Wagub Jabar Serukan Perang Lawan LGBT, ASN Terlibat Akan Disanksi
Bandung – Wakil Gubernur Jawa Barat Erwan Setiawan baru saja melontarkan pernyataan tegas yang langsung mengejutkan publik. Dalam sebuah pertemuan terbatas bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (...
Bandung – Wakil Gubernur Jawa Barat Erwan Setiawan baru saja melontarkan pernyataan tegas yang langsung mengejutkan publik. Dalam sebuah pertemuan terbatas bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), ia secara terbuka menyatakan perang terhadap keberadaan komunitas lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) di seluruh wilayah provinsi. “Kita perangi LGBT di Jabar,” ucapnya dengan nada tinggi, mengisyaratkan langkah serius yang akan segera diambil.
Komitmen Tanpa Kompromi
Erwan menegaskan bahwa tindakan pencegahan dan penindakan akan dilakukan secara masif. Ia menyebut bahwa keberadaan LGBT dinilai bertentangan dengan nilai-nilai agama dan sosial budaya yang dijunjung tinggi masyarakat Jawa Barat. “Tidak ada ruang sedikit pun bagi gerakan ini,” tambahnya. Forkopimda yang terdiri dari Kepolisian Daerah, Kodam III/Siliwangi, Kejaksaan Tinggi, hingga unsur pemerintah daerah akan langsung memperkuat pengawasan di level kecamatan dan desa. Operasi gabungan secara berkala akan digelar untuk mendeteksi aktivitas yang dicurigai sebagai ajang perkumpulan komunitas tersebut.
Fokus pada Aparatur Sipil Negara
Salah satu poin paling tajam disampaikan terkait Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Erwan menginstruksikan Badan Kepegawaian Daerah untuk segera melakukan pendataan dan pemantauan terhadap seluruh pegawai. “ASN yang terbukti terlibat akan kami kenakan sanksi hukum sesuai peraturan yang berlaku,” tegasnya. Sanksi tersebut mencakup mulai dari pembinaan khusus, penurunan pangkat, hingga pemberhentian tidak dengan hormat, bergantung pada tingkat pelanggarannya. Ia juga mengimbau agar masyarakat aktif melaporkan jika menemukan oknum pegawai negeri yang terlibat.
Reaksi dan Langkah Selanjutnya
Meski belum ada data resmi terkait jumlah kasus, Erwan mengklaim bahwa laporan masuk dari tokoh masyarakat dan ulama menunjukkan peningkatan kekhawatiran. Pertemuan selanjutnya dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan organisasi kepemudaan akan dijadwalkan untuk menyusun program edukasi keluarga. “Ini bukan soal diskriminasi, tapi melindungi generasi dari pengaruh yang merusak,” pungkasnya. Sementara itu, jajaran kepolisian menyatakan siap mendukung langkah preventif sesuai kewenangan, sepanjang tidak melanggar hak asasi manusia secara sewenang-wenang.
Baca juga:
Comments (0)