WASHINGTON — Hampir seperempat abad setelah peristiwa tragis runtuhnya menara kembar World Trade Center di New York, Amerika Serikat masih merasakan dampak mendalam dari doktrin militer yang lahir pasca-tragedi tersebut. Serangan teror 11 September 2001 (9/11) yang didalangi oleh kelompok al-Qaeda bukan sekadar meruntuhkan simbol ekonomi dan pertahanan, melainkan meruntuhkan mitos kekebalan Negeri Paman Sam di panggung global.
Peristiwa kelam yang menewaskan hampir 3.000 jiwa itu menjadi titik tolak bagi Presiden George W. Bush kala itu untuk mendeklarasikan kampanye militer berskala masif yang dikenal sebagai Global War on Terror (Perang Global Melawan Terorisme). Namun, respons militeristik ini belakangan dinilai menjebak AS dalam pusaran konflik bersenjata berkepanjangan yang menyedot sumber daya luar biasa besar.
Kronologi dan Eskalasi Perang Global AS
Langkah pembalasan Washington memicu rangkaian operasi militer lintas benua yang mengubah peta geopolitik dunia secara drastis:
- Oktober 2001 (Operasi Enduring Freedom): AS bersama sekutu NATO menginvasi Afghanistan untuk menggulingkan rezim Taliban yang dituding melindungi pemimpin al-Qaeda, Osama bin Laden.
- Maret 2003 (Invasi ke Irak): Washington memperluas front pertempuran dengan dalih melucuti senjata pemusnah massal rezim Saddam Hussein, memicu instabilitas berkepanjangan di kawasan Timur Tengah.
- Mei 2011 (Tewasnya Osama bin Laden): Pasukan khusus Navy SEAL berhasil menewaskan Osama bin Laden di Abbottabad, Pakistan, namun aksi militer AS tidak serta-merta mereda.
- Agustus 2021 (Penarikan Mundur Pasukan): AS resmi mengakhiri pendudukan 20 tahun di Afghanistan secara tergesa-gesa, meninggalkan kekuasaan yang kembali jatuh ke tangan Taliban.
"Alih-alih menciptakan dunia yang lebih aman, perang tanpa akhir telah menguras stabilitas finansial dan moral Amerika, sembari menciptakan bibit-bibit radikalisasi baru di berbagai belahan dunia," ujar seorang analis hubungan internasional dari Center for Strategic and International Studies (CSIS).
Dampak Ekonomi dan Kemanusiaan yang Masif
Berdasarkan riset Costs of War Project dari Brown University, dampak dari perang pasca-9/11 mencatatkan angka kerugian yang mencengangkan bagi Washington maupun negara-negara terdampak:
- Biaya Anggaran: Lebih dari USD 8 triliun telah digelontorkan untuk mendanai operasi militer, logistik, dan perawatan veteran.
- Korban Jiwa: Diperkirakan lebih dari 900.000 orang tewas secara langsung akibat kekerasan perang, termasuk warga sipil, militer AS, dan pasukan koalisi.
- Pengungsi: Sebanyak 38 juta orang terpaksa mengungsi dari rumah mereka di Afghanistan, Irak, Pakistan, Yaman, dan Suriah.
Kini, 25 tahun pascaserangan tersebut, Amerika Serikat mulai mengalihkan fokus pertahanannya dari perang kontra-terorisme menuju rivalitas kekuatan besar menghadapi Tiongkok dan Rusia. Kendati demikian, jejak intervensi militer, pangkalan-pangkalan terdepan, serta operasi pesawat nirawak (drone) di berbagai belahan dunia membuktikan bahwa bayang-bayang perang tanpa akhir warisan 9/11 belum sepenuhnya berakhir.
Comments (0)