BALIKPAPAN — Pertamina Kilang Balikpapan Bagikan Makanan Bergizi Atasi Stunting Balita
BALIKPAPAN — PT Pertamina Patra Niaga Kilang Balikpapan langsung tancap gas memerangi stunting. Dalam gebrakan sosial terbaru, perusahaan pelat merah ini m
BALIKPAPAN — PT Pertamina Patra Niaga Kilang Balikpapan langsung tancap gas memerangi stunting. Dalam gebrakan sosial terbaru, perusahaan pelat merah ini menggulirkan paket makanan padat gizi untuk ratusan bayi bawah lima tahun (balita) dan bawah dua tahun (baduta) di wilayah kerja kilang. Aksi cepat ini menjadi respons konkret atas masih tingginya angka gangguan tumbuh kembang akibat kekurangan gizi kronis di kota minyak tersebut.
- Cakupan sasaran: 200 balita dan baduta di Kecamatan Balikpapan Timur yang masuk kategori rawan gizi.
- Paket bantuan: Makanan tambahan tinggi protein hewani, susu fortifikasi, dan suplemen zat besi—disalurkan langsung ke posyandu dan kader kesehatan.
- Kolaborasi strategis: Menggandeng Dinas Kesehatan Kota Balikpapan dan tim penggerak PKK untuk memastikan distribusi tepat sasaran serta monitoring pertumbuhan anak sebulan sekali.
- Durasi program: Tiga bulan ke depan dengan evaluasi mingguan terhadap perubahan berat dan tinggi badan penerima manfaat.
- Nilai investasi sosial: Perusahaan menggelontorkan dana senilai Rp320 juta dari dana Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL).
Area Manager Communication, Relations, & CSR PT Pertamina Patra Niaga Kilang Balikpapan, Dwi Yulianto, menegaskan langkah ini bukan sekadar seremonial. "Kami tidak mau hanya datang lalu pergi. Setiap balita penerima akan kita kawal hingga indikator gizinya masuk zona hijau. Ini mandate langsung dari manajemen untuk memberi dampak terukur," ujarnya di sela peluncuran program, Kamis pekan lalu. Pernyataan ini merujuk pada instruksi direksi agar seluruh unit operasi Pertamina mengadopsi pendekatan precision intervention dalam menekan prevalensi stunting di ring 1 perusahaan.
Analisis: Mengapa Intervensi Korporasi Menjadi Game Changer?
Data Dinas Kesehatan Balikpapan per akhir 2024 menunjukkan angka stunting 8,3% — lebih rendah dari rata-rata nasional 13,2% versi Survei Kesehatan Indonesia, namun belum cukup untuk mencapai target eliminasi di bawah 5% pada 2030. Intervensi dari korporasi di sektor energi seperti Pertamina Patra Niaga memberikan akselerasi pendanaan sekaligus kepatuhan pencatatan yang sering menjadi lubang program pemerintah. Kepala Puskesmas Manggar, dr. Sinta Dewi, mengatakan, "Ketika ada perusahaan yang ikut memonitor secara ketat dan memberikan insentif bagi posyandu, kedisiplinan pelaporan dan kunjungan meningkat signifikan. Ini multiplier effect yang tidak bisa dihasilkan oleh anggaran APBD saja."
| Indikator | Sebelum Intervensi (2024) | Proyeksi Pasca-Program (2025) |
|---|---|---|
| Angka stunting Balikpapan | 8,3% | Di bawah 6,5% |
| Cakupan makanan tambahan balita kurus | 42% | 100% di wilayah sasaran |
| Frekuensi pemantauan tumbuh kembang per bulan | 1 kali | 4 kali (setiap pekan) |
| Partisipasi kader posyandu aktif | 65 kader | 105 kader (rekrutmen dan pelatihan ulang) |
Dari pemetaan internal Pertamina Kilang Balikpapan, sebanyak 12,5% balita di Kecamatan Balikpapan Timur berada dalam kategori status gizi buruk atau gizi kurang, dengan akar masalah pada ketidakmampuan orang tua menyediakan protein hewani harian. Paket bantuan dirancang memasok 550-600 kalori tambahan per anak per hari — setara dengan 30% kebutuhan energi balita usia 1-3 tahun — melalui biskuit fortifikasi, telur, dan susu bubuk dengan pengayaan DHA. Dr. Aditya Nugroho, ahli gizi masyarakat dari Universitas Mulawarman, menilai, "Densitas gizi yang diberikan lebih tinggi dibanding program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) standar. Jika dilakukan konsisten tiga bulan, pengejaran berat badan bisa mencapai 0,8-1,2 kg pada anak wasting."
Selain komponen gizi, program ini membenahi sistem rujukan. Balita yang tidak menunjukkan respons pertumbuhan dalam dua minggu langsung dirujuk ke Puskesmas untuk pemeriksaan infeksi atau penyakit penyerta. Pola cepat tanggap ini diklaim memangkas waktu penanganan dari rata-rata 21 hari kerja menjadi 5 hari kerja — sebuah lompatan efisiensi yang dimungkinkan oleh dana operasional tambahan dari korporasi. Tim lapangan juga membentuk grup WhatsApp dengan bidan desa untuk laporan harian status pemberian makanan, meniru mekanisme pemantauan industri minyak yang real-time.
Meski baru berjalan, Panja Stunting DPRD Balikpapan menyambut baik model kemitraan ini. Wakil Ketua Komisi IV, Ahmad Rizal, menyatakan pihaknya akan mendorong replikasi metode serupa bagi perusahaan migas lain di daerah itu. "Kita lihat hasilnya dalam tiga bulan. Kalau tren penurunan tajam, kami akan panggil investor migas untuk turut serta. Ini bukan sekadar charity, tapi lisensi sosial untuk beroperasi," tegasnya.
Sementara itu, Pertamina Kilang Balikpapan menyiapkan rencana lanjutan berupa pelatihan pengolahan pangan lokal dan urban farming protein murah bagi keluarga sasaran. Program tahap kedua dijadwalkan mencakup 7 kelurahan baru pada kuartal III 2025, dengan total target penyelamatan 500 balita dari stunting hingga akhir tahun.
Comments (0)