Lebih dari 1.300 Orang Tewas karena Gelombang Panas di Eropa

Berlin - Gelombang panas ekstrem yang melanda Eropa sejak pertengahan Juni telah memakan korban jiwa dalam jumlah besar. Berdasarkan laporan terbaru dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang dirilis

Jul 06, 2026 - 13:27
0 1
Lebih dari 1.300 Orang Tewas karena Gelombang Panas di Eropa

Berlin - Gelombang panas ekstrem yang melanda Eropa sejak pertengahan Juni telah memakan korban jiwa dalam jumlah besar. Berdasarkan laporan terbaru dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang dirilis hari ini, lebih dari 1.300 kematian berlebih tercatat sejak 21 Juni, saat suhu tinggi yang memecahkan rekor mulai menyelimuti benua itu. Kepala WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyatakan bahwa sekitar 150 juta orang saat ini hidup dalam kondisi panas yang sangat berbahaya. Gelombang panas ini tidak hanya merenggut nyawa, tetapi juga memicu rangkaian gangguan serius di berbagai sektor.

"Lebih dari 1.300 kematian berlebih telah tercatat sejak 21 Juni yang terkait dengan suhu tinggi di Eropa," ujar Tedros dalam pernyataan resminya yang dikutip media kami, tanpa merinci distribusi kematian per negara. Ia menekankan bahwa kelompok lanjut usia, anak-anak, dan mereka yang memiliki penyakit penyerta adalah yang paling rentan. Di berbagai kota, suhu melonjak hingga melampaui 40 derajat Celsius selama siang hari, dan bahkan malam hari hanya memberikan sedikit pendinginan karena efek "pulau panas perkotaan".

Dampak Sistemik dan Respons Darurat

Rekor suhu panas ini telah memaksa penutupan sekolah di beberapa wilayah untuk melindungi siswa dari risiko sengatan panas. Infrastruktur penting seperti jaringan listrik juga berada di bawah tekanan hebat karena lonjakan permintaan pendingin ruangan, yang di beberapa tempat mengakibatkan pemadaman bergilir. Di Italia, suhu maksimum harian di Sardinia dan Sisilia mencatat angka di atas 45 derajat Celsius, sementara di Spanyol, layanan darurat kewalahan menangani panggilan terkait masalah pernapasan dan dehidrasi. Yunani juga melaporkan peningkatan tajam kunjungan ke rumah sakit akibat gejala heatstroke, dan otoritas setempat menyiagakan pusat-pusat pendingin darurat di berbagai kota besar.

Perubahan Iklim sebagai Katalisator

Para ilmuwan iklim menghubungkan frekuensi dan intensitas gelombang panas ini dengan perubahan iklim yang disebabkan aktivitas manusia. Studi atribusi dari World Weather Attribution menunjukkan bahwa suhu ekstrem Juni-Juli di Eropa menjadi sekitar 2,5 hingga 4 derajat Celsius lebih tinggi dibandingkan rata-rata historis. Pola cuaca seperti ini diprediksi akan semakin sering terjadi kecuali ada pengurangan drastis emisi gas rumah kaca. Sementara itu, WHO mengimbau masyarakat untuk menghindari aktivitas di luar ruangan pada jam-jam puncak panas, menjaga hidrasi, dan secara aktif memeriksa kondisi tetangga atau kerabat yang rentan. Pemerintah di Eropa juga diminta mempercepat adaptasi kebijakan tata kota, seperti penambahan ruang hijau dan perbaikan insulasi bangunan, untuk mengurangi beban panas di masa depan.

Pantauan media kami dari berbagai ibu kota Eropa menunjukkan bahwa meskipun sejumlah wilayah mulai memasuki periode suhu yang lebih stabil, peringatan dini tetap diberlakukan di kawasan Mediterania. Evakuasi akibat kebakaran hutan yang dipicu panas juga terus berlangsung di beberapa tempat, menambah korban luka dan kerugian ekonomi. Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) menegaskan bahwa Eropa perlu bersiap menghadapi musim panas yang semakin panjang dan ekstrem di tahun-tahun mendatang, dan respons saat ini menjadi ajang uji kesiapan seluruh benua.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
irwan-setiawan

Editor Politik. Editor politik breaking dengan update cepat.

Comments (0)

User