Griya Handicraft Bantul Raup Ribuan Resi Pesanan Tiap Bulan

BANTUL — Selembar modal Rp350.000 melesat menjadi ribuan resi pengiriman setiap bulan. Itulah lompatan bisnis Griya Handicraft, usaha kerajinan rumahan mil

Jul 09, 2026 - 14:26
0 0
Griya Handicraft Bantul Raup Ribuan Resi Pesanan Tiap Bulan

BANTUL — Selembar modal Rp350.000 melesat menjadi ribuan resi pengiriman setiap bulan. Itulah lompatan bisnis Griya Handicraft, usaha kerajinan rumahan milik Slamet Riyadi di Imogiri, Bantul, yang kini menjadi pemasok produk kerajinan ke seluruh Indonesia melalui platform digital. Di tengah tekanan ekonomi lokal, Griya Handicraft membuktikan bahwa mikro bisnis bisa menembus skala nasional hanya dengan strategi digital yang tepat dan konsistensi produksi.

- Modal awal: Rp350.000 untuk bahan baku dan alat sederhana - Resi pengiriman: Ribuan pesanan terkirim setiap bulan - Lokasi produksi: Imogiri, Bantul, DI Yogyakarta - Tim produksi: 15 perajin lokal yang mayoritas ibu rumah tangga - Platform penjualan: Marketplace Shopee, Tokopedia, dan kanal media sosial

Awal Mula: Menjahit Peluang dari Keterbatasan

Perjalanan Slamet Riyadi dimulai dengan keterpaksaan. Pada 2019, ia kehilangan pekerjaan tetap sebagai tenaga administrasi di sebuah perusahaan distribusi. Dengan tabungan terakhir Rp350.000, ia memutuskan membuat kerajinan tangan berupa tas anyaman dari tali kur dan dompet etnik. Modal digunakan untuk membeli 50 meter tali kur, kain perca, dan satu set alat jahit sederhana.

  1. September 2019: Produksi perdana 10 buah tas anyaman. Pemasaran melalui story WhatsApp dan grup komunitas.
  2. Desember 2019: Pesanan pertama dari luar kota—3 tas ke Jakarta—menggunakan ekspedisi reguler.
  3. Maret 2020: Mendaftar di Shopee sebagai toko resmi dengan nama Griya Handicraft. Fokus pada foto produk natural dengan pencahayaan alami.
  4. Juni 2020: Mendapatkan order 50 pcs dalam sehari berkat kampanye gratis ongkir dan diskon toko baru.
  5. Desember 2020: Omset bulanan menembus Rp7 juta. Mulai merekrut dua tetangga untuk membantu produksi.
  6. 2021-2022: Diversifikasi produk ke tas makrame, dompet kulit sintetis, dan souvenir pernikahan. Toko mendapat rating 4.9 dan ribuan ulasan positif.
  7. 2023-sekarang: Rerata pengiriman 2.500–3.000 resi per bulan. Tim produksi berkembang menjadi 15 orang. Kapasitas produksi mencapai 150–200 unit per hari.

Strategi Digital yang Membalikkan Keadaan

Griya Handicraft tidak sekadar berjualan online. Slamet memanfaatkan live streaming setiap malam di platform orange selama 4 jam untuk memperlihatkan proses pembuatan dan menjawab pertanyaan pembeli secara real time. Interaksi langsung ini mendongkrak tingkat konversi hingga 22%. Selain itu, ia menerapkan sistem pre-order custom untuk model tertentu sehingga bisa mengatur arus kas dan mengurangi limbah produksi.

Slamet juga mendaftarkan produknya di program Ekspor Shopee pada awal 2024. Hasilnya, sejumlah pesanan mulai masuk dari Malaysia dan Singapura untuk produk tas etnik. Meski kontribusinya baru 5% dari total omzet, jalur ekspor membuka peluang baru yang sedang terus dimatangkan.

Dampak Sosial: Roda Ekonomi Lokal Berputar

Kini, 15 perajin yang mayoritas ibu rumah tangga di sekitar Imogiri mendapatkan penghasilan tambahan rata-rata Rp1,5–Rp2,5 juta per bulan. Sistem kerja fleksibel—bisa dikerjakan dari rumah—membuat mereka tetap bisa mengurus keluarga. Slamet juga menggandeng dua penyandang disabilitas yang bertugas di bagian quality control dan pengemasan. “Mereka teliti dan sabar. Barang yang sampai ke pembeli selalu dalam kondisi prima,” ujarnya.

Tantangan dan Rencana Skala Besar

Tidak selamanya mulus. Lonjakan bahan baku pada 2022 memaksa efisiensi tanpa menaikkan harga jual. Griya Handicraft kemudian bermitra langsung dengan pemasok tali kur dari Bandung dan kulit sintetis dari Sidoarjo untuk memangkas biaya distribusi. Rencana selanjutnya: membangun gudang baru berkapasitas 500 unit siap kirim dan merekrut 25 perajin tambahan pada akhir 2025. Slamet juga tengah mengajukan sertifikasi SNI agar produknya bisa menembus pasar ritel modern.

Dari sudut kecil Imogiri, Slamet Riyadi menegaskan bahwa modal tipis bukan alasan untuk menunda. “Yang penting mulai dulu, sisanya biar pembeli yang menentukan arah produk kita,” katanya. Griya Handicraft kini menjadi contoh konkret bagaimana digitalisasi menjembatani perajin desa dengan konsumen tanpa batas.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User