Bukan Klakson, Survei Ini Ungkap Penyebab Utama Orang Emosional di Jalan
Berkendara di jalan raya sering kali menjadi ajang uji kesabaran. Kemacetan, manuver tak terduga, hingga perilaku pengendara lain bisa memicu emosi yang meledak-ledak. Namun, sebuah survei terbaru me
Berkendara di jalan raya sering kali menjadi ajang uji kesabaran. Kemacetan, manuver tak terduga, hingga perilaku pengendara lain bisa memicu emosi yang meledak-ledak. Namun, sebuah survei terbaru mengungkap bahwa pemicu utama kemarahan di jalan ternyata bukanlah suara klakson yang bising, melainkan faktor lain yang lebih mengganggu.
Survei ini dilakukan oleh DiscoverCars pada April 2026 dengan melibatkan lebih dari 700 responden. Para partisipan merupakan konsumen platform penyewaan mobil, yang mayoritas adalah wisatawan internasional yang berpengalaman mengemudikan mobil sewaan di berbagai negara. Melalui kuesioner jajak pendapat, mereka diminta untuk berbagi pengalaman pribadi terkait road rage atau kemarahan di jalan raya, serta mengidentifikasi perilaku pengemudi lain yang paling membuat mereka naik darah.
Perilaku Agresif Lebih Menyulut Emosi
Menurut laporan yang dihimpun media kami, hasil survei tersebut menunjukkan bahwa tindakan agresif seperti menyalip secara berbahaya dan memotong jalur secara tiba-tiba menduduki peringkat teratas sebagai pemicu utama emosi pengemudi. Menariknya, penggunaan klakson yang berlebihan—yang selama ini kerap dituding sebagai biang kerok keributan di jalan—justru berada di urutan bawah dalam daftar keluhan responden.
"Responden cenderung merasa lebih terancam dan tersulut emosi ketika merasa keselamatan mereka diganggu oleh manuver agresif pengendara lain. Klakson mungkin menjengkelkan, tetapi bukan itu yang membuat seseorang benar-benar marah hingga terjadi konfrontasi," demikian disarikan dari temuan survei tersebut.
Survei ini juga mengidentifikasi negara-negara dengan pengemudi yang paling sering terlibat kemarahan di jalan dan paling sering merasa terganggu oleh perilaku pengemudi lain. Temuan ini memberikan gambaran bahwa kemarahan di jalan raya lebih dipicu oleh persepsi ancaman terhadap keselamatan pribadi, bukan sekadar kebisingan atau ketidaknyamanan ringan. Perilaku seperti memotong jalur tanpa memberi isyarat, mengejar terlalu dekat di belakang kendaraan (tailgating), dan berpindah lajur secara zig-zag dinilai jauh lebih memprovokasi emosi negatif dibandingkan suara klakson yang berkepanjangan.
Survei ini menjadi cerminan penting bagi para pengemudi untuk lebih mawas diri terhadap perilaku di jalan. Mengemudi secara defensif dan menghindari manuver agresif bukan hanya soal keselamatan, tetapi juga kunci menciptakan harmoni di tengah lalu lintas yang padat.
Comments (0)