Tangis Ibu Korban Pembakaran Santri Pecah di RDPU DPR

JAKARTA, DETIK INI JUGA – Suasana rapat dengar pendapat umum (RDPU) Komisi III DPR mendadak berubah menjadi tangis haru. Seorang ibu bernama Rumah, yang berasal dari pelosok Lombok Tengah, tak mampu...

Jul 13, 2026 - 22:14
0 0
Tangis Ibu Korban Pembakaran Santri Pecah di RDPU DPR

JAKARTA, DETIK INI JUGA – Suasana rapat dengar pendapat umum (RDPU) Komisi III DPR mendadak berubah menjadi tangis haru. Seorang ibu bernama Rumah, yang berasal dari pelosok Lombok Tengah, tak mampu membendung air matanya saat mengisahkan kematian tragis putranya, Sahril Sobirin. Santri malang itu tewas setelah dibakar hidup-hidup di lingkungan pondok pesantren.

Tangisan Rumah begitu memilukan. Ia bahkan kesulitan berbicara karena tekanan psikologis yang luar biasa. Kuasa hukum dari tim Hotman 911, Titi Tantry, akhirnya mengambil alih penyampaian keterangan. “Beliau tidak bisa berbahasa Indonesia dengan baik karena berasal dari kampung dan hidup dalam kemiskinan. Bahkan dengan tim kami pun ia perlu penerjemah,” ujar Titi di hadapan anggota dewan.

Fakta-Fakta Kunci Kasus Pembakaran Santri

  • Korban meninggal dunia setelah mengalami luka bakar 80 persen
  • Tiga hari sebelum kejadian, pelaku (anak pimpinan ponpes) mengancam akan membakar korban
  • Korban sempat ditanya ibunya tentang perundungan namun memilih diam karena takut
  • Pembakaran terjadi di ruangan kosong yang disiram bensin
  • Korban baru menceritakan kronologi tiga hari setelah insiden

Ancaman Mengerikan yang Tak Dihiraukan

Kisah pilu ini bermula dari ancaman yang diterima Sobirin tiga hari sebelum nyalanya padam. Sang ibu, Rumah, mengaku bahwa putranya bercerita tentang ancaman dari anak pimpinan pondok. “Dia diancam akan dibakar jika tidak menuruti kemauan pelaku,” kata Titi menerjemahkan isak tangis Rumah.

Rumah sebenarnya sudah curiga. Ia sempat bertanya dalam bahasa daerah, “Sanak, wah mende tebully atau wah mende tepantok le’ sekolah?” yang artinya “Apakah kamu pernah dibully atau dipukul di sekolah?”. Namun Sobirin memilih bungkam. Ancaman yang terus menghantuinya membuat ia tak berani bicara. Rasa takut telah menutup mulutnya rapat-rapat.

Kronologi Pembakaran Tragis

Barulah setelah tubuhnya dilalap api, Sobirin membuka suara. Tiga hari pasca kejadian, ia akhirnya bercerita pada ibunda tercinta. Menurut pengakuannya, ia dijebak di sebuah ruangan kosong di area pesantren. Pelaku menyiramkan bensin, lalu menyulut api. Lidah api langsung menyebar dengan cepat.

“Api terisi bensin itu menyebar di situ sehingga mulai dari wajah sampai sekujur tubuh, kaki korban itu kena luka bakar yang sangat drastis 80%. Hanya bagian perut yang tidak terkena,” tutur Titi menirukan keterangan korban. Sobirin sempat bertahan beberapa hari, namun akhirnya menghembuskan napas terakhir setelah berjuang melawan luka parah.

Ibu yang Hancur: Nyawa Anak Tak Bisa Dibeli

Kehadiran Rumah di gedung parlemen menjadi simbol luka mendalam. Dengan segala keterbatasan, ia datang menuntut keadilan. Baginya, nyawa putranya tak bisa diganti dengan apapun. “Nyawa anak saya tak bisa dibeli,” begitu inti pesan yang ia sampaikan meski terbata-bata.

Rapat dengar pendapat itu menjadi panggung bagi mereka yang tak bersuara. Komisi III DPR kini di bawah tekanan untuk mengusut tuntas kasus ini. Sementara itu, tangis Rumah masih menjadi alarm kemanusiaan yang paling menusuk.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
pandu-rangga

Reporter Bencana. Spesialisasi mitigasi bencana dan tanggap darurat.

Comments (0)

User