Langit Yogyakarta Dihiasi Ribuan Layang-Layang di Festival Internasional

YOGYAKARTA — Langit Pantai Parangkusumo, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogayakarta, pada akhir pekan ini berubah menjadi kanvas raksasa yang dilukis ol

Jul 12, 2026 - 00:40
0 0
Langit Yogyakarta Dihiasi Ribuan Layang-Layang di Festival Internasional

YOGYAKARTA — Langit Pantai Parangkusumo, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogayakarta, pada akhir pekan ini berubah menjadi kanvas raksasa yang dilukis oleh ribuan layang-layang dari berbagai warna, bentuk, dan ukuran. Jogja International Kite Festival (JIKF) 2026 resmi dibuka Jumat pagi, menghadirkan peserta dari 18 negara yang unjuk kebolehan menerbangkan kreasi tradisional dan modern.

Pembukaan Meriah dengan Parade Layang-Layang Raksasa

Festival yang mengusung tema "Harmony in the Wind" ini dibuka oleh Gubernur DIY yang diwakili oleh Kepala Dinas Pariwisata DIY, Singgih Raharjo. Tampak hadir pula perwakilan kedutaan besar negara peserta, komunitas layang-layang nasional, serta ribuan pengunjung yang memadati kawasan pantai sejak pagi. Rangkaian acara dimulai dengan penerbangan serentak 100 layang-layang naga sepanjang hingga 50 meter yang menjadi ikon JIKF tahun ini.

Ketua Panitia JIKF 2026, Agung Nugroho, mengatakan bahwa antusiasme peserta sangat tinggi pascapandemi. "Tahun ini kami menerima lebih dari 300 pendaftar, namun hanya 120 peserta terpilih yang lolos kurasi. Kami ingin menampilkan yang terbaik, baik dari sisi kreativitas, kerumitan teknis, maupun nilai budaya yang dibawa," ujarnya.

Peserta Mancanegara Bawa Tradisi Lokal

Delegasi dari Jepang menampilkan layang-layang "Rokkaku" khas pegunungan yang diterbangkan dengan teknik pertarungan udara tradisional. Sementara itu, tim dari Malaysia memamerkan "Wau Bulan" berukuran jumbo dengan ukiran rumit, dan peserta dari India memukau penonton dengan layang-layang bertema tokoh mitologi Hindu yang bisa bermanuver cepat di ketinggian rendah.

Kontingen tuan rumah tak mau kalah. Komunitas layang-layang asal Yogyakarta menghadirkan replika Candi Borobudur yang bisa mengudara stabil di ketinggian 60 meter. "Kami merancangnya selama tiga bulan menggunakan rangka bambu petung dan kain paris. Beratnya mencapai 5 kilogram, tapi berkat teknik aerodinamika yang tepat, ia bisa terbang dengan angin pantai yang kencang," jelas Wibowo, koordinator tim.

Edukasi dan Pemberdayaan Komunitas

Di luar kompetisi dan pameran, JIKF 2026 juga menyelenggarakan berbagai lokakarya (workshop) pembuatan layang-layang ramah lingkungan untuk anak-anak dan remaja. Mereka diajarkan menggunakan bahan daur ulang seperti plastik bekas, kertas koran, dan bambu sisa bangunan. Panitia menargetkan 1.000 anak mengikuti kelas gratis selama tiga hari festival.

"Kami ingin mengajarkan bahwa bermain layang-layang tidak harus mahal dan bisa menjaga lingkungan. Selain itu, ini upaya pengalihan dari gadget yang kini banyak membuat anak kurang bergerak di luar ruangan," terang Retno Palupi, koordinator bidang edukasi JIKF 2026.

Dampak ekonomi pun dirasakan oleh warga sekitar. Para pedagang makanan, minuman, serta suvenir layang-layang meraup omzet berlipat. Sumarni, penjual sate kelinci di area festival, mengaku bisa menjual hingga 500 tusuk per hari selama festival berlangsung.

"Alhamdulillah ramai sekali. Biasanya sepi, sekarang bisa bawa pulang uang bersih sampai Rp1,5 juta sehari. Semoga acara ini terus ada setiap tahun," katanya sambil melayani pembeli.

Malam Penutupan dengan Atraksi Layang-Layang Berpendar

Puncak acara yang paling dinanti adalah "Night Glow Kite", yaitu pertunjukan layang-layang LED yang terbang di langit malam. Ratusan layang-layang bertabur lampu membentuk konstelasi buatan, dipadu musik gamelan elektronik yang dimainkan oleh seniman lokal. Suasana magis itu menjadi magnet bagi wisatawan domestik maupun mancanegara untuk mengabadikan momen.

Kepala Dinas Pariwisata DIY berharap festival ini menjadi motor pemulihan pariwisata yang berkelanjutan. "JIKF bukan sekadar hiburan, tapi diplomasi budaya dan penggerak ekonomi kerakyatan. Kami menargetkan jumlah kunjungan wisatawan ke Yogyakarta meningkat 20% selama triwulan ini berkat event-event internasional seperti ini," pungkas Singgih Raharjo.

[SOCIAL_TWEET]: Langit Pantai Parangkusumo berubah jadi kanvas warna-warni! Jogja International Kite Festival 2026 resmi dibuka dengan peserta dari 18 negara. Malamnya ada Night Glow Kite yang magis. #JIKF2026 #WonderfulIndonesia #Yogyakarta [SOCIAL_TG]: 🪁 Warna-warni langit Jogja! Festival layang-layang internasional di Parangkusumo tampilkan kreasi dari Jepang, India, Malaysia, plus replika Borobudur terbang. Ada kelas ramah lingkungan buat anak-anak, lho! 🌊

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User