Tangis Ibu Sahri Sobirin Pecah di Hadapan Komisi III DPR
JAKARTA — Suasana haru sekaligus tegang menyelimuti ruang rapat Komisi III DPR RI, Senin siang. Tangis histeris ibunda almarhum Sahri Sobirin, santri asal Banyuwangi yang tewas secara tragis, mendad...
JAKARTA — Suasana haru sekaligus tegang menyelimuti ruang rapat Komisi III DPR RI, Senin siang. Tangis histeris ibunda almarhum Sahri Sobirin, santri asal Banyuwangi yang tewas secara tragis, mendadak pecah ketika salah satu anggota dewan memintanya menyampaikan kronologi terakhir sang anak.
Peristiwa emosional itu terjadi dalam audiensi tertutup yang digelar untuk mendalami kasus kematian Sahri. Sang ibu, yang sejak awal hadir dengan wajah sembab, beberapa kali mencoba mengumpulkan kekuatan, namun suaranya langsung tercekat begitu mikrofon diarahkan kepadanya.
Detik-Detik Penuh Isak Tangis
Menurut saksi mata di lokasi, ibu Sahri awalnya duduk tenang di samping kuasa hukum keluarga. Namun saat Anggota Komisi III dari Fraksi PDIP menanyakan langsung kondisi terakhir putranya, tubuhnya bergetar hebat. Isak tangisnya memenuhi ruangan, membuat sejumlah peserta audiensi ikut menunduk dan menyeka air mata.
“Beliau hanya bisa menyebut nama anaknya berulang kali sambil menangis. Suasana benar-benar sunyi, hanya suara tangisan ibu yang terdengar,” ujar seorang staf dewan yang berada di dalam ruangan.
- Keluarga menuntut keadilan atas kematian Sahri yang diduga tidak wajar.
- Komisi III berjanji memanggil pihak kepolisian dan pondok pesantren terkait.
- Audiensi berlangsung sekitar dua jam dengan pengamanan ketat.
Kronologi yang Menghancurkan Hati
Setelah beberapa saat, sang ibu yang didampingi pendamping psikolog akhirnya mampu mengungkapkan kesaksiannya dengan suara lirih. Ia menceritakan kali terakhir melihat Sahri dalam kondisi sehat sebelum anaknya dikabarkan meninggal di pondok pesantren. Detil pengakuan ini membuat para anggota dewan beberapa kali menghela napas berat.
Ketua rombongan Komisi III yang memimpin audiensi menyampaikan empati mendalam seraya menegaskan bahwa lembaganya akan mengawal kasus ini hingga tuntas. “Kami pastikan tidak ada yang disembunyikan. Ini soal nyawa seorang santri, anak bangsa yang memiliki cita-cita,” ucapnya di hadapan keluarga.
Pihak keluarga melalui kuasa hukum juga menyerahkan sejumlah bukti dokumen dan rekaman komunikasi yang diduga terkait kejadian. Berkas tersebut langsung diamankan oleh sekretariat komisi untuk ditelaah lebih lanjut pada rapat internal.
Komisi III Siap Panggil Pihak Terkait
Usai mendengarkan langsung kesaksian mengguncang dari sang ibu, Komisi III bergerak cepat. Dalam konferensi pers singkat seusai audiensi, perwakilan dewan mengumumkan akan melayangkan panggilan resmi kepada Kapolda setempat, pimpinan pondok pesantren, serta saksi kunci lainnya paling lambat pekan ini.
“Tadi kami menyaksikan sendiri bagaimana hancurnya hati seorang ibu. Ini menjadi cambuk bagi kami untuk tidak menunda-nunda lagi. Kasus ini harus terang benderang,” tegas salah satu anggota dewan.
Di sisi lain, keluarga berharap pertemuan ini menjadi titik balik. Mereka meminta agar proses hukum berjalan objektif tanpa tekanan dari pihak manapun. Dukungan dari berbagai elemen masyarakat sipil juga mulai mengalir deras, terutama dari jaringan alumni santri yang solid memberikan dukungan moril.
Hingga berita ini diturunkan, suasana di sekitar gedung DPR masih dipenuhi massa pendamping keluarga yang menggelar doa bersama. Mereka menuntut agar keadilan segera ditegakkan dan nasib serupa tidak lagi menimpa santri lain di masa depan.
Baca juga:
Comments (0)