Miris! SD Negeri di Banyumas Hanya Terima 3 Siswa Baru
BARU SAJA — Hening mencekam menyelimuti halaman SD Negeri 8 Kranji, Purwokerto Timur, Kabupaten Banyumas, Senin pagi (13/7). Hanya tiga anak yang melangkahkan kaki masuk gerbang pada hari pertama ta...
BARU SAJA — Hening mencekam menyelimuti halaman SD Negeri 8 Kranji, Purwokerto Timur, Kabupaten Banyumas, Senin pagi (13/7). Hanya tiga anak yang melangkahkan kaki masuk gerbang pada hari pertama tahun ajaran 2025/2026. Jumlah itu anjlok dan memecahkan rekor keterisian terendah sepanjang sejarah sekolah.
Kondisi Lapangan
Ruang kelas yang semestinya dipenuhi tawa dan celoteh puluhan siswa justru terasa kosong. Empat ruangan utama tampak lengang; hanya satu kelas yang dibuka untuk tingkat pertama. Guru yang bertugas berusaha membangun semangat, tetapi bayang-bayang kekhawatiran jelas tergurat di wajah mereka. Belum pernah sebelumnya SDN 8 Kranji menerima siswa baru sebanyak ini. Tahun lalu, setidaknya 17 anak mendaftar, dan masih dianggap kritis. Kini angka tiga adalah pukulan telak.
- Hanya 3 siswa baru terdaftar dari total 120 kapasitas.
- Pendaftar tahun lalu 17 anak; penurunan lebih dari 82%.
- Sekolah memiliki 6 ruang kelas, tapi satu pun tidak penuh.
- Lima guru tetap harus berbagi tugas mengajar total 45 siswa dari seluruh tingkatan.
Penyebab Anjloknya Minat
Kepala sekolah yang tidak bersedia disebutkan namanya mengonfirmasi sejumlah faktor. Migrasi warga ke kawasan perumahan baru di sisi utara Purwokerto menjadi penyebab utama. Banyak keluarga muda pindah karena akses pekerjaan dan perumahan yang lebih terjangkau. Akibatnya, populasi usia sekolah di sekitar Kranji menyusut drastis.
Di sisi lain, keberadaan dua SD negeri dan satu swasta dalam radius kurang dari satu kilometer membuat persaingan semakin timpang. Orang tua cenderung memilih sekolah yang dianggap lebih mapan, memiliki prestasi akademik lebih tinggi, atau fasilitas ekstrakurikuler lengkap. SDN 8 Kranji yang minim kegiatan pengembangan diri semakin tertinggal.
Tak hanya itu, isu bangunan tua yang belum direnovasi total ikut mempengaruhi persepsi masyarakat. Beberapa wali murid dalam wawancara informal mengaku khawatir soal keamanan struktur gedung yang dibangun sejak 1980-an. Padahal, Dinas Pendidikan setempat sudah memberikan sertifikat laik fungsi pada 2024.
Respons Cepat Pemerintah
Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas melalui Kepala Bidang Pembinaan SD, Slamet Riyadi, menyatakan pihaknya tak akan melakukan penggabungan sekolah dalam waktu dekat. "Kami masih evaluasi. Regrouping adalah opsi terakhir karena bisa memutus ikatan emosional warga dengan sekolah ini," ujarnya saat dihubungi, Senin sore.
Rencana jangka pendek yang disiapkan meliputi program percepatan digitalisasi kelas dan penambahan ekstrakurikuler robotik serta sains. Anggaran Rp200 juta sudah diusulkan untuk renovasi ringan dan pemasangan panel surya guna menekan biaya operasional. Pemerintah juga akan menggandeng komunitas lokal untuk menggelar bazar pendidikan dan menarik minat warga pendatang.
Harapan di Tengah Krisis
Meski pahit, warga dan tenaga pendidik menolak menyerah. Salah satu guru senior, Prayitno, mengatakan, "Kami akan berikan yang terbaik untuk tiga anak ini. Mereka bukan sekadar angka, tetapi amanah." Orang tua siswa pun dijadwalkan mengikuti forum musyawarah untuk merancang program relawan pengajar.
Sekolah berencana membuka pendaftaran susulan sepanjang Juli dengan harapan masih ada keluarga yang pindah atau baru menyadari keunggulan lokasi strategis sekolah yang dekat dengan pusat kota. Jika tidak ada penambahan, SDN 8 Kranji harus beroperasi dengan tiga siswa baru—sebuah rekor kelam yang mungkin menjadi titik balik kebijakan pendidikan dasar di Banyumas.
Pantauan lapangan menunjukkan spanduk penerimaan masih terpasang di pagar depan. Namun tiga bangku kosong di kelas satu sudah cukup untuk menggambarkan betapa daruratnya situasi ini.
Baca juga:
Comments (0)