Meteor Hijau Melintas di Langit Yogyakarta, Ini Faktanya
UPDATE MINGGU DINI HARI — Sebuah fenomena langit mengejutkan warga Yogyakarta dan sekitarnya pada Sabtu malam (11/7/2026). Rekaman CCTV yang tersebar di media sosial menunjukkan sebuah kilatan cahay...
UPDATE MINGGU DINI HARI — Sebuah fenomena langit mengejutkan warga Yogyakarta dan sekitarnya pada Sabtu malam (11/7/2026). Rekaman CCTV yang tersebar di media sosial menunjukkan sebuah kilatan cahaya hijau terang meluncur cepat di angkasa, memicu tanya-tanya apakah itu benda jatuh, satelit, atau meteor.
Kepastian akhirnya datang. Muhammad Rayhan, Edukator Astronomi dari Planetarium dan Observatorium Jakarta, memastikan bahwa objek tersebut adalah meteor. “Saya dari pengalaman hunting dan memotret meteor, ciri-cirinya identik,” ujar Rayhan dalam keterangannya, Minggu (12/7).
Fenomena ini viral setelah akun Instagram @irfan.setiaji mengunggah rekaman CCTV yang memperlihatkan jelas lintasan hijau melesat di atas permukiman. Selain Yogyakarta, sejumlah wilayah seperti Klaten, Solo, dan Magelang juga melaporkan penampakan serupa. Warga di berbagai lokasi mengunggah video yang memperlihatkan lintasan hijau membelah langit malam.
Bukan Satelit, Bukan Pesawat
Rayhan mengungkapkan sejumlah karakteristik yang membedakan meteor dengan benda terbang lainnya. Meteor bergerak lebih cepat, muncul tiba-tiba dari titik kecil di langit lalu membesar, dan sepanjang lintasannya sering terjadi ledakan kecil yang acak. Hal itu terlihat jelas dalam video amatir warga.
“Sepanjang dia jatuh, akan ada banyak ledakan random. Itu fenomena ledakan dari material meteor yang terpapar panas dan tekanan udara tinggi,” jelasnya. Ledakan tersebut menghasilkan gelombang suara, sehingga sebagian warga mendengar dentuman.
Warna Hijau dari Logam
Sorotan utama fenomena kali ini adalah warna hijau menyala yang sangat khas. Rayhan menjelaskan bahwa warna itu berasal dari kandungan logam, khususnya magnesium dan nikel, yang terbakar saat meteor memasuki atmosfer. Meteor dengan tipe siderit (kaya besi dan logam) memang menghasilkan nyala kebiruan hingga kehijauan.
“Biasanya meteor tipe siderit yang berwarna hijau. Material magnesium dan nikel membuat bakaran warnanya seperti itu,” tambahnya.
Fakta Cepat: Meteor vs Benda Lain
- Kecepatan: Meteor bisa melaju 11-72 km/detik.
- Kemunculan: Dari titik kecil langsung membesar.
- Ledakan: Sering terjadi fragmentasi acak selama melintas.
- Warna: Hijau/kebiruan menandakan kandungan magnesium dan nikel.
- Suara: Dentuman akibat gelombang kejut ketika meledak di atmosfer.
Penjelasan Ilmiah di Balik Ledakan
Saat meteor memasuki atmosfer dengan kecepatan tinggi, gesekan dengan molekul udara menghasilkan panas ribuan derajat Celsius. Bagian luar meteor yang rapuh akan terkelupas dan terbakar, sementara tekanan di bagian dalamnya meningkat drastis. Perbedaan tekanan inilah yang memicu ledakan sporadis. Rayhan menambahkan, gelombang kejut dari ledakan tersebut bisa terdengar sebagai dentuman, meski jaraknya puluhan kilometer.
Tidak Perlu Panik
Meski tontonan langit ini mengundang decak kagum sekaligus kekhawatiran, Rayhan menenangkan. Setiap hari, Bumi dihujani sekitar 50 ton debu dan material meteor. Namun, mayoritas habis terbakar sebelum menyentuh tanah. Meteor besar seperti yang terlihat tadi malam termasuk jarang, tetapi tidak berbahaya.
“Ini fenomena alam biasa. Meteor jatuh setiap hari, hanya tidak selalu terlihat. Masyarakat tidak perlu khawatir,” tegasnya.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) tidak mengeluarkan peringatan khusus. Meteor berukuran kecil hingga menengah seperti ini sudah menjadi bagian rutin dari hujan meteor tahunan. Masyarakat hanya diimbau untuk tidak menyebarkan informasi menyesatkan dan tetap tenang.
“Rata-rata meteor habis di ketinggian 80-100 km. Yang sampai ke permukaan sangat langka,” pungkas Rayhan. Hingga kini, belum ada laporan kerusakan atau jatuhan meteorit akibat peristiwa tersebut.
Baca juga:
Comments (0)