BUENOS AIRES — Pakar VAR Sebut Mesir Layak Penalti Sebelum Gol Argentina
BUENOS AIRES — Kontroversi panas meletup di Stadion Monumental seusai Argentina menyingkirkan Mesir 3-2 di babak 16 besar Piala Dunia 2026, Selasa malam WI
BUENOS AIRES — Kontroversi panas meletup di Stadion Monumental seusai Argentina menyingkirkan Mesir 3-2 di babak 16 besar Piala Dunia 2026, Selasa malam WIB. Kemenangan dramatis Albiceleste diwarnai insiden krusial pada menit ke-89, saat skor masih 2-2. Mohamed Salah jatuh di kotak penalti Argentina setelah kontak keras dengan Cristian Romero, namun wasit Antonio Mateu Lahoz mengabaikan insiden. Satu menit berselang, Julian Alvarez mencetak gol kemenangan yang mengirim Mesir pulang dengan air mata.
Analisis tayangan ulang dari tiga sudut kamera menunjukkan bek Tottenham itu menginjak kaki kiri Salah tanpa menyentuh bola. Mantan kepala operasi VAR FIFA, Manuel Diaz Vega, menegaskan: "Protokol jelas—ini pelanggaran titik putih. VAR seharusnya merekomendasikan review di tepi lapangan. Tidak ada alasan teknis untuk mengabaikannya."
Kronologi Detik-Detik Kelalaian VAR
Durasi insiden hanya 8 detik dari kontak hingga Salah terjatuh—waktu yang cukup bagi VAR untuk mencegat pertandingan. Namun, komunikasi internal yang bocor ke media menunjukkan petugas VAR Giorgio Chiellini memutuskan kontak "tidak cukup kuat untuk penalti," meski bukti video memperlihatkan kaki Salah tertekuk secara tidak wajar. Dalam rekaman audio yang beredar, Chiellini terdengar berkata: "Small touch, play on."
Pakar VAR Buka Suara: Pelanggaran Jelas
Diaz Vega, yang kini menjadi konsultan independen, membedah protokol di Twitter Spaces sesaat setelah laga. "Jika Salah tidak dijatuhkan, ia bisa melepaskan tembakan bersih dari jarak 10 meter. Romero tidak memainkan bola—hanya kaki lawan yang dihajar. Standar VAR di Piala Dunia ini mengecewakan dan merusak kredibilitas."
Pendapatnya diperkuat mantan wasit Liga Inggris, Mark Clattenburg, yang menulis di kolom Daily Mail: "Ini kesalahan fatal yang merampas hak Mesir. VAR diciptakan untuk momen seperti ini, tapi justru gagal total." Sementara itu, mantan direktur teknis FIFA, Marco van Basten, menyebut insiden sebagai "episode paling memalukan dalam sejarah VAR."
Data Perbandingan: Inkonsistensi VAR di Babak 16 Besar
| Pertandingan | Menit | Kontak | Keputusan Wasit | Intervensi VAR |
|---|---|---|---|---|
| Argentina vs Mesir | 89' | Injak kaki | Tidak ada pelanggaran | Tidak |
| Prancis vs Denmark | 78' | Tarik jersey | Penalti | Konfirmasi |
| Brasil vs Uruguay | 90+2' | Sikut ke wajah | Kartu merah | Meminta review |
Perbandingan di atas menunjukkan inkonsistensi implementasi VAR. Insiden Salah tidak berbeda signifikan dengan penalti yang diberikan ke Prancis, tetapi Mesir dirugikan. Angka 0 intervensi VAR dalam situasi kritis ini mempertajam kejanggalan. Sepanjang Piala Dunia 2026, tercatat 12 insiden kontak kotak penalti yang tidak direview VAR, naik dari 5 kasus serupa di edisi 2022.
Jejak Kelam VAR di Piala Dunia 2026
Sejak fase grup, tercatat 8 keputusan kontroversial yang terkait penalti, dengan 4 di antaranya terjadi di babak sistem gugur. Pelatih tim peserta, termasuk pelatih Kamerun Rigobert Song, sebelumnya sudah melontarkan protes keras. "VAR seperti lotere—Anda tidak pernah tahu kapan akan berfungsi," ujar Song usai laga penyisihan grup. Statistik intervensi VAR per pertandingan terjun bebas: dari rata-rata 2,8 di Piala Dunia 2022 menjadi hanya 1,6 di edisi kali ini, menandakan ketidakpercayaan wasit di lapangan terhadap teknologi.
Dampak dan Langkah Hukum Mesir
Federasi Sepak Bola Mesir (EFA) resmi melayangkan protes ke FIFA pada Rabu pagi. Presiden EFA, Hany Abo Rida, menyebut kegagalan VAR "skandal sistemik yang merusak integritas Piala Dunia." Meski protes dikabulkan, hasil pertandingan tidak dapat diubah. FIFA hanya bisa menjatuhkan sanksi administratif, termasuk pemecatan petugas VAR yang bertugas. Mesir pulang dengan rasa pahit, sementara Argentina melaju ke perempat final dengan noda yang sulit dihapus.
Para pengamat mendesak reformasi protokol komunikasi VAR. Diaz Vega memperkirakan: "Piala Dunia 2026 bisa kehilangan legitimasi jika kasus-kasus seperti ini terus dibiarkan. Kita butuh transparansi audio langsung ke publik, seperti di rugby."
Comments (0)