Disabilitas Netra Wakili Aceh di Ajang Murattal Nasional
Banda Aceh — Seorang penyandang disabilitas netra asal Aceh mencatatkan sejarah membanggakan setelah terpilih menjadi satu-satunya perwakilan dari provinsi
Banda Aceh — Seorang penyandang disabilitas netra asal Aceh mencatatkan sejarah membanggakan setelah terpilih menjadi satu-satunya perwakilan dari provinsi Serambi Mekkah dalam ajang Musabaqah Murattal tingkat nasional yang digelar tahun ini. Kehadirannya di panggung kompetisi bergengsi tersebut bukan sekadar partisipasi biasa—ia membawa nama Aceh di tengah puluhan peserta dari seluruh Indonesia yang mayoritas tidak memiliki keterbatasan penglihatan.
Perjalanan Menuju Panggung Nasional
Muhammad Rizky Fadhilah, pemuda 22 tahun asal Kabupaten Aceh Besar, telah menekuni seni tilawah Al-Qur'an sejak usia sembilan tahun. Meski kehilangan penglihatannya sejak lahir akibat retinopathy of prematurity, semangatnya untuk mendalami murattal tidak pernah surut. Ia belajar membaca Al-Qur'an Braille di Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPQ) khusus disabilitas yang dikelola oleh Dinas Sosial Aceh, sebelum akhirnya berguru kepada sejumlah qari ternama di Banda Aceh.
"Saya tidak pernah merasa kekurangan. Justru Al-Qur'an menjadi cahaya yang menuntun hidup saya. Ketika mata fisik tidak bisa melihat, hati dan telinga saya justru lebih peka terhadap keindahan ayat-ayat-Nya,"
ujar Rizky saat ditemui di sela-sela latihan intensifnya di Aula Dinas Sosial Aceh, Kamis lalu.
Seleksi Ketat dan Dukungan Penuh Dinsos Aceh
Proses seleksi menuju ajang nasional tidaklah mudah. Rizky harus bersaing dengan puluhan peserta lain dalam seleksi tingkat kabupaten dan provinsi yang diselenggarakan oleh Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur'an (LPTQ) Aceh. Penilaian meliputi ketepatan tajwid, keindahan irama, serta penghayatan makna ayat—semuanya dilakukan tanpa ada perlakuan khusus atau penyesuaian standar bagi peserta disabilitas.
Kepala Dinas Sosial Aceh, Drs. Yusrizal, M.Si., menyatakan rasa bangganya atas pencapaian Rizky. Menurutnya, keberhasilan ini menjadi bukti nyata bahwa penyandang disabilitas memiliki potensi luar biasa bila diberikan akses dan dukungan yang memadai.
"Kami terus mendorong program inklusi sosial yang memberdayakan penyandang disabilitas di semua bidang, termasuk seni dan keagamaan. Rizky adalah bukti hidup bahwa keterbatasan fisik tidak menghalangi seseorang untuk berprestasi di level nasional,"
tegas Yusrizal.
Murattal: Seni Tilawah yang Menggetarkan Jiwa
Bagi yang belum familiar, murattal adalah seni membaca Al-Qur'an dengan tempo perlahan, tartil, dan penuh penghayatan. Berbeda dengan tilawah yang sering menonjolkan variasi nada tinggi dan improvisasi melodi, murattal lebih menekankan ketenangan, ketepatan makhraj huruf, dan perenungan makna. Justru di sinilah letak keistimewaan Rizky—dengan keterbatasan penglihatannya, ia mampu menyelami setiap ayat dengan kedalaman emosional yang sulit ditandingi peserta lain.
Para juri dalam seleksi tingkat provinsi, menurut keterangan panitia, memberikan nilai hampir sempurna untuk aspek penghayatan dan ketepatan tajwid Rizky. Nilai itulah yang mengantarkannya menjadi wakil tunggal Aceh, mengungguli peserta-peserta lain yang tidak memiliki disabilitas.
Makna Representasi bagi Komunitas Disabilitas
Keikutsertaan Rizky di ajang nasional membawa makna yang jauh lebih besar daripada sekadar kompetisi. Organisasi penyandang disabilitas di Aceh menilai momen ini sebagai turning point dalam perjuangan kesetaraan akses dan pengakuan publik terhadap kemampuan mereka.
Ketua Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) Cabang Aceh, Marzuki Abdullah, menyebutkan bahwa selama ini penyandang disabilitas netra masih sering dipandang sebelah mata dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam kegiatan keagamaan formal.
"Apa yang dicapai Rizky bukan hanya kebanggaan pribadi atau keluarga, tapi juga kemenangan simbolis bagi seluruh komunitas disabilitas di Aceh. Ini mengirim pesan kuat: kami bisa, kami mampu, dan kami layak diberi ruang yang setara,"
kata Marzuki dengan suara bergetar.
Persiapan Menuju Hari Pertandingan
Saat ini, Rizky tengah menjalani program latihan intensif selama dua bulan di bawah bimbingan Ustaz Dr. H. Syamsul Bahri, Lc., MA., seorang qari internasional asal Aceh yang pernah meraih juara di berbagai kompetisi tilawah tingkat dunia. Program ini didanai sepenuhnya oleh Pemerintah Aceh melalui Dinas Sosial sebagai bentuk dukungan konkret terhadap partisipasi penyandang disabilitas di kancah nasional.
Latihan mencakup:
- Pendalaman tajwid dan makharijul huruf dengan metode tahsin intensif
- Olah vokal dan pernapasan untuk menjaga stamina suara selama kompetisi
- Simulasi lomba dengan tekanan psikologis tinggi untuk membangun mental bertanding
- Pendalaman tafsir ayat untuk memperkuat penghayatan saat membaca
- Adaptasi panggung dengan mengandalkan orientasi auditori murni
Ajang Musabaqah Murattal Nasional akan berlangsung di Jakarta Convention Center pada bulan depan, dengan peserta dari 34 provinsi di Indonesia. Rizky akan membawakan Surah Ar-Rahman dan Surah Al-Waqi'ah—dua surah yang dipilihnya sendiri karena menurutnya memiliki kedalaman makna tentang kebesaran Allah yang sangat menyentuh hatinya.
Harapan untuk Masa Depan Inklusif
Di luar kompetisi, Rizky memiliki cita-cita besar: mendirikan pondok pesantren khusus penyandang disabilitas netra di Aceh. Ia ingin memastikan bahwa anak-anak dengan keterbatasan penglihatan di provinsinya memiliki akses pendidikan Al-Qur'an yang setara dan berkualitas, tanpa harus merasa terpinggirkan seperti yang pernah ia rasakan semasa kecil.
Kisah Rizky menjadi cermin bahwa Aceh, negeri yang dikenal dengan tradisi keislamannya yang kuat, sedang bergerak menuju era inklusivitas yang lebih nyata. Partisipasinya di ajang nasional bukanlah puncak, melainkan awal dari perjuangan panjang melawan stigma dan diskriminasi yang masih membelenggu penyandang disabilitas di berbagai sektor kehidupan.
Masyarakat Aceh sendiri menyambut antusias kabar ini. Dukungan moral mengalir deras melalui media sosial dan komunitas-komunitas pengajian di seluruh penjuru provinsi. Banyak yang mendoakan agar Rizky tidak hanya membawa pulang prestasi, tetapi juga membuka pintu bagi penyandang disabilitas lainnya untuk berani tampil dan berkarya tanpa rasa rendah diri.
[SOCIAL_TWEET]: Tanpa penglihatan sejak lahir, Muhammad Rizky Fadhilah justru mampu menyelami keindahan Al-Qur'an lebih dalam dari siapa pun. Pemuda Aceh ini menjadi satu-satunya wakil provinsinya di ajang Murattal Nasional. Keterbatasan bukan penghalang, melainkan jalan menuju cahaya. #DisabilitasBerprestasi #MurattalNasional #AcehMendunia[SOCIAL_TG]: 🕌✨ Muhammad Rizky Fadhilah, pemuda disabilitas netra asal Aceh Besar, siap berlaga sebagai satu-satunya wakil Aceh di ajang Murattal Nasional! Dengan keterbatasan penglihatan, ia justru mampu menghayati setiap ayat dengan kedalaman luar biasa. Doa terbaik untuk ananda Rizky! 🤲💚 #Aceh #MurattalNasional #InklusiDisabilitas
Comments (0)