BPBD Kotim Minta Helikopter Water Bombing Atasi Karhutla Sulit Dijangkau

PANGKALAN BUN, KOTAWARINGIN TIMUR — Darurat asap kian mencekik. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) terus meluas d

Jul 09, 2026 - 19:58
0 0
BPBD Kotim Minta Helikopter Water Bombing Atasi Karhutla Sulit Dijangkau

PANGKALAN BUN, KOTAWARINGIN TIMUR — Darurat asap kian mencekik. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) terus meluas dan merembet ke titik-titik yang nyaris mustahil dijangkau regu darat. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kotim langsung mengambil langkah agresif dengan mengajukan permintaan resmi bantuan helikopter water bombing guna menekan laju api yang semakin liar.

Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam, tak menutupi situasi genting di lapangan. Timnya sudah dikerahkan maksimal, namun keterbatasan akses darat menjadi musuh utama. Lahan gambut basah yang menjadi arena jilatan api menciptakan medan perang tersendiri: kendaraan pemadam tak bisa masuk, personel kelelahan, sementara api terus merayap ke kawasan pemukiman dan lahan produktif.

“Kami sudah berkoordinasi dengan BNPB. Kondisi di lapangan sangat sulit, titik api menyebar di lokasi yang benar-benar terisolasi. Makanya kami dorong segera ada helikopter water bombing,” ujar Multazam saat dikonfirmasi, Selasa (28/5).

Data sementara yang dirilis Pusdalops BPBD Kotim menunjukkan lonjakan drastis titik panas hanya dalam 48 jam terakhir. Sektor-sektor paling kritis terpantau di Kecamatan Teluk Sampit, Mentaya Hilir Utara, dan kawasan hinterland yang minim infrastruktur jalan. Upaya pemadaman manual dengan selang dan pompa portabel hanya mampu menjangkau perimeter luar, sementara inti kebakaran di kedalaman lahan gambut terus membara.

Berikut poin-poin eskalasi terbaru yang dirilis tim tanggap darurat:

  • Lima titik api masif teridentifikasi dalam radius kurang dari 15 km dari permukiman warga, tiga di antaranya mengarah ke lahan gambut dalam.
  • Regu darat terkendala medan berlumpur dan kanal-kanal sempit yang memperlambat mobilitas; dua unit kendaraan taktis pemadam sudah terjebak lumpur sejak Senin pagi.
  • Helikopter patroli dari BNPB sudah melakukan pemetaan, namun belum ada unit water bombing yang di-deploy ke Kotim secara permanen.
  • Debit air di kanal dan embung sekitar titik api menipis akibat musim kering, memaksa BPBD menyiasati dengan sistem estafet tangki air dari sungai besar.
  • Kabut asap mulai mengarah ke pemukiman di Pangkalan Bun dengan jarak pandang turun hingga 800 meter pada pagi hari, memicu keluhan gangguan pernafasan warga.

Multazam menekankan bahwa helikopter water bombing bukan sekadar opsi, melainkan kebutuhan mendesak. Satu sorti helikopter mampu menjatuhkan 4.000–5.000 liter air langsung ke jantung api yang tidak bisa ditembus tim darat. Tanpa bantuan udara, dia mengkhawatirkan api akan terus merayap dan menciptakan bencana asap lintas provinsi seperti yang pernah terjadi sebelumnya.

“Kalau menunggu api padam secara alami itu bisa berminggu-minggu. Sementara dampaknya ke warga sudah terasa. Kami lagi hitung berapa jam terbang yang dibutuhkan, koordinasi intens dengan Pangkalan Udara dan BNPB,” katanya.

Pemerintah Kabupaten Kotim juga telah memberlakukan status siaga darurat karhutla selama dua pekan ke depan. Posko kesehatan disiagakan di beberapa titik untuk mengantisipasi lonjakan kasus ISPA, terutama pada kelompok rentan seperti balita dan lansia. Sementara itu, sejumlah relawan masyarakat peduli api (MPA) dikerahkan untuk patroli mandiri di lahan-lahan warga yang berbatasan langsung dengan kawasan terbakar.

Situasi ini menjadi alarm serius mengingat Kalimantan Tengah masih berada dalam musim kemarau yang diprediksi BMKG akan berlangsung hingga akhir Agustus. Tanpa intervensi cepat, kebakaran di Kotim berpotensi membesar dan menyulut kembali tragedi kabut asap lintas batas yang merugikan sektor penerbangan, pendidikan, dan kesehatan publik.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User