Disdikpora Pandeglang Terapkan MPLS Ramah Anak dan Interaktif

PANDEGLANG – Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Pandeglang resmi mengubah arah kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (

Jul 12, 2026 - 18:08
0 0

PANDEGLANG – Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Pandeglang resmi mengubah arah kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) menjadi lebih ramah anak pada tahun ajaran 2026/2027. Kebijakan ini menjadikan MPLS sebagai ajang interaksi alami antar peserta didik baru agar mereka cepat mandiri, percaya diri, dan nyaman di lingkungan belajar. Tidak hanya pada jenjang Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP), pendekatan serupa juga diterapkan pada satuan pendidikan nonformal seperti Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM).

Kepala Disdikpora Pandeglang, Sutoto, menegaskan bahwa orientasi MPLS kini bergeser dari sekadar pengenalan fisik sekolah menuju pembentukan karakter, penanaman nilai, dan pembiasaan tata tertib. "Kita implementasi MPLS ramah anak yang berlaku serentak di seluruh satuan pendidikan. Hal ini dilakukan demi memastikan seluruh anak mendapatkan perlakuan pendidikan yang setara dan bermartabat," ujarnya, Minggu (12/7).

MPLS Bukan Lagi Arena Senioritas

Salah satu poin krusial dalam kebijakan ini adalah larangan keras terhadap bentuk senioritas, kekerasan verbal maupun fisik, serta tekanan psikologis yang dahulu kerap mewarnai Masa Orientasi Sekolah (MOS). Disdikpora mewajibkan seluruh sekolah merancang MPLS yang edukatif, partisipatif, dan menyenangkan tanpa atribut yang merendahkan. "MPLS harus menjadi momen pertama yang membekas positif di benak anak. Tidak boleh ada cercaan, tugas aneh, atau hukuman yang menjatuhkan mental. Kami minta guru dan panitia OSIS melakukan pendampingan penuh," imbuh Sutoto.

Sebagai gantinya, panitia MPLS menggelar sesi pengenalan lingkungan dengan metode jalan santai keliling sekolah, diskusi kelompok tentang visi-misi sekolah, serta permainan kolaboratif yang memicu keakraban. Setiap kelas juga mendapatkan sesi simulasi darurat bencana dan tata tertib berlalu lintas, sehingga peserta didik langsung memahami prosedur keselamatan sejak dini. "Anak-anak diajak berdialog, bukan digurui. Mereka jadi lebih mudah bertanya dan mengenal guru sebagai figur pendamping, bukan sosok yang ditakuti," ujar Retno, salah satu guru pendamping MPLS di SMP Negeri 2 Pandeglang.

Pengembangan Karakter Lewat Interaksi

Melalui format interaktif, MPLS difungsikan sebagai laboratorium karakter pertama di sekolah. Setiap hari peserta didik baru diajak menjalankan ice breaking yang dirancang untuk mencairkan sekat di antara mereka, seperti permainan trust fall ringan dan cerita bergilir tentang cita-cita. Kegiatan ini sekaligus menjadi ajang deteksi dini potensi kepemimpinan, kemampuan komunikasi, dan empati siswa.

Di tingkat SD, MPLS lebih banyak diisi dengan kegiatan bermain peran (role play) tentang tata tertib dan saling menghargai perbedaan. Sementara di SMP, siswa diajak menyusun kesepakatan kelas sendiri—sebuah kontrak sosial mini yang mereka tanda tangani bersama. "Kami ingin anak-anak merasa memiliki aturan, bukan sekadar dipaksa mematuhinya. Ini bagian dari pendidikan karakter yang konkret," kata Sutoto.

Kolaborasi Sekolah dan Orang Tua

Keberhasilan MPLS ramah anak juga bergantung pada keterlibatan orang tua. Disdikpora mengimbau setiap sekolah mengundang komite dan wali murid dalam sesi pengenalan program tahun ini. Pada sesi itu, orang tua bisa menyampaikan aspirasi sekaligus memahami metode pembelajaran yang akan diterapkan. "MPLS bukan hanya pintu masuk anak, tapi juga orang tua ke dalam ekosistem sekolah. Kolaborasi harus dimulai sejak hari pertama," papar Sutoto. Sejumlah sekolah di Pandeglang bahkan menggelar sesi “Sapa Pagi” di mana kepala sekolah dan guru menyambut langsung orang tua beserta anak di gerbang pada hari pertama MPLS, menciptakan suasana hangat dan kekeluargaan.

Target dan Harapan Jangka Panjang

Lebih dari sekadar seremoni tahunan, MPLS ramah anak diharapkan menjadi fondasi budaya sekolah yang mendukung kesehatan mental siswa. Sutoto menyatakan bahwa evaluasi berkala akan dilakukan bersama pengawas sekolah untuk memastikan tidak ada penyimpangan. Sekolah yang melanggar prinsip ramah anak akan dikenakan sanksi administratif dan pembinaan khusus. "Kami ingin sekolah benar-benar menjadi ruang tumbuh yang aman dan membahagiakan," tegasnya.

Dengan perubahan ini, pengalaman hari pertama siswa tidak lagi dihantui oleh bayang-bayang senioritas, melainkan diwarnai tawa, kolaborasi, dan rasa ingin tahu. Tahun ajaran 2026/2027 di Pandeglang pun dibuka dengan semangat baru: bahwa belajar itu menyenangkan—dan semua anak berhak memulainya dengan senyuman.

[SOCIAL_TWEET]: MPLS di Pandeglang kini ramah anak! Tanpa senioritas & tekanan, penuh interaksi & pengembangan karakter. Kepala Disdikpora: “Semua anak berhak mendapat perlakuan bermartabat.” #MPLSRamahAnak #PendidikanInklusif #Pandeglang[SOCIAL_TG]: 📚 MPLS Ramah Anak Resmi Berlaku di Pandeglang! 🎒 Dilarang senioritas & kekerasan 👫 Disambut dengan diskusi & permainan 🏫 SD, SMP, hingga PKBM wajib ikuti aturan ini Selengkapnya di artikel 👇

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User