Keraton Solo Terpecah, Sekaten Digelar di Dua Alun-alun

Keraton Surakarta terpecah. Dua kubu saling bersaing. Masing-masing menggelar Sekaten di lokasi berbeda. PB XIV Purbaya memilih Alun-alun Selatan. PB XIV Mangkubumi mengadakan di Alun-alun Utara.Duali...

Jul 28, 2026 - 09:52
0 0
Keraton Solo Terpecah, Sekaten Digelar di Dua Alun-alun

Keraton Surakarta terpecah. Dua kubu saling bersaing. Masing-masing menggelar Sekaten di lokasi berbeda. PB XIV Purbaya memilih Alun-alun Selatan. PB XIV Mangkubumi mengadakan di Alun-alun Utara.

Dualisme ini menguat setelah wafatnya Pakubuwono XIII. Kini, dua pimpinan klaim sebagai raja yang sah. Mereka menolak bersatu dalam satu perayaan.

Tradisi Sekaten sarat makna. Nama Sekaten berasal dari syahadatain, dua kalimat syahadat. Acara ini digelar untuk menyebarkan ajaran Islam. Di Solo, rangkaiannya berlangsung selama seminggu. Gamelan keramat dibunyikan siang malam. Masyarakat percaya ada berkah di baliknya. Biasanya, ribuan warga berdatangan. Mereka menanti gunungan yang dibagikan pada hari Grebeg.

  • PB XIV Purbaya menggelar Sekaten di Alun-alun Selatan
  • PB XIV Mangkubumi menggelar di Alun-alun Utara
  • Ini pertama kalinya Sekaten digelar di dua tempat berbeda
  • Tradisi Maulid Nabi ini tetap berlangsung meski terpisah
  • Ribuan warga hadir di kedua lokasi

Dua Lokasi, Satu Ritual

Di Alun-alun Utara, PB XIV Mangkubumi melanjutkan tradisi lama. Gamelan Kyai Gunturmadu ditabuh. Di selatan, PB XIV Purbaya juga menghadirkan gamelan pusaka. Masing-masing pihak meneguhkan legitimasi. Warga Solo bebas memilih lokasi.

Di kedua tempat, prosesi tetap khidmat. Gamelan sekaten dibunyikan sesuai aturan. Puncak acara Grebeg juga disiapkan dua kali. Ini pertama kalinya dua Grebeg digelar.

Dualisme Berkepanjangan

Dualisme di Keraton Solo sudah lebih dari satu dekade. Setelah Pakubuwono XII wafat, takhta kosong tanpa penerus jelas. Dua putra mahkota berseteru. Kini, perseteruan turun ke generasi berikutnya. Masing-masing kubu memiliki abdi dalem dan gamelan sendiri. Sekaten yang terpecah ini menjadi bukti nyata bahwa perpecahan belum selesai.

Suasana Tetap Kondusif

Meski terjadi perpecahan simbolis, kondisi di lapangan tetap tenang. Abdi dalem dari kedua kubu menjaga ketertiban. Mereka enggan berkomentar tentang konflik. "Kami hanya menjalankan tugas," ujar seorang abdi dalem.

Pemerintah Kota Solo bersikap netral. Belum ada pernyataan resmi dari Wali Kota. Netralitas diambil karena masalah internal keraton. "Ini urusan kraton," kata sumber internal.

Bagi para pedagang di sekitar alun-alun, perpecahan ini membawa berkah sekaligus kesedihan. Pengunjung di dua tempat membuat dagangan laris. Namun, mereka merindukan Sekaten yang bersatu. "Sekarang malah ramai di dua tempat," ujar penjual mainan. "Tapi kami tetap berharap keraton rukun kembali."

Para pengamat budaya berharap rekonsiliasi. Sekaten bukan sekadar festival. Ia adalah syiar Islam yang mengakar. Perpecahan dinasti dinilai bisa mengikis sakralitas tradisi. Kerinduan akan Sekaten yang utuh pun menguat. Warga berharap tahun depan dilakukan bersama.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User