Kesepakatan AS-Iran Dianggap Kemenangan Besar bagi Hizbullah
Laporan Beritatercepat.com, Jakarta - Pemimpin Hizbullah, Naim Kassem, menyambut nota kesepahaman yang menghentikan pertempuran antara Iran dan Amerika Serikat pekan ini dengan penuh optimisme. Ia me
Laporan Beritatercepat.com, Jakarta - Pemimpin Hizbullah, Naim Kassem, menyambut nota kesepahaman yang menghentikan pertempuran antara Iran dan Amerika Serikat pekan ini dengan penuh optimisme. Ia menyebutnya sebagai
"sebuah kemenangan besar"dan
"titik balik penting bagi Lebanon."Pernyataan tersebut langsung memicu diskusi mengenai implikasi kesepakatan itu terhadap dinamika kekuatan di Timur Tengah, terutama peran Hizbullah yang selama ini erat terkait dengan Teheran.
Kassem secara khusus menyampaikan terima kasih kepada Iran karena telah
"menghubungkan arena Lebanon"ke dalam perjanjian tersebut. Ia juga menegaskan bahwa langkah diplomasi itu berhasil
"memaksa Israel menghentikan agresinya."Ungkapan itu menegaskan persepsi Hizbullah bahwa setiap kemajuan dalam hubungan Iran dengan kekuatan global akan berdampak langsung pada pengurangan tekanan terhadap kelompoknya dan Lebanon secara keseluruhan.
Akar Sejarah dan Transformasi Hizbullah
Hizbullah didirikan pada tahun 1982, tak lama setelah invasi Israel ke Lebanon, dengan dukungan penuh dari Iran. Tujuan awalnya adalah mengakhiri pendudukan Israel di Lebanon selatan. Sejak itu, organisasi ini tumbuh menjadi entitas yang memiliki sayap militer dan politik sekaligus, serta didukung oleh mayoritas komunitas Muslim Syiah di Lebanon. Keberhasilan Hizbullah dalam memadukan perlawanan bersenjata dengan partisipasi politik membuatnya menjelma menjadi kekuatan dominan di panggung dalam negeri.
Saat ini, Hizbullah bukan sekadar milisi; ia adalah partai politik yang memiliki kursi di parlemen dan mengendalikan berbagai layanan sosial. Jaringan sekolah, rumah sakit, dan program kesejahteraannya membuat organisasi ini begitu mengakar di masyarakat. Kondisi itulah yang membuat Hizbullah kerap dijuluki
"negara di dalam negara,"karena memiliki angkatan bersenjata sendiri yang independen dari tentara nasional Lebanon. Dengan kapasitas militer yang signifikan—termasuk persenjataan presisi—Hizbullah menjadi faktor penentu dalam setiap konflik yang melibatkan Israel dan poros perlawanan yang didukung Iran.
Nota kesepahaman AS-Iran, yang dilihat Kassem sebagai kemenangan, membuka peluang baru bagi Hizbullah. Bukan hanya karena perjanjian itu dianggap meredam eskalasi dengan Israel, tetapi juga karena memperkuat posisi tawar Teheran di kawasan. Dalam perspektif Hizbullah, hal ini berarti keberlangsungan dukungan logistik dan strategis dari Iran akan lebih terjamin, sembari tetap mempertahankan narasi perlawanan terhadap pendudukan dan agresi.
Analis di Beirut menilai bahwa euforia Hizbullah harus dilihat dalam kerangka kepentingan jangka panjang. Meski Israel mungkin untuk sementara menghentikan tindakan ofensif tertentu, perjanjian bilateral antara Teheran dan Washington belum tentu menghapus ancaman keamanan di perbatasan utara Israel. Namun bagi Hizbullah, momentum ini tetap dijadikan bukti bahwa pendekatan “poros perlawanan” mampu menghasilkan konsesi tanpa harus melemahkan kapasitas militernya. Dengan demikian, kesepakatan AS-Iran bukan hanya soal diplomasi, melainkan juga kalkulasi strategis yang dimenangkan Hizbullah di panggung politik Lebanon maupun regional.
Comments (0)