Warga Indonesia di Australia Tak Menyangka Harga Visa Naik Drastis

Sejumlah warga negara Indonesia yang bermukim di Australia, khususnya para pemegang status penduduk tetap (permanent resident/PR), dikejutkan oleh lonjakan biaya pengurusan visa yang terjadi baru-bar

Jul 08, 2026 - 04:38
0 0
Warga Indonesia di Australia Tak Menyangka Harga Visa Naik Drastis

Sejumlah warga negara Indonesia yang bermukim di Australia, khususnya para pemegang status penduduk tetap (permanent resident/PR), dikejutkan oleh lonjakan biaya pengurusan visa yang terjadi baru-baru ini. Salah satunya adalah Ria Hariati, seorang perempuan Indonesia yang menetap di Sydney. Ia tak kuasa menyembunyikan rasa terkejutnya ketika mengetahui bahwa biaya perpanjangan Resident Return Visa (RRV)—visa yang wajib dimiliki PR agar tetap dapat bepergian keluar-masuk Australia—melonjak hingga tiga kali lipat dari tarif sebelumnya.

Ria menuturkan bahwa kenaikan ini sangat signifikan dan terasa memberatkan, terutama bagi mereka yang telah lama menetap dan menggantungkan kehidupan di Australia. “Kenaikannya itu enggak main-main, maksudnya tiga kali lipat,” ungkapnya dalam sebuah perbincangan, seperti dihimpun oleh media kami. Meski demikian, Ria dan keluarganya memahami bahwa kebijakan tersebut merupakan hak prerogatif pemerintah Australia yang harus dipatuhi oleh setiap pemegang visa.

“Tapi bagaimana pun kita harus mematuhi kebijakan Australia … meski agak berat sih buat kita,” tambahnya, mencerminkan dilema yang kini dihadapi banyak WNI di Negeri Kanguru.

Kenaikan drastis ini bukan hanya menimpa RRV, melainkan juga sejumlah jenis visa lainnya yang banyak digunakan oleh warga asing, termasuk pelajar dan pekerja. Pemerintah Australia menyebut kebijakan ini sebagai bagian dari strategi untuk menutup biaya administrasi yang terus meningkat serta mengelola arus migrasi secara lebih selektif. Namun, bagi komunitas Indonesia yang mayoritas adalah pekerja profesional, pelaku usaha kecil, dan pelajar, lonjakan biaya tersebut menjadi pukulan finansial tersendiri. Banyak di antara mereka yang kini harus merogoh kocek lebih dalam untuk sekadar mempertahankan status tinggal yang telah mereka bangun selama bertahun-tahun.

Laporan dari media kami juga mencatat bahwa sejumlah WNI di kota-kota besar seperti Melbourne, Brisbane, dan Perth mulai mengeluhkan dampak kebijakan ini. Beberapa di antaranya terpaksa menunda perpanjangan visa atau bahkan mempertimbangkan kembali rencana jangka panjang mereka di Australia. “Kami sudah seperti keluarga sendiri di sini, anak-anak sekolah, kerja juga di sini, tapi tiba-tiba biaya urus visa naik begini,” ujar seorang WNI di Melbourne yang enggan disebutkan namanya.

Di tengah tekanan ekonomi global yang belum sepenuhnya pulih, kenaikan biaya visa ini menambah beban tersendiri bagi para diaspora Indonesia. Selain biaya visa, mereka juga harus menghadapi biaya hidup yang terus merangkak naik di kota-kota besar Australia. Kendati demikian, banyak yang tetap bertekad untuk menyesuaikan diri dan mematuhi aturan yang berlaku, sembari berharap ada ruang dialog antara pemerintah Australia dan komunitas pendatang agar kebijakan serupa di masa depan tidak semakin membebani.

Situasi ini menjadi pengingat bahwa dinamika kebijakan imigrasi dapat berubah sewaktu-waktu, dan warga negara asing harus selalu siap menghadapi konsekuensi administrasi dan finansial yang menyertainya. Bagi Ria dan ribuan WNI lainnya di Australia, pilihan saat ini adalah bertahan, sembari berharap kontribusi mereka sebagai bagian dari masyarakat Australia tetap dihargai di tengah ketatnya aturan baru yang terus bergulir.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
lina-marlina

Fact Checker. Memverifikasi klaim viral secara cepat dan akurat.

Comments (0)

User