Jakarta — IHSG Ditutup Menguat 58 Poin ke Level 7.046,63
JAKARTA, Beritatercepat.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil mengakhiri sesi perdagangan Rabu (3/8/2022) dengan catatan positif. Indeks acuan
JAKARTA, Beritatercepat.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil mengakhiri sesi perdagangan Rabu (3/8/2022) dengan catatan positif. Indeks acuan Bursa Efek Indonesia ini ditutup menguat 58,47 poin atau setara 0,84 persen ke level 7.046,63, melanjutkan momentum pemulihan dari tekanan sehari sebelumnya. Penguatan ini terjadi di tengah kombinasi sentimen eksternal yang mulai kondusif dan aksi beli selektif investor domestik pada saham-saham unggulan.
Berdasarkan data perdagangan, pergerakan IHSG sejak awal sesi memang langsung bertengger di zona hijau. Dibuka naik tipis di 6.997, indeks sempat melaju hingga menyentuh level tertinggi intraday di 7.068,55 sebelum akhirnya sedikit terpangkas pada jam-jam terakhir perdagangan. Sepanjang sesi, IHSG bergerak dalam rentang yang relatif lebar, mencerminkan dinamika aksi ambil untung dan akumulasi yang berlangsung silih berganti. Total volume transaksi mencapai 19,8 miliar lembar saham dengan nilai perdagangan sebesar Rp 11,7 triliun dan frekuensi sebanyak 1,3 juta kali. Data ini menunjukkan likuiditas pasar yang masih sangat tinggi, terutama ditopang oleh investor ritel yang tetap agresif.
Sektor energi dan barang baku menjadi motor utama penguatan indeks hari ini. Kenaikan harga komoditas global, khususnya minyak mentah dan batu bara, mendorong saham-saham tambang dan energi untuk kembali diburu. Saham-saham seperti ADRO (Alamtri Resources Indonesia), PTBA (Bukit Asam), serta emiten migas MEDC (Medco Energi) menjadi kontributor signifikan terhadap kenaikan IHSG. Di luar sektor komoditas, saham-saham perbankan big-cap seperti BBCA (Bank Central Asia), BBRI (Bank Rakyat Indonesia), dan BMRI (Bank Mandiri) juga turut menyumbang penguatan setelah laporan kinerja semester I-2022 yang solid mendorong optimisme pelaku pasar. Sementara itu, sektor teknologi dan konsumer non-primer tercatat relatif stagnan seiring dengan arah rotasi dana ke sektor yang lebih defensif.
Sentimen positif global menjadi angin segar bagi pergerakan bursa regional termasuk IHSG. Data ekonomi Amerika Serikat yang dirilis semalam menunjukkan angka PMI Manufaktur ISM lebih rendah dari ekspektasi, yang justru dimaknai oleh pelaku pasar sebagai sinyal bahwa agresivitas The Fed dalam menaikkan suku bunga mungkin bisa berkurang. Dampaknya, indeks saham utama Wall Street bergerak variatif namun cenderung terkoreksi terbatas, sementara imbal hasil obligasi pemerintah AS turun. Di sisi lain, pergerakan bursa Asia juga didominasi oleh sentimen serupa, dengan Nikkei 225 dan Hang Seng yang kompak menguat. Kondisi ini membuka ruang bagi investor asing untuk kembali masuk ke pasar Indonesia, yang ditandai dengan pembelian bersih asing sebesar Rp 350 miliar di seluruh papan perdagangan.
"Kami melihat hari ini investor asing kembali net buy cukup signifikan, terutama di saham-saham berkapitalisasi besar. Pola ini menandakan bahwa Indonesia tetap menjadi tujuan diversifikasi yang menarik di tengah ketidakpastian global karena fundamental ekonominya yang relatif solid," ujar Frankie Wijoyo, analis senior dari PT Panin Sekuritas Tbk, saat dihubungi terpisah.
Lebih lanjut, Frankie menjelaskan bahwa rilis data inflasi domestik yang terkendali dan surplus neraca perdagangan yang mencatat rekor baru menjadi katalis positif tambahan. Inflasi Juli yang berada pada angka 4,94 persen secara tahunan di bawah estimasi konsensus memberikan kelegaan bahwa daya beli masyarakat dan margin korporasi tidak akan tergerus terlalu tajam. Sementara itu, surplus perdagangan Indonesia yang terus berlanjut memperkuat cadangan devisa dan stabilitas rupiah. Di pasar valuta, rupiah hari ini tercatat stabil di kisaran Rp 14.920 per dolar AS, tidak banyak berubah dari penutupan sebelumnya, yang turut menjaga kepercayaan diri investor pasar modal.
Dari sisi teknikal, IHSG kini kembali bertahan di atas level psikologis 7.000 yang sebelumnya sempat terancam. Penutupan di atas area ini akan menjadi konfirmasi awal bagi potensi penguatan lebih lanjut menuju resistance berikutnya di sekitar 7.100–7.120. Volume transaksi yang besar dalam beberapa hari terakhir juga menunjukkan adanya upaya akumulasi oleh pelaku pasar besar. Meski demikian, analis mengingatkan agar investor tetap waspada terhadap potensi profit taking di akhir pekan seiring dengan akan dirilisnya data tenaga kerja AS yang dapat mempengaruhi arah suku bunga global.
Sementara itu, sektor konstruksi dan properti mulai mencuri perhatian karena ekspektasi realisasi belanja pemerintah yang memasuki paruh kedua tahun berjalan. Emiten seperti WIKA (Wijaya Karya) dan ADHI (Adhi Karya) ditutup menguat cukup signifikan di tengah harapan akan percepatan proyek Ibu Kota Nusantara (IKN) yang kembali mencuat. Reli ini juga diikuti oleh saham-saham semen seperti SMGR (Semen Indonesia) dan INTP (Indocement) yang menjadi pemasok utama material konstruksi nasional. Jika momentum ini berlanjut, bukan tidak mungkin IHSG akan mencatatkan reli jangka pendek hingga level 7.200 dalam beberapa pekan ke depan.
Pasar kini menanti rilis data ekonomi lanjutan dari dalam negeri, termasuk Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal II-2022 yang diperkirakan tumbuh di kisaran 5,1–5,2 persen. Data tersebut akan menjadi ujian lanjutan bagi optimisme pemulihan ekonomi nasional serta kemampuan emiten dalam menjaga kinerja laba. Otoritas bursa dan regulator juga dipastikan terus memantau pergerakan pasar untuk mencegah volatilitas yang berlebihan. Di sisi lain, sikap BI yang masih menahan suku bunga acuan rendah juga menjadi bantalan bagi kredit dan investasi.
[SOCIAL_TWEET]: IHSG kembali perkasa! Ditutup di 7.046,63 pasca menguat 58,47 poin. Sektor energi & perbankan jadi motor utama. #IHSG #PasarModal #BEI [SOCIAL_TG]: IHSG Rabu ini naik! Menguat 58 poin ke 7.046,63. Beli asing, komoditas naik, & teknikal kuat bikin indeks kembali ke atas 7.000. Siap menuju 7.100? 🚀
Comments (0)