Wall Street Cetak Sejarah, Dow Jones Tembus Level 40.000

New York — Hiruk-pikuk di lantai Bursa Efek New York (NYSE) mencapai puncaknya pada Senin, 13 Oktober 2025, saat pialang saham veteran John Romolo dan reka

Jul 13, 2026 - 14:40
0 0
Wall Street Cetak Sejarah, Dow Jones Tembus Level 40.000

New York — Hiruk-pikuk di lantai Bursa Efek New York (NYSE) mencapai puncaknya pada Senin, 13 Oktober 2025, saat pialang saham veteran John Romolo dan rekan-rekannya berjibaku merespons lonjakan pasar yang memecahkan rekor. Indeks Dow Jones Industrial Average untuk pertama kalinya dalam sejarah menembus level psikologis 40.000, didorong oleh derasnya optimisme terhadap kebijakan moneter dan laporan keuangan emiten raksasa.

Dari Data Inflasi hingga Pembukaan Perdagangan

Aksi beli yang agresif mulai terlihat sejak pra-pembukaan, setelah Biro Statistik Tenaga Kerja AS merilis indeks harga konsumen (IHK) September yang naik hanya 0,1% secara bulanan—lebih rendah dari ekspektasi pasar sebesar 0,3%. Inflasi tahunan pun melandai ke 2,4%, mendekati target The Fed. Sentimen tersebut memantik keyakinan bahwa bank sentral akan memangkas suku bunga acuan lebih dalam pada rapat November.

Ketika bel pembukaan berdentang pukul 9:30 pagi waktu setempat, layar monitor di seluruh lantai bursa langsung berwarna hijau pekat. Romolo, yang telah 22 tahun berkecimpung di Wall Street, terlihat cekatan mengeksekusi order beli dari klien-klien institusionalnya.

“Ini adalah salah satu sesi tersibuk dalam karier saya. Arus dana masuk sangat deras, seperti tsunami,” ujar Romolo kepada awak media di sela transaksi, sambil terus memandangi enam layar komputernya yang menampilkan real-time data.

Kronologi Menuju Puncak 40.000

Berikut urutan peristiwa penting yang mewarnai sesi bersejarah tersebut:

  1. 08:30 ET: IHK September diumumkan, di bawah estimasi, memicu lonjakan kontrak berjangka indeks utama.
  2. 09:30 ET: Bel pembukaan; Dow Jones langsung melompat 380 poin.
  3. 11:02 ET: Dow Jones menyentuh 40.000,11 sebelum mundur tipis, didorong kenaikan saham Apple, Microsoft, dan Goldman Sachs yang masing-masing naik lebih dari 3%.
  4. 12:15 ET: S&P 500 dan Nasdaq Composite mengikuti jejak, masing-masing menyentuh level tertinggi sepanjang masa di 5.842 dan 18.910.
  5. 15:45 ET: Aksi ambil untung terbatas muncul, namun indeks bertahan di zona hijau.
  6. 16:00 ET: Penutupan: Dow Jones di 39.987, S&P 500 di 5.831, Nasdaq di 18.872—ketiganya rekor penutupan baru.

Pendorong Utama di Balik Reli

Selain data inflasi, rilis laba kuartal III beberapa emiten blue-chip pada akhir pekan sebelumnya ikut menyulut reli. Apple melaporkan pendapatan melebihi ekspektasi berkat penjualan iPhone 17 yang fenomenal di Asia, sementara Microsoft membukukan pertumbuhan cloud 28%. Di sektor keuangan, Goldman Sachs dan JPMorgan Chase mencatat kinerja trading terbaik dalam lima tahun.

Volume perdagangan di NYSE pada sesi ini mencapai 6,2 miliar lembar saham, 45% di atas rata-rata harian. Romolo dan timnya mencatatkan lebih dari 1,2 juta lot order jual-beli, dengan 72% di antaranya adalah posisi beli. “Kami melihat partisipasi ritel yang signifikan melalui platform digital, sesuatu yang jarang terjadi pada sesi sebesar ini,” kata Kepala Strategi Pasar dari Morgan Stanley, Emily Carter, dalam catatannya.

Implikasi dan Proyeksi

Analis menilai penembusan level 40.000 bukan sekadar angka psikologis. Ia menandakan selesainya fase “wall of worry” yang membayangi pasar sejak krisis perbankan regional 2024 dan gejolak geopolitik di Timur Tengah. “Momentum ini bisa berlanjut hingga akhir tahun, asalkan The Fed tidak memberikan kejutan hawkish,” ujar Carter. Sementara itu, ekonom senior Goldman Sachs memproyeksikan S&P 500 berpotensi menyentuh 6.000 pada pertengahan 2026.

Namun, sejumlah fund manager mengingatkan risiko valuasi. Rasio harga terhadap laba (P/E) S&P 500 kini berada di 23,5 kali—di atas rata-rata historis 16-18 kali. “Koreksi 5-7% dalam jangka pendek tetap mungkin terjadi, khususnya menjelang pemilu paruh waktu atau eskalasi tensi dagang dengan Tiongkok,” tulis analis dari BlackRock.

Bagi investor Indonesia, reli Wall Street ini membawa angin segar. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Selasa pagi diperkirakan menguat signifikan, mengikuti sentimen global. Rupiah juga berpotensi terapresiasi di bawah 15.200 per dolar AS karena aliran modal asing yang masuk ke pasar obligasi domestik.

Sementara itu, di lantai bursa yang mulai sepi setelah penutupan, Romolo menyempatkan diri merefleksikan hari bersejarah itu. “Saya sudah melihat banyak hal di sini—resesi, bubble, pemulihan. Tapi hari ini memberi saya keyakinan bahwa ekonomi Amerika masih memiliki daya tahan luar biasa,” pungkasnya.

[SOCIAL_TWEET]: BREAKING: Dow Jones tembus 40.000 untuk pertama kalinya! Inflasi melandai, pasar saham AS cetak rekor baru. Pialang John Romolo: “Seperti tsunami order beli.” Simak kronologi dan analisisnya. #WallStreet #Dow40K #Investasi[SOCIAL_TG]: 📈 BREAKING: Wall Street cetak sejarah! Dow Jones resmi sentuh 40.000. Inflasi rendah & laba emiten jadi pemicu. Simak kronologinya 🚀

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User