Setelah 25 Tahun Gelap, BAZNAS Alirkan Listrik ke Indramayu
BARU SAJA — Di pelosok Indramayu, Jawa Barat, sebuah pemandangan langka terjadi. Malam yang biasanya gulita kini terang benderang. Bukan dari jaringan PLN, melainkan dari panel surya. BAZNAS RI baru...
BARU SAJA — Di pelosok Indramayu, Jawa Barat, sebuah pemandangan langka terjadi. Malam yang biasanya gulita kini terang benderang. Bukan dari jaringan PLN, melainkan dari panel surya. BAZNAS RI baru saja meresmikan Program Rumah Terang, mengakhiri penantian seperempat abad warga tanpa listrik.
Sebanyak 452 kepala keluarga (KK) tersebar di beberapa desa terpencil menjadi saksi sejarah. Mereka yang dulu bergantung pada lampu teplok dan lilin, kini bisa menyalakan lampu LED hanya dengan satu sentuhan saklar. Perubahan ini bukan sekadar terang, melainkan lompatan peradaban.
Energi Surya Jawab Kegelapan
Program ini mengusung teknologi panel surya off-grid. Setiap rumah menerima satu unit panel lengkap dengan baterai penyimpanan. Kapasitasnya cukup untuk menyalakan tiga titik lampu dan mengisi daya ponsel. Pemasangan dilakukan oleh tim teknis BAZNAS bersama relawan lokal dalam waktu singkat.
Fakta kunci distribusi:
- Jumlah penerima: 452 KK
- Lokasi: Desa-desa di Kabupaten Indramayu
- Durasi tanpa listrik: ±25 tahun
- Sumber energi: Panel surya monocrystalline 100 Wp
- Otonomi baterai: 6–8 jam penerangan malam hari
Sebelumnya, anak-anak harus belajar dengan sinar remang-remang. Kini, mereka bisa membaca buku tanpa khawatir mata rusak. Usaha kecil seperti warung dan kerajinan tangan pun bisa beroperasi lebih malam, membuka peluang pendapatan tambahan.
Dampak Sosial yang Terukur
Salah satu penerima manfaat, Sariyah (45), tak kuasa menahan air mata. “Malam pertama pakai lampu ini, anak saya langsung bilang, ‘Bu, kita seperti orang kota.’ Saya hanya bisa bersyukur,” ungkapnya. Cerita serupa mengalir dari banyak keluarga. Akses listrik juga memudahkan mereka mengisi pulsa dan baterai tanpa harus berjalan kilometer ke desa tetangga.
Perubahan paling signifikan terlihat pada sektor pendidikan. Seorang guru SD setempat melaporkan, tingkat kehadiran siswa naik karena mereka tak lagi kelelahan membantu orang tua mencari kayu bakar untuk penerangan. “Sekarang mereka punya waktu belajar malam yang lebih baik,” katanya.
Dari Zakat ke Listrik, Ini Baru Awal
Program Rumah Terang merupakan terobosan penyaluran dana zakat, infak, dan sedekah ke sektor energi terbarukan. BAZNAS menegaskan, ini bukan proyek sementara. Mereka menargetkan 1.000 KK tambahan di wilayah terpencil lain sepanjang tahun ini. “Energi adalah kunci kemandirian. Jika satu desa teraliri listrik, efek domino ekonominya sangat besar,” ujar pimpinan BAZNAS di sela peresmian.
Selain pemasangan fisik, BAZNAS juga memberikan pelatihan perawatan panel kepada warga. Dua orang dari setiap dusun dilatih sebagai teknisi dadakan agar sistem tetap berfungsi optimal. Pendekatan ini memastikan keberlanjutan program, tidak sekadar seremonial.
Program ini sekaligus menjadi jawaban atas kemiskinan energi yang masih menghantui 0,4 persen rumah tangga di Indonesia. Indramayu kini bukan lagi titik gelap di peta kelistrikan nasional. Satu per satu rumah menyala, dan bersama cahaya itu, harapan baru mulai tumbuh.
Comments (0)