Suasana khusyuk dan haru menyelimuti ribuan jemaah yang memadati Masjid Bimantara, Kompleks MNC Tower, Kebon Sirih, Jakarta Pusat, pada pelaksanaan Salat Jumat (11/9/2026). Di tengah heningnya suasana ibadah, para jemaah menadahkan tangan, menyatukan doa demi keselamatan lima jurnalis dan tiga awak kapal (ABK) yang dilaporkan hilang kontak di perairan Selat Sunda. Para insan pers tersebut hilang saat menjalankan tugas jurnalistik berisiko tinggi meliput lonjakan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau.
Kabar hilangnya rombongan tersebut menghentak publik dan komunitas media nasional. Perahu yang ditumpangi tim peliput dikabarkan kehilangan sinyal komunikasi sejak Kamis malam usai terhempas cuaca buruk dan gelombang tinggi di sekitar zona bahaya vulkanik. Harapan agar mereka ditemukan dalam kondisi selamat terus mengalir deras dari kerabat, rekan sejawat, hingga masyarakat luas.
Solidaritas Kebersamaan dan Doa Khusyuk untuk Para Korban
Pelaksanaan doa bersama ini dipimpin langsung oleh Imam Masjid Bimantara seusai khotbah Jumat. Dalam suasananya yang sarat emosi, jemaah membaca doa keselamatan dan perlindungan bagi seluruh tim peliput yang sedang bertarung dengan ancaman alam. Rasa cemas dan sedih terpancar jelas dari raut wajah para rekan media yang turut hadir dalam saf ibadah tersebut.
"Kami mengetuk pintu langit, memohon perlindungan dari Allah SWT agar saudara-saudara kita yang sedang bertugas di Selat Sunda segera ditemukan dalam keadaan selamat dan sehat tanpa kurang suatu apa pun. Tugas mereka mulia, menyampaikan informasi keselamatan kepada masyarakat," ujar pengurus Masjid Bimantara saat memberikan pengantar doa.
Kronologi dan Tantangan Evakuasi di Zona Bahaya Erupsi
Berdasarkan informasi yang dihimpun, tim gabungan jurnalis tersebut bertolak ke perairan Selat Sunda untuk mendokumentasikan erupsi Gunung Anak Krakatau yang mengalami peningkatan status siaga dalam beberapa hari terakhir. Namun, cuaca ekstrem berupa angin kencang serta tinggi gelombang mencapai 4 meter menyulitkan pelayaran hingga akhirnya kapal kehilangan kontak radio maupun sinyal satelit.
| Komponen Informasi | Detail Kejadian |
|---|---|
| Lokasi Kejadian | Perairan Selat Sunda (Sekitar Gunung Anak Krakatau) |
| Jumlah Personel Hilang | 8 Orang (5 Jurnalis, 3 Awak Kapal) |
| Status Terakhir | Hilang Kontak (Sejak Kamis Malam, 10/9/2026) |
| Misi Tugas | Peliputan Eksklusif Erupsi Gunung Anak Krakatau |
| Kondisi Lapangan | Gelombang Tinggi, Hujan Lebat, & Abu Vulkanik Pekat |
Saat ini, Tim Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) bersama Polairud dan TNI Angkatan Laut telah mengerahkan armada kapal penyelamat serta helikopter untuk menyisir titik koordinat terakhir kapal. Kendati demikian, jarak pandang yang sangat terbatas akibat tutupan abu vulkanik menjadi hambatan utama dalam proses pencarian cepat di lapangan.
"Tim SAR gabungan terus berupaya maksimal menembus ombak Selat Sunda. Kami memohon dukungan doa dari seluruh rakyat Indonesia agar proses penyisiran berjalan lancar dan seluruh korban dapat segera dievakuasi," ungkap perwakilan tim pencari SAR.
Harapan Tinggi dari Komunitas Pers Nasional
Peristiwa ini menggarisbawahi tingginya risiko yang harus dihadapi oleh para pekerja media demi menyajikan berita terkini dan akurat kepada publik. Dewan Pers dan berbagai organisasi wartawan mengimbau agar seluruh perusahaan media tetap memprioritaskan keselamatan jiwa di atas segala penugasan jurnalistik di area rawan bencana.
Di Masjid Bimantara, gema doa keselamatan terus berlanjut hingga usai rangkaian ibadah. Ribuan pasang mata menaruh asa tinggi agar mukjizat menghampiri kedelapan korban di perairan Selat Sunda, membawa mereka kembali pulang ke tengah keluarga dan ruang redaksi dalam keadaan selamat.
Comments (0)