Pengeroyokan Pencuri Ayam Tewaskan Tulang Punggung Keluarga Miskin
BARU SAJA — Seorang pria berinisial KD tewas dikeroyok massa pada Jumat (24/7) dini hari di Desa Batunya, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, Bali. Tragedi yang diduga dipicu tuduhan pencurian ay...
BARU SAJA — Seorang pria berinisial KD tewas dikeroyok massa pada Jumat (24/7) dini hari di Desa Batunya, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, Bali. Tragedi yang diduga dipicu tuduhan pencurian ayam itu langsung memutus harapan hidup seorang istri dan tiga anak yang kini dalam himpitan ekonomi.
Perbekel Desa Sidatapa, Kecamatan Banjar, Buleleng, I Made Sutama, mengonfirmasi bahwa korban adalah warganya. Jarak lokasi kejadian dengan rumah korban mencapai tiga jam perjalanan darat. Sutama bahkan harus menjemput sendiri jenazah KD dan menyaksikan langsung kepedihan keluarga.
"Ketika saya tiba di rumah, anaknya menangis tersedu-sedu. Aduh, luar biasa sedih saya," ungkap Sutama, dikutip pada Senin (27/7).
FAKTA KUNCI
- Korban: KD, warga miskin Desa Sidatapa, Buleleng, tulang punggung keluarga.
- Kronologi: Dikeroyok massal dini hari Jumat (24/7) setelah dituduh mencuri ayam di Tabanan.
- Keluarga: Meninggalkan istri Putu Dewi Suryantini (35) dan tiga anak: dua duduk di kelas 1 SMA, satu di kelas 1 SD.
- Kondisi Ekonomi: Istri bekerja serabutan sebagai penganyam tradisional; pendapatan sangat minim.
- Respons Cepat: Dinas Sosial PPPA Buleleng salurkan Bantuan Pangan Non-Tunai (BPNT) dan dorong beasiswa untuk anak SMA.
Kepala Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (Dinsos PPPA) Kabupaten Buleleng, I Putu Kariaman Putra, menegaskan pihaknya bergerak cepat begitu informasi tragedi sampai. Selain menyalurkan bansos pangan, timnya langsung bertemu keluarga dan membuka peluang agar anak sulung KD bisa meneruskan pendidikan di SMK tanpa terbentur biaya.
"Kami sudah memberi informasi, peluang, dan dorongan agar anaknya yang SMK bisa bersekolah tanpa khawatir putus," jelas Kariaman.
Kondisi keluarga KD memang tergolong rumah tangga miskin. Sehari-hari, Putu Dewi hanya mengandalkan hasil anyaman tradisional yang tak menentu. Sepeninggal KD, beban berat otomatis jatuh ke pundaknya sendiri. Anak-anak terancam kehilangan akses pendidikan jika tidak segera ditopang bantuan.
Kecam Aksi Main Hakim Sendiri
Sutama dan Kariaman kompak mengecam tindakan pengeroyokan yang berujung maut tersebut. Menurut Sutama, sebesar apa pun persoalan pencurian, mekanisme hukum adalah satu-satunya jalan. Aksi massa hanya menambah daftar keluarga hancur.
"Kalau semua orang berpikir main hakim sendiri, banyak nyawa melayang cuma gara-gara masalah sepele. Harapan saya, mudah-mudahan tidak ada lagi korban seperti ini—pencurian ayam menghilangkan nyawa orang," tegas Sutama.
Hingga berita ini diturunkan, pihak kepolisian masih mendalami identitas para pelaku pengeroyokan. Sementara itu, pemerintah desa bersama Dinsos PPPA terus melakukan pendampingan psikososial bagi istri dan anak-anak KD agar trauma tidak semakin melumpuhkan masa depan mereka.
UPDATE: Tim Dinsos berjanji akan mengawal bantuan berkelanjutan, termasuk memastikan akses pendidikan untuk dua anak usia sekolah. "Kami tidak ingin anak-anak ini putus sekolah hanya karena tulang punggung keluarga tiada," pungkas Kariaman.
Comments (0)