Danantara Garap 26 Proyek Hilirisasi Rp225 Triliun, Serap 37 Ribu Tenaga Kerja
Jakarta – Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara Indonesia memacu agenda hilirisasi nasional melalui 26 proyek strategis. Total investasi yang digelonto
Jakarta – Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara Indonesia memacu agenda hilirisasi nasional melalui 26 proyek strategis. Total investasi yang digelontorkan mencapai Rp225 triliun, dan diproyeksikan mampu menyerap hingga 37 ribu tenaga kerja di berbagai daerah.
Ke-26 proyek ini merupakan bagian dari peta jalan transformasi ekonomi Indonesia, yang selama ini terlalu bergantung pada ekspor bahan mentah. Direktur Utama BPI Danantara, Andi Wirawan, mengungkapkan bahwa proyek-proyek ini tersebar di enam klaster utama: nikel, bauksit, tembaga, gasifikasi batubara, kelapa sawit, dan industri pendukung seperti logistik serta energi terbarukan.
Rincian Proyek per Sektor
Untuk sektor nikel, setidaknya terdapat delapan proyek yang tengah digarap. Di antaranya pembangunan smelter feronikel, fasilitas mixed hydroxide precipitate (MHP), hingga pabrik baterai listrik terintegrasi di Morowali, Weda Bay, dan Obi. Total investasi di klaster nikel saja menembus Rp95 triliun, dengan perkiraan serapan tenaga kerja mencapai 14.500 orang. Sebagian besar tahapan konstruksi sudah berjalan dan ditargetkan beroperasi secara bertahap mulai 2027.
Sementara itu, di klaster bauksit, Danantara mengelola lima proyek yang meliputi pembangunan dan perluasan alumina refinery di Mempawah, Kalimantan Barat, serta fasilitas pendukung di Ketapang. Total nilai investasinya Rp35 triliun. Dengan beroperasinya smelter alumina ini, Indonesia tidak lagi sepenuhnya bergantung pada impor aluminium. Diperkirakan 7.000 lapangan kerja akan terserap di sepanjang rantai nilai bauksit tersebut.
Di sektor tembaga, proyek smelter di Gresik, Jawa Timur, dan pengembangan fasilitas pengolahan di Amamapare, Papua, menjadi andalan. Danantara menggelontorkan Rp45 triliun untuk dua proyek ini. Smelter Gresik yang berkapasitas 1,7 juta ton konsentrat per tahun ditargetkan bisa memproduksi 600 ribu ton katoda tembaga. Proyek ini akan mempekerjakan hingga 8.000 tenaga kerja saat fase konstruksi dan operasi.
Gasifikasi batubara menjadi dimetil eter (DME) sebagai pengganti elpiji juga masuk dalam daftar proyek Danantara. Total investasi untuk gasifikasi batubara di Tanjung Enim dan Kutai mencapai Rp40 triliun. Selain mengurangi impor elpiji, proyek ini diharapkan membuka setidaknya 5.000 lapangan kerja baru di wilayah pertambangan dan pengolahan.
Dampak Ekonomi dan Serapan Tenaga Kerja
Wakil Menteri Investasi, Rizal Hamdani, menyambut baik progres ini. Ia menekankan bahwa proyek hilirisasi tidak hanya mendatangkan investasi besar, tetapi juga menciptakan efek berganda bagi perekonomian lokal.
"Setiap triliun rupiah yang diinvestasikan di sektor hilirisasi mampu menciptakan 150–200 lapangan kerja langsung. Artinya, dengan Rp225 triliun, potensi penyerapan tenaga kerjanya bisa melampaui 37 ribu seperti yang diproyeksikan Danantara," ujar Rizal dalam konferensi pers, Kamis (9/4/2026).
Ia menambahkan bahwa lapangan kerja yang tercipta bukan hanya buruh kasar, melainkan juga tenaga terampil di bidang engineering, manajemen proyek, serta riset dan pengembangan. Pelatihan vokasi dan kerja sama dengan politeknik pun sedang disiapkan agar tenaga kerja lokal bisa memenuhi kualifikasi.
Adapun dari sisi pendanaan, Danantara melakukan skema pembiayaan melalui ekuitas, pinjaman sindikasi perbankan, serta kerja sama dengan investor strategis luar negeri. Andi Wirawan menjelaskan, pihaknya mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam mengelola dana agar setiap proyek berjalan sesuai rencana dan tepat sasaran.
Tantangan dan Strategi Percepatan
Meski optimistis, Danantara tak menampik adanya sejumlah tantangan. Mulai dari pembebasan lahan, perizinan, hingga dinamika harga komoditas global. Untuk mengatasinya, BPI Danantara menggandeng pemerintah daerah dan kementerian teknis dalam satuan tugas percepatan. Sistem monitoring berbasis digital juga diterapkan untuk memantau kemajuan setiap proyek secara real-time.
Hingga saat ini, dari 26 proyek, tercatat 11 sudah dalam tahap konstruksi, 8 dalam tahap finalisasi desain dan persiapan lahan, serta 7 sisanya dalam proses studi kelayakan dan pembiayaan. Danantara menargetkan 15 proyek sudah bisa beroperasi penuh pada 2028.
Bagi masyarakat di sekitar lokasi proyek, kehadiran investasi ini membawa harapan baru. Di Morowali misalnya, proyek smelter nikel telah mengubah wajah perekonomian lokal. Ribuan pekerja dari berbagai daerah datang, dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sektor jasa, makanan, serta perumahan ikut bertumbuh.
"Kami sangat antusias, karena anak muda di sini bisa bekerja tanpa harus merantau ke kota besar. Tapi kami juga berharap pelatihan dan penyerapan tenaga kerja lokal lebih diprioritaskan," kata Aris, tokoh pemuda Desa Fatufia, salah satu desa penyangga kawasan industri Morowali.
Dengan skala investasi yang masif dan dampaknya yang strategis, proyek hilirisasi Danantara diyakini mampu mengakselerasi target Indonesia menjadi negara maju pada 2045. Langkah ini sekaligus menegaskan posisi Indonesia sebagai pemain kunci rantai pasok global di era transisi energi dan industri hijau.
[SOCIAL_TWEET]: Danantara pacu 26 proyek hilirisasi senilai Rp225 T, siap serap 37 ribu tenaga kerja. Dari nikel hingga bauksit, Indonesia bertransformasi jadi pusat industri global. #Hilirisasi #Investasi #Danantara[SOCIAL_TG]: 🏗️ Rp225 T! Danantara garap 26 proyek hilirisasi dan buka 37.000 lowongan kerja. Proyek dari nikel, tembaga, hingga gasifikasi batubara. Baca detailnya di sini.
Comments (0)