Klaim Video Erupsi Gunung Anak Krakatau Terbukti Hoax
Sebuah rekaman video yang memperlihatkan kepulan asap tebal dan lontaran material pijar dari sebuah gunung api kembali meramaikan media sosial. Dalam ungga
Sebuah rekaman video yang memperlihatkan kepulan asap tebal dan lontaran material pijar dari sebuah gunung api kembali meramaikan media sosial. Dalam unggahan yang tersebar di Facebook dan Twitter, video itu disertai klaim bahwa Gunung Anak Krakatau sedang mengalami erupsi dahsyat. Narasi yang menyertainya pun beragam, mulai dari kekhawatiran akan tsunami hingga ajakan untuk mengungsi. Namun, benarkah saat ini Anak Krakatau mengamuk?
Bermula dari Video Viral Berjudul “Detik-Detik Erupsi”
Salah satu unggahan yang paling banyak dibagikan diunggah oleh akun bernama @InfoBencana_Update pada 10 April 2025. Akun itu menuliskan status, “Astaghfirullah, Gunung Anak Krakatau meletus hebat malam ini. Semoga warga sekitar selamat.” Video berdurasi 47 detik itu memperlihatkan kolom asap hitam pekat dengan kilatan petir di sekitarnya. Hingga artikel ini ditulis, unggahan tersebut telah disukai lebih dari 12 ribu kali, dibagikan 8.700 kali, dan menuai ribuan komentar yang menunjukkan kepanikan warganet.
Tak sedikit netizen yang kemudian menandai akun resmi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk meminta klarifikasi. Sebagian lainnya mengaku langsung menyebarkan video itu ke grup WhatsApp keluarga sebagai peringatan dini.
Cek Fakta Liputan6.com Mulai Penelusuran
Tim Cek Fakta Liputan6.com melakukan serangkaian verifikasi untuk menguji kebenaran klaim tersebut. Langkah pertama adalah mengonfirmasi langsung status terkini Gunung Anak Krakatau kepada Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).
- Konfirmasi ke PVMBG: Petugas PVMBG Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau di Desa Pasauran, Banten, menegaskan bahwa tidak ada letusan eksplosif pada rentang 9–11 April 2025. Aktivitas gunung masih didominasi oleh embusan asap putih tipis setinggi 50–150 meter di atas puncak.
- Tingkat status: Saat ini Anak Krakatau berada pada Level II (Waspada) dengan rekomendasi radius bahaya 2 kilometer. Tidak ada perubahan status signifikan yang dilaporkan.
- Data kegempaan: Dalam sepekan terakhir, kegempaan didominasi tremor menerus dengan amplitudo rendah yang menunjukkan aktivitas normal.
Fakta Terungkap: Video Lama yang Kembali Berseliweran
Setelah memastikan tidak ada erupsi terkini, tim melanjutkan pelacakan dengan metode reverse image search menggunakan tangkapan layar dari video viral tersebut. Potongan-potongan bingkai video diunggah ke mesin pencarian gambar Google dan Yandex.
Hasilnya mengejutkan: video yang sama sudah beredar luas pada Desember 2018. Saat itu, Anak Krakatau memang mengalami erupsi yang memicu longsoran tubuh gunung dan tsunami Selat Sunda. Video itu identik dengan rekaman yang dipublikasikan oleh sejumlah media arus utama, termasuk Liputan6.com, pada 23 Desember 2018.
Lebih lanjut, dalam video asli, terdapat watermark stasiun televisi yang sengaja dipotong pada unggahan terbaru agar terlihat seperti rekaman eksklusif. Jeda waktu enam tahun lebih menegaskan bahwa video tersebut bukanlah peristiwa terkini dan sengaja disebarkan ulang dengan narasi menyesatkan.
“Masyarakat jangan mudah percaya dengan video yang beredar tanpa sumber jelas. Silakan pantau informasi resmi dari PVMBG, BNPB, dan BMKG,” ujar Kepala PVMBG Hendra Gunawan dalam keterangan tertulis yang diterima Liputan6.com, Jumat (11/4/2025).
Fenomena Hoax Berulang di Musim Bencana
Peredaran video hoax tentang erupsi gunung api bukan kali pertama terjadi. Pada awal 2021, beredar rekaman serupa yang diklaim sebagai erupsi Gunung Merapi, padahal itu adalah letusan Gunung Sinabung tahun 2018. Pola yang sama juga terjadi saat video erupsi lama Gunung Semeru disebarkan seakan-akan baru terjadi pada Maret 2023, padahal video itu berasal dari peristiwa 2021.
Pengamat media sosial dari Universitas Indonesia, Dr. Dewi Kartika, menjelaskan bahwa konten bencana alam memiliki daya kejut tinggi yang memicu reaksi emosional, sehingga tingkat viralitasnya jauh lebih cepat dibanding konten biasa. “Pelaku penyebar hoax memanfaatkan rasa takut dan solidaritas semu. Dengan begitu, keuntungan berupa trafik dan pendapatan iklan bisa mereka raup,” ungkapnya.
Imbauan: Lakukan Saring Sebelum Sharing
Menanggapi maraknya hoax soal erupsi ini, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mengingatkan kembali pentingnya literasi digital. Masyarakat diimbau untuk selalu memverifikasi setiap informasi yang diterima, terutama yang berkaitan dengan bencana.
- Periksa tanggal dan sumber asli video. Gunakan fitur reverse search yang banyak tersedia gratis.
- Jangan langsung membagikan konten hanya karena dikirim oleh orang terdekat.
- Ikuti akun resmi pemerintah daerah, PVMBG, BNPB, dan BMKG untuk mendapatkan informasi aktual.
- Laporkan konten mencurigakan melalui kanal aduan resmi seperti aduankonten.id atau layanan patrolisiber.id.
Kesimpulan Cek Fakta
Klaim yang menyebut Gunung Anak Krakatau sedang erupsi pada 10 April 2025 tidak benar. Video yang beredar merupakan rekaman lama dari erupsi Desember 2018 yang kembali disebarkan untuk menimbulkan kepanikan. Hingga kini, status anak Gunung Krakatau masih Waspada tanpa ada letusan besar. Tim Cek Fakta Liputan6.com mengkategorikan klaim ini sebagai Disinformasi (konten yang salah dan sengaja disebarkan untuk menipu).
[SOCIAL_TWEET]: Beredar video viral diklaim erupsi Gunung Anak Krakatau. Setelah ditelusuri, ternyata hoax lama yang kembali disebar. Simak fakta lengkapnya di sini. #CekFakta #HoaxBuster #AnakKrakatau[SOCIAL_TG]: 📢 Waspada! Video erupsi Gunung Anak Krakatau yang viral belakangan ini terbukti hoax. Cek faktanya, yuk. Jangan sampai termakan isu.
Comments (0)