Jakarta Pusat – Nuansa kekeluargaan begitu terasa ketika Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung memasuki Gedung Sekretariat Kabinet pada Senin (27/7/2026). Ia datang bukan untuk bernostalgia semata, melainkan menjalankan agenda strategis bersama Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya. Pertemuan yang berlangsung selama kurang lebih satu jam itu menandai babak baru sinergi pusat dan daerah, sekaligus menjadi momen reuni tak terduga bagi Pramono dengan gedung yang pernah menjadi rumah kerjanya selama hampir satu dekade.
Dari Pejabat Pusat Menjadi Pemimpin Daerah
Ada yang berbeda dari langkah kakinya kali ini. Pramono Anung, yang pernah mengemban amanah sebagai Seskab di era Presiden Joko Widodo selama kurang lebih sembilan tahun, kini mendatangi Kompleks Setkab dalam kapasitasnya sebagai Gubernur DKI Jakarta. Posisi yang ia menangkan dalam kontestasi politik tingkat provinsi itu mengharuskannya membangun jembatan komunikasi yang kokoh dengan pemerintah pusat. Teddy Indra Wijaya, sosok yang sebelumnya dikenal sebagai ajudan pribadi Presiden Prabowo Subianto, kini memegang kendali kementerian strategis yang memastikan kelancaran roda kabinet. Pertemuan ini menjadi titik temu antara pengalaman governance senior dan perspektif baru yang mewakili generasi kepemimpinan selanjutnya.
Meja Perundingan dan Masa Depan Jakarta
Pertemuan digelar secara tertutup, tanpa banyak pihak dilibatkan. Dari pantauan singkat, Pramono datang didampingi sejumlah kepala dinas dan asisten daerah, sementara Seskab Teddy ditemani beberapa deputi bidang ekonomi dan infrastruktur. Topik yang mengemuka diyakini meliputi tiga prioritas mendasar: transformasi fungsi Jakarta pasca-pemindahan Ibu Kota Negara ke IKN, percepatan proyek pengendalian banjir yang belum tuntas, serta dukungan pusat terhadap peningkatan iklim investasi dan pengembangan transportasi massal. “Kami ingin Jakarta tetap menjadi motor ekonomi nasional yang kompetitif, sekaligus rumah yang layak bagi warganya. Koordinasi ini krusial untuk menyelaraskan perencanaan pusat dan daerah,” ujar Pramono singkat usai pertemuan.
Di sisi lain, Teddy menekankan pentingnya eksekusi terpadu. Ia mengingatkan bahwa sejumlah program strategis nasional masih memiliki irisan langsung dengan kewenangan provinsi. “Pak Gubernur adalah mitra utama kami di lapangan. Tanpa koordinasi yang intens, target-target besar seperti penurunan kemacetan dan peningkatan indeks kualitas udara akan sulit tercapai,” tegasnya. Dari pernyataan keduanya, terlihat janji untuk membentuk gugus tugas bersama dalam waktu dekat guna merinci rencana aksi.
Momen pertemuan ini juga menjadi simbol betapa cairnya lintas jenjang karier dalam birokrasi dan politik Indonesia. Pramono yang dulu membantu menjalankan ritme kabinet nasional dari dalam Setkab, kini berpindah haluan menjadi pemimpin di garda terdepan. Ia pulang ke “rumah lamanya” bukan sebagai mantan pejabat yang tenggelam dalam kenangan, melainkan sebagai mitra strategis yang siap berkolaborasi. Senyum dari kedua tokoh saat saling melepas jabat tangan di lobi gedung merekam optimisme baru bahwa Jakarta akan terus bergerak, meski gelar ibu kota berlahan beralih.
Comments (0)