Kampung Tenggelam di Bendungan Karian Muncul Saat Kemarau
Fenomena Alam yang LangkaKemarau panjang yang melanda Kabupaten Lebak, Banten, mengungkap jejak masa lalu yang telah lama terendam. Permukaan air Bendungan Karian susut drastis, sehingga memunculkan k...
Fenomena Alam yang Langka
Kemarau panjang yang melanda Kabupaten Lebak, Banten, mengungkap jejak masa lalu yang telah lama terendam. Permukaan air Bendungan Karian susut drastis, sehingga memunculkan kembali sisa-sisa bangunan dari sebuah kampung yang tenggelam puluhan tahun lalu.
Diperkirakan, penurunan debit air mencapai 40% dari kapasitas normal. Fondasi rumah, pagar batu, bahkan jalanan kampung yang dulu menjadi denyut kehidupan kini terlihat jelas di atas lumpur kering. Fenomena ini langsung menjadi perbincangan warga sekitar.
Kampung yang muncul ini diketahui sebagai Kampung Cipicung, yang sengaja ditenggelamkan pada awal 1990-an saat proyek Bendungan Karian dimulai. Saat itu, lebih dari 300 kepala keluarga direlokasi ke pemukiman baru di dataran yang lebih tinggi.
Menurut catatan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cidanau-Ciujung-Cidurian, penurunan ini adalah yang terparah dalam lima tahun terakhir. “Ini siklus alamiah saat kemarau ekstrem,” ujar salah satu petugas pemantau.
Nostalgia dan Jejak Sejarah
Bagi penduduk asli yang direlokasi, pemandangan ini membangkitkan kenangan mendalam. Mereka berduyun-duyun datang ke tepi waduk untuk melihat langsung kampung halaman yang dulu ramai.
“Saya masih ingat betul letak rumah nenek saya persis di dekat pohon besar itu,” tutur Rahman (62), mantan warga Kampung Cipicung yang kini tinggal di Desa Bojong. “Sedih dan senang campur aduk. Ini seperti mimpi.”
Beberapa warga bahkan masih bisa menunjukkan bekas sumur, lantai rumah, dan batas-batas pekarangan. Mereka saling berbagi cerita tentang masa kecil di kampung yang kini menjadi “pulau kenangan” di tengah bendungan.
Dampak dan Imbauan Resmi
Pemerintah Kabupaten Lebak melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menyatakan situasi dalam pantauan. Meski pemandangan ini menarik, warga diimbau untuk tidak terlalu mendekat karena struktur bangunan lama dikhawatirkan rapuh dan berpotensi ambruk.
“Kami sudah memasang garis batas aman di beberapa titik,” kata Kepala Pelaksana BPBD Lebak. Pihaknya juga mengingatkan potensi kebakaran lahan akibat panas ekstrem yang mengeringkan semak di sekitar bendungan.
Kondisi kering ekstrem juga memicu kekhawatiran akan kebakaran lahan. Tim Reaksi Cepat BPBD telah disiagakan di beberapa titik rawan di sekitar bendungan.
Sementara itu, fenomena ini juga menjadi berkah bagi fotografer dan peneliti yang mengabadikan momen langka tersebut. Sejumlah dokumentasi dari udara menunjukkan pola-pola geometris kampung yang kini terkuak seperti peta hidup.
Di dunia maya, foto dan video kampung tenggelam ini viral, menuai beragam komentar dari warganet. Banyak yang merasa takjub sekaligus prihatin dengan jejak sejarah yang kembali terungkap.
Kondisi Terbaru dan Perhatian Ekologis
Bendungan Karian yang berfungsi sebagai penyedia air baku bagi ribuan hektar sawah dan kebutuhan domestik masih terus beroperasi, meski dengan kapasitas terbatas. “Kami pastikan suplai air untuk irigasi tetap terpenuhi meski dengan pengaturan ketat,” ujar Humas Perum Jasa Tirta II.
Sementara itu, pakar hidrologi dari Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Dr. Hadi Susanto, mengingatkan dampak penurunan muka air yang ekstrem terhadap ekosistem waduk. “Kondisi ini bisa mengurangi oksigen terlarut dan memicu kematian massal ikan,” jelasnya. Pihaknya menyarankan pemantauan ketat kualitas air selama kemarau berlangsung.
Fenomena kampung tenggelam yang muncul ini diperkirakan akan kembali hilang saat musim hujan tiba akhir tahun. Warga pun memanfaatkan waktu singkat ini untuk berziarah dan merekam sejarah yang terbenam.
Comments (0)