Ketum Dekopin Tepis Stigma Koperasi Kuno, Singgung Real Madrid
JAKARTA — Ketua Umum Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin) Bambang Haryadi secara tegas membantah pandangan masyarakat yang masih menganggap koperasi sebagai gerakan ekonomi kolot dan berskala kecil. D...
JAKARTA — Ketua Umum Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin) Bambang Haryadi secara tegas membantah pandangan masyarakat yang masih menganggap koperasi sebagai gerakan ekonomi kolot dan berskala kecil. Dalam pernyataannya, ia justru menyodorkan contoh nyata bahwa model bisnis koperasi mampu menopang entitas raksasa global sekelas klub sepak bola Real Madrid.
Real Madrid dan Koperasi Anggota
Real Madrid bukan sekadar klub sepak bola biasa. Klub asal Spanyol tersebut dimiliki oleh lebih dari 90.000 anggota koperasi yang disebut "socios". Setiap anggota mempunyai hak suara dalam pemilihan presiden klub dan keputusan strategis lainnya. Struktur ini membuktikan bahwa prinsip koperasi—dari anggota, oleh anggota, dan untuk anggota—dapat berjalan di level tertinggi industri olahraga dan hiburan dunia.
Real Madrid secara konsisten menempati puncak daftar klub sepak bola terkaya versi Deloitte Football Money League. Fakta ini, kata Bambang, menjadi tamparan keras bagi siapa pun yang meremehkan koperasi sebagai entitas bisnis inferior dan kuno.
Transformasi Digital Jadi Kunci
Bambang menekankan bahwa koperasi di Indonesia sudah banyak yang bertransformasi secara digital. Dari koperasi simpan pinjam yang kini memanfaatkan aplikasi ponsel, hingga koperasi petani yang menerapkan teknologi pertanian presisi. Stigma kuno, tegasnya, muncul karena kurangnya pemahaman masyarakat terhadap dinamika perkoperasian masa kini.
Dekopin sendiri terus mendorong digitalisasi koperasi melalui pelatihan, pendampingan, dan penyediaan akses pasar daring. Generasi muda, sambungnya, menjadi target utama untuk direkrut sebagai anggota aktif dan pengelola koperasi modern.
Data dan Kontribusi Ekonomi
Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM, jumlah koperasi aktif di Indonesia mencapai sekitar 127.000 unit dengan anggota lebih dari 25 juta orang. Sektor ini menyerap jutaan tenaga kerja dan menyumbang signifikan terhadap produk domestik bruto. Bambang menilai angka ini akan terus meningkat seiring dengan perubahan citra koperasi yang lebih segar dan inklusif.
"Sungguh keliru jika publik masih menilai koperasi hanya sebagai lembaga ekonomi kelas dua. Real Madrid sudah membuktikan selama puluhan tahun bahwa sistem keanggotaan berbasis koperasi bisa profesional, modern, dan mendunia," ujar Bambang.
Tantangan dan Peluang di Era Digital
Meski begitu, Bambang mengakui bahwa transformasi koperasi tidak selalu mulus. Masih banyak koperasi konvensional yang enggan beradaptasi. Namun, ia optimistis karena generasi milenial dan Gen Z memiliki karakter kolaboratif yang selaras dengan nilai koperasi. Pemerintah juga diminta memperkuat regulasi yang melindungi koperasi dari penyalahgunaan dan persaingan tidak sehat dengan korporasi besar.
Masa Depan Koperasi di Indonesia
Dengan momentum Hari Koperasi Nasional, Dekopin mengajak semua pihak untuk melek koperasi dan tidak lagi merendahkan potensinya. Koperasi, kata Bambang, adalah benteng ekonomi kerakyatan yang sudah teruji krisis dan siap bersaing secara global. Ia mencontohkan, banyak koperasi di negara maju yang mengelola sektor ritel, perbankan, hingga teknologi.
Baca juga:
Comments (0)