Prabowo Luncurkan Biosolar B50, Ketua Komisi XII: Monumental bagi Dunia
JAKARTA — Presiden Prabowo Subianto meresmikan penggunaan Biosolar B50 dalam sebuah acara yang digelar di Jakarta, 4 Maret 2025. Langkah ini langsung menuai apresiasi dari Ketua Komisi XII DPR, Bamb...
JAKARTA — Presiden Prabowo Subianto meresmikan penggunaan Biosolar B50 dalam sebuah acara yang digelar di Jakarta, 4 Maret 2025. Langkah ini langsung menuai apresiasi dari Ketua Komisi XII DPR, Bambang Patijaya, yang menyebutnya sebagai lompatan monumental tidak hanya bagi Indonesia, tetapi juga dunia.
Peluncuran B50—campuran 50 persen biodiesel berbasis minyak sawit dengan solar—menempatkan Indonesia di garis depan transisi energi hijau. "Ini bukan sekadar kebijakan energi, tetapi pernyataan sikap bahwa Indonesia serius memangkas emisi karbon dan ketergantungan impor bahan bakar fosil," ujar Bambang Patijaya dalam keterangan tertulis, 4 Maret 2025.
Pionir Penghematan Karbon
Dengan B50, Indonesia menjadi negara pertama yang mengimplementasikan biodiesel dengan persentase campuran setinggi itu secara nasional. Program ini merupakan eskalasi dari mandatori B35 yang sudah berjalan dua tahun. Keberhasilan B35 mendorong pemerintah meningkatkan campuran biodiesel secara bertahap, menuju B100 di masa depan. Kini, peningkatan ke B50 diperkirakan mampu mengurangi emisi karbon hingga 45 juta ton CO2 per tahun, setara dengan menanam 750 juta pohon.
Bambang menekankan, capaian ini menjadikan Indonesia sebagai rujukan global dalam pemanfaatan energi nabati. "Negara-negara lain masih berdebat, kita sudah bertindak. Ini bukti bahwa keberanian mengambil keputusan besar bisa mengubah peta energi dunia," tegasnya.
Hemat Devisa hingga Miliaran Dolar
Selain dampak lingkungan, B50 juga memberikan pukulan telak terhadap impor solar. Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebut, penghematan devisa dari program ini bisa mencapai USD 8,2 miliar per tahun. Angka ini berasal dari substitusi solar impor sebanyak 12 juta kiloliter dengan biodiesel dalam negeri.
- Campuran: 50% Fatty Acid Methyl Ester (FAME) berbasis sawit + 50% solar
- Efektif berlaku: segera setelah peluncuran, 4 Maret 2025
- Penghematan emisi: 45 juta ton CO2/tahun
- Penghematan devisa: USD 8,2 miliar/tahun
- Dukungan industri: 23 pabrik biodiesel siap suplai
- Serapan tenaga kerja: 1,5 juta petani sawit terlibat
Bambang menyebut, penghematan itu akan memperkuat neraca perdagangan dan menstabilkan nilai tukar rupiah. "Setiap liter biodiesel yang kita pakai adalah devisa yang tidak lari ke luar negeri. Ini kedaulatan energi dalam arti sesungguhnya," katanya.
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian mengungkapkan bahwa uji coba B50 telah dilakukan sejak akhir 2024 di berbagai kondisi jalan dan cuaca. "Hasilnya memuaskan. Tidak ada kendala teknis berarti pada mesin diesel modern," ujarnya. Program ini dipastikan turut mengerek harga tandan buah segar (TBS) sawit di tingkat petani. Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) memperkirakan kenaikan harga TBS hingga 15 persen karena lonjakan permintaan. "Ini kabar baik bagi 16 juta petani swadaya," kata seorang petani di Riau.
B50 juga menjadi senjata Indonesia dalam diplomasi iklim. Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia menyebut langkah ini patut diapresiasi dan bisa menjadi model bagi negara berkembang lain. Dengan demikian, Indonesia tak hanya memimpin dalam wacana, tetapi juga aksi nyata. Komisi XII DPR berjanji akan mengawal implementasi B50 agar berjalan lancar dan memberi manfaat maksimal bagi rakyat, sambil terus mendorong inovasi energi terbarukan lainnya.
Baca juga:
Comments (0)