Sebut Mbappé 'Kamerun Terjajah', Komentar Rasis Senator Paraguay Dikecam Pemerintahnya Sendiri!

ASUNCIÓN — Pemerintah Paraguay secara resmi mengecam dan menolak komentar rasis seorang senator yang menyebut mega bintang Prancis, Kylian Mbappé, sebagai

Jul 09, 2026 - 19:46
0 0
Sebut Mbappé 'Kamerun Terjajah', Komentar Rasis Senator Paraguay Dikecam Pemerintahnya Sendiri!

ASUNCIÓN — Pemerintah Paraguay secara resmi mengecam dan menolak komentar rasis seorang senator yang menyebut mega bintang Prancis, Kylian Mbappé, sebagai "orang Kamerun yang dijajah." Pernyataan kontroversial itu dilontarkan Senator Celeste Amarilla melalui akun media sosialnya, memicu gelombang kemarahan publik dan tekanan diplomatik dalam waktu kurang dari 24 jam.

Ledakan kemarahan itu bermula ketika Mbappé — penyerang Real Madrid yang baru saja mengantarkan Prancis ke semifinal Piala Dunia 2026 — mengkritik keras budaya rasisme yang masih mengakar di sepak bola Amerika Selatan dalam sebuah wawancara eksklusif. Tanpa menyebut nama negara, Mbappé menyinggung perlakuan diskriminatif terhadap pemain keturunan Afrika di liga-liga Amerika Latin. Amarilla, senator dari partai berkuasa, langsung bereaksi dengan nada bernada kolonial yang menghina leluhur Kamerun Mbappé.

"Pemerintah Paraguay mengecam dan menolak dengan tegas komentar diskriminatif dan rasis yang ditujukan kepada pemain sepak bola Kylian Mbappé oleh Senator Celeste Amarilla. Komentar semacam ini tidak mencerminkan nilai-nilai bangsa Paraguay yang multikultural dan terhormat."

Demikian bunyi pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri Paraguay yang dirilis mendadak pada Selasa malam waktu setempat (21/1). Ini menjadi tamparan keras bagi Amarilla karena kecaman justru datang dari pemerintahannya sendiri.

Kronologi: Dari Kritik ke Komentar Kolonial

  • Sabtu (18/1): Mbappé dalam wawancara dengan L'Équipe mengkritik "budaya rasisme yang diwariskan dari masa kolonial" di sepak bola Amerika Selatan. Ia mencontohkan insiden pisang yang dilempar ke pemain Brasil dan ejekan monyet yang sering terjadi di stadion.
  • Senin (20/1): Senator Celeste Amarilla mengunggah cuitan bernada ofensif: "Mbappé lupa bahwa dia sendiri adalah orang Kamerun yang dijajah. Jangan menggurui kami soal peradaban." Cuitan itu kini telah dihapus setelah banjir protes.
  • Selasa (21/1): Kedutaan Besar Prancis di Asunción menyampaikan nota protes. Pemerintah Paraguay langsung merespons dengan pernyataan kecaman.

Yang memicu kontroversi lebih tajam, Amarilla justru menuntut permintaan maaf dari Mbappé. Dalam wawancara dengan radio lokal, ia berdalih bahwa "Mbappé telah menghina seluruh rakyat Amerika Selatan, dan Paraguay khususnya, dengan generalisasi itu." Sikapnya menuai kecaman dari berbagai organisasi anti-rasisme termasuk FIFA dan Asosiasi Pemain Profesional Dunia (FIFPRO).

Komentar Amarilla dianggap sebagai bentuk rasisme kolonial yang merendahkan identitas Mbappé. Ayah Mbappé, Wilfried Mbappé, adalah imigran dari Kamerun yang menjadi pelatih sepak bola di Prancis. Menyebut seseorang sebagai "orang terjajah" adalah hinaan rasis yang secara eksplisit merendahkan sejarah bangsa Afrika dan warisan kolonialisme Eropa.

"Ini bukan sekadar cuitan bodoh, ini adalah cerminan dari mentalitas kolonial yang masih hidup di sebagian elite Amerika Latin," tegas Lilian Thuram, mantan bek timnas Prancis dan aktivis anti-rasisme, dalam wawancara dengan France 24.

Dampak Politik dan Tekanan Mundur

Dari dalam negeri, beberapa rekan sesama senator mendesak Amarilla untuk mundur atau setidaknya menyampaikan permintaan maaf publik. Namun hingga berita ini diturunkan, Amarilla tetap bersikukuh. Sebaliknya, ia meminta pemerintah Paraguay untuk "membelanya dari tekanan asing."

Di media sosial, tagar #AmarillaRacista dan #MbappéRespect menggema dalam tiga bahasa, mencerminkan kegeraman publik global. Federasi Sepak Bola Paraguay (APF) juga merilis pernyataan terpisah, mengakui bahwa komentar Amarilla "tidak mewakili semangat persaudaraan sepak bola nasional."

Pengamat politik melihat insiden ini dapat merusak upaya Paraguay memperbaiki citra internasional menjelang KTT Mercosur bulan depan. "Serangan rasis dari pejabat publik sangat merusak hubungan bilateral dengan Prancis dan bisa berdampak pada kerja sama ekonomi," ujar Dr. Mónica Pérez, analis hubungan internasional dari Universidad Nacional de Asunción.

Reaksi Mbappé: Diam Bermakna

Hingga kini Mbappé belum memberikan komentar langsung atas hinaan tersebut. Namun, sang pemain mengunggah foto dirinya sedang membaca buku "Peau noire, masques blancs" karya Frantz Fanon — pemikir anti-kolonial — di Instagram story-nya dengan caption satu kata: "Educate." Pesan itu dipandang sebagai respons elegan terhadap kebodohan rasis Amarilla.

Ini bukan pertama kalinya bintang sepak bola kulit hitam menjadi sasaran stereotip kolonial dari tokoh publik Amerika Latin. Tahun lalu, pesepak bola Vinícius Júnior juga mendapat serangan rasis dari seorang komentator Argentina yang menyebutnya "terlalu Afrika untuk bermain di Eropa." Pola ini mengindikasikan masalah sistemik yang mendalam.

Dengan kecaman resmi dari pemerintahnya sendiri, posisi Amarilla kini sangat terpojok — dan ini menjadi peringatan keras bahwa retorika rasis tak lagi mendapat tempat di panggung internasional.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User