Aug 25, 2026
breaking

Brigjen Eko Hadi Santoso Nahkodai Direktorat Tindak Pidana Narkoba Bareskrim

Kepolisian Negara Republik Indonesia menempatkan Brigadir Jenderal Polisi Eko Hadi Santoso sebagai pemimpin baru Direktorat Tindak Pidana Narkoba Badan Reserse Kriminal. Serah terima jabatan berlangsu...

Brigjen Eko Hadi Santoso Nahkodai Direktorat Tindak Pidana Narkoba Bareskrim

Kepolisian Negara Republik Indonesia menempatkan Brigadir Jenderal Polisi Eko Hadi Santoso sebagai pemimpin baru Direktorat Tindak Pidana Narkoba Badan Reserse Kriminal. Serah terima jabatan berlangsung di Mabes Polri, Jakarta, menandai rotasi strategis di tubuh Korps Bhayangkara. Eko menggantikan pejabat sebelumnya yang memasuki masa purna tugas.

Perjalanan Karier dan Keahlian Khusus

Eko Hadi Santoso bukan sosok asing di lingkungan reserse. Sebelum menjabat direktur, perwira menengah kelahiran 1973 ini telah menorehkan berbagai pencapaian di bidang pemberantasan kejahatan terorganisir. Lulusan Akademi Kepolisian 1995 ini pernah bertugas di sejumlah satuan elite, termasuk Densus 88 Antiteror dan Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya. Rekam jejaknya yang panjang dalam pengungkapan jaringan narkotika lintas provinsi membuatnya dinilai layak mengemban amanah baru.

Jaringan Narkoba Kian Kompleks

Penunjukan Eko terjadi pada momen krusial. Selama semester pertama tahun ini, Bareskrim mencatat lebih dari 17 ton sabu dan 2,3 juta butir ekstasi berhasil digagalkan masuk ke Indonesia. Modus operandi sindikat narkoba internasional terus berevolusi; dari penyelundupan melalui jalur laut konvensional hingga penggunaan cryptocurrency dan dark web dalam transaksi. Direktorat Tindak Pidana Narkoba pun dituntut lebih adaptif.

Quick Wins Seratus Hari Pertama

Dalam pengarahan perdana, Brigjen Eko menegaskan tiga prioritas: penguatan intelijen digital, sinergi dengan Badan Narkotika Nasional (BNN) dan Bea Cukai, serta rehabilitasi berbasis komunitas bagi pengguna ringan. “Kita tidak bisa hanya mengandalkan penangkapan kurir lapangan. Harus sikat sampai ke akar, termasuk pembiayaan dan aktor intelektualnya,” ujarnya. Timnya langsung menggelar operasi terpadu menyasar lima provinsi zona merah narkoba: Sumatera Utara, DKI Jakarta, Jawa Timur, Kalimantan Barat, dan Sulawesi Selatan.

Dukungan Personel dan Teknologi

Kapolri telah menyetujui penambahan 200 personel khusus pada direktorat tersebut serta pengadaan alat deteksi canggih. Laboratorium forensik keliling juga akan dioperasikan di perbatasan. Eko meyakini, dengan perkuatan ini, mata rantai peredaran gelap narkotika bisa diputus lebih cepat. Publik menaruh harapan besar agar angka prevalensi penyalahgunaan narkoba yang mencapai 3,6 juta jiwa dapat ditekan signifikan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS admin

Comments (0)

User