Bandung — Pertamina Ciptakan Green Warrior dari Komunitas Difabel Kampung Rajut
BANDUNG — Pertamina melempar gebrakan yang mengubah wajah pemberdayaan difabel di sentra rajut paling legendaris. Lewat program Tanggung Jawab Sosial dan L
BANDUNG — Pertamina melempar gebrakan yang mengubah wajah pemberdayaan difabel di sentra rajut paling legendaris. Lewat program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), perusahaan energi ini mencetak “green warrior” yang menyulap limbah benang menjadi produk bernilai, sekaligus mendobrak stigma bahwa difabel adalah beban. Komunitas Fable, yang menjadi nadi inisiatif ini, kini menjelma sebagai pionir daur ulang tekstil di Kampung Rajut Binong Jati.
Kampung Rajut Binong Jati, yang berdenyut sejak 1970‑an sebagai jantung kerajinan rajut Bandung, selama puluhan tahun menyisakan tumpukan limbah benang yang tak termanfaatkan. Paralel dengan itu, penyandang disabilitas di kawasan ini nyaris tak tersentuh peluang ekonomi. Pertamina melihat celah: menggabungkan dua masalah dalam satu solusi. Hasilnya? Sebuah ekosistem inklusif yang tak hanya membersihkan lingkungan, tapi juga mengangkat martabat kaum difabel.
Bagaimana prosesnya? Setelah mendapat pelatihan intensif dari Pertamina—mulai teknologi ecoprint, decoupage, hingga manajemen usaha—anggota Komunitas Fable kini mampu mengubah limbah benang menjadi beragam produk. Setiap helai sisa benang yang dulu berakhir di tempat sampah, kini dirajut kembali, diwarnai ulang, dan dibentuk menjadi tas, dompet, aksesori, bahkan dekorasi rumah berdaya jual tinggi.
Poin Penting Program Green Warrior Pertamina di Kampung Rajut
- Sentra rajut legendaris: Kampung Rajut Binong Jati eksis sejak 1970‑an dan menjadi pusat kreativitas rajut terbesar di Bandung.
- Komunitas Fable: Binaan TJSL Pertamina yang beranggotakan penyandang disabilitas, mengusung misi ganda: pemberdayaan dan penyelamatan lingkungan.
- Manajemen limbah: Limbah benang yang sebelumnya menggunung di TPS lokal kini diolah menjadi produk bernilai, mengurangi volume sampah tekstil secara signifikan.
- Peningkatan ekonomi: Setiap difabel yang terlibat kini menikmati tambahan pendapatan rata‑rata Rp 2 juta per bulan, naik dari nol rupiah.
- Jejaring pasar: Produk Komunitas Fable sudah menembus platform daring, butik lokal di Bandung dan Jakarta, bahkan dilirik buyer dari Malaysia dan Singapura.
- Pelatihan terintegrasi: Anggota dibekali keterampilan ecoprint, decoupage, fotografi produk, serta literasi keuangan agar benar‑benar mandiri.
Transformasi Hijau: Analisis Dampak Sosial‑Ekonomi
Ketika limbah menjadi aset dan difabel berubah menjadi agen perubahan, hitungan ekonominya berbicara keras. Data awal yang dihimpun dari Komunitas Fable menunjukkan lompatan kinerja yang mengejutkan hanya dalam enam bulan. Sebelum program TJSL Pertamina, praktis tidak ada pemberdayaan difabel yang fokus pada sektor daur ulang. Sekarang, mereka menjadi ujung tombak ekonomi sirkular di kawasan padat kerajinan.
| Indikator | Sebelum TJSL Pertamina | Setelah TJSL Pertamina (6 bulan) |
|---|---|---|
| Anggota difabel terlibat | 0 | 54 orang |
| Volume limbah diolah/bulan | 0 kg | 120 kg |
| Produk daur ulang utama | Tidak ada | Tas, dompet, aksesori, home décor |
| Rata‑rata pendapatan tambahan | Rp 0 | Rp 1,5–3 juta |
| Penurunan limbah tekstil kampung | 0% | 60% |
“Ini adalah bukti bahwa inklusi dan bisnis hijau bisa berjalan beriringan. Difabel bukan penerima belas kasihan, melainkan subyek yang mampu menciptakan nilai tambah sekaligus menyelamatkan lingkungan,” ujar Dr. Retno Dewi, pengamat pemberdayaan sosial dari Universitas Padjadjaran.
Salah satu anggota Fable, Santi (32), merasakan lompatan martabat yang sesungguhnya. “Dulu saya tidak punya penghasilan, di rumah hanya berdiam. Sekarang saya bisa membantu ekonomi keluarga, punya tabungan, dan yang paling penting, saya merasa dihargai,” tuturnya sambil menunjukkan tas ecoprint buatannya yang tengah jadi buruan pembeli di marketplace. Dengan hasil penjualan yang stabil, Santi kini bermimpi membuka workshop kecil sendiri.
Langkah Pertamina tidak berhenti di sini. Perusahaan berencana mereplikasi program serupa di dua sentra kerajinan lain di Jawa Barat. Jika tren ini berlanjut, bukan tidak mungkin model green warrior ala Kampung Rajut akan menjadi cetak biru nasional, memadukan pemberdayaan difabel dan ekonomi hijau dalam satu napas. Atas inisiatif inilah tagline “Energi yang Menggerakkan” benar‑benar menemukan wujudnya.
Comments (0)