemasan 1900–1970 yang rata-rata melahirkan lebih dari 50 kitab per tahun. Beberapa faktor utama yang diidentifikasi:
- Beban administratif dan dakwah yang menyita waktu ulama senior;
- Pergeseran ke konten digital pendek (ceramah singkat, status media sosial) yang minim pendalaman;
- Minimnya dukungan dana riset, pelatihan metodologi penulisan modern, serta akses penerbitan yang murah;
- Generasi kiai muda lebih tertarik menjadi content creator instan ketimbang penulis kitab monumental.
Perbandingan Tradisi Menulis Kitab: Dulu vs Sekarang
| Aspek | Masa Lalu (1900–1970) | Saat Ini (2000–sekarang) |
|---|---|---|
| Rata-rata jumlah kitab baru/tahun dari ulama Indonesia | 50+ | Kurang dari 15 |
| Distribusi geografis | Tersebar di banyak pesantren seluruh nusantara | Terpusat di Jawa, minim eksposur nasional |
| Platform penulisan | Manuskrip dan cetak tradisional | Digital, tetapi minim konten kitab mendalam |
| Keterlibatan kiai muda | Tinggi (banyak yang menulis sejak usia 30-an) | Rendah (lebih fokus konten ceramah pendek) |
Strategi Konkret yang Diusung PBNU
Untuk menjawab kondisi darurat ini, KH Zulfa Mustofa merinci lima langkah yang akan diusung dalam Muktamar NU dan diharapkan menjadi gerakan nasional:
- Kompetisi menulis kitab nasional bagi kiai muda dengan hadiah publikasi dan pendanaan riset;
- Pembentukan pusat penulisan kitab di pesantren-pesantren besar sebagai inkubator karya, dilengkapi perpustakaan dan fasilitas riset;
- Kolaborasi dengan kampus Islam untuk mengintegrasikan penulisan kitab dalam kurikulum akademik;
- Digitalisasi manuskrip dan arsip ulama agar bisa diakses sebagai inspirasi sekaligus sumber data primer;
- Insentif tunjangan riset bagi akademisi dan kiai yang produktif menulis, sehingga aktivitas menulis tidak hanya dianggap sebagai kerja sampingan.
Respons Kalangan Pesantren dan Akademisi
Kalangan pesantren menyambut positif inisiatif ini. KH Ahmad Muwafiq, pengasuh pesantren di Yogyakarta, menyebutnya sebagai “obat rindu tradisi ilmiah pesantren yang hampir punah.” Namun ia menekankan perlunya pelatihan metodologi penulisan modern agar kitab-kitab baru tetap relevan dengan konteks kekinian tanpa kehilangan kedalaman. Sementara itu, Gus Najih dari Situbondo menyoroti aspek penerbitan. “Tanpa jalur penerbitan yang murah dan luas, kitab hanya akan menjadi koleksi pribadi di lemari kiai. Harus ada ekosistem yang lengkap,” ungkapnya.
KH Zulfa Mustofa menutup dengan harapan besar bahwa Muktamar NU menjadi momentum kebangkitan intelektual umat. “Ini bukan wacana. Kita akan buat peta jalan yang jelas. Tradisi menulis adalah jejak tinta yang abadi. Jika kita diam, sejarah yang akan mencatat kita sebagai generasi yang kehilangan suara.”
Comments (0)