Paraguay — Senator Celeste Amarilla Hina Mbappe, Skandal Rasisme Mengguncang
Gema Piala Dunia yang semestinya menyatukan justru tercoreng oleh ujaran kebencian rasis yang meluncur dari bibir seorang pejabat tinggi. Senator perempuan
Gema Piala Dunia yang semestinya menyatukan justru tercoreng oleh ujaran kebencian rasis yang meluncur dari bibir seorang pejabat tinggi. Senator perempuan Paraguay, Celeste Amarilla, secara terbuka menghina megabintang Prancis Kylian Mbappe dengan kata-kata yang memicu kemarahan global. Insiden ini langsung merebak di media sosial, mengubah perayaan sepak bola menjadi skandal diplomatik yang memalukan.
Ujaran Rasis yang Mengejutkan
Dalam sebuah wawancara radio nasional, Senator Amarilla melontarkan komentar yang merendahkan pesepakbola keturunan Kamerun-Aljazair itu. Tanpa tedeng aling-aling, ia menyebut Mbappe sebagai "boneka hitam yang bisanya hanya lari" dan mencemooh penampilannya di final. "Di Paraguay, anak-anak belajar bahwa pemain sekelas dia bukan panutan," ujarnya dengan nada sinis. Rekaman wawancara tersebut dengan cepat viral, memicu kecaman dari berbagai penjuru dunia.
Federasi Sepak Bola Prancis (FFF) langsung melaporkan kasus ini ke FIFA sebagai pelanggaran berat terhadap kode etik anti-diskriminasi. Presiden FFF menyatakan: "Kami tidak akan tinggal diam. Penghinaan berbau rasial terhadap pemain nasional kami adalah penghinaan terhadap seluruh rakyat Prancis."
Reaksi Bertubi-tubi dari Dunia
Gelombang protes datang bertubi-tubi. Pemain Timnas Prancis lainnya, termasuk Antoine Griezmann dan Ousmane Dembélé, menunjukkan solidaritas melalui unggahan emosional di media sosial.
"Kita bermain untuk menyatukan, bukan untuk dipecah oleh kebencian. Mbappe adalah kebanggaan kami dan semua orang yang percaya pada kesetaraan," tulis Griezmann dalam sebuah cuitan yang mendapat lebih dari 2 juta tanda suka.Organisasi anti-rasisme internasional, termasuk Show Racism the Red Card, mendesak Parlemen Paraguay untuk segera mengambil tindakan tegas.
Di dalam negeri Paraguay sendiri, Senator Amarilla berhadapan dengan tekanan politik yang signifikan. Sejumlah rekan sesama senator mengecam ucapannya sebagai cermin buruk elite politik yang tidak pantas berada di jabatan publik. Petisi online meminta pencopotannya telah mengumpulkan lebih dari 150.000 tanda tangan hanya dalam 48 jam.
Dampak Politik dan Diplomatik
Skandal ini menyeret Paraguay ke dalam jurang malu diplomatik. Kedutaan Besar Prancis di Asunción mengeluarkan pernyataan resmi mengecam "pernyataan tak berperikemanusiaan" dan mengingatkan pentingnya menghormati keragaman sebagai nilai universal. Sementara itu, Komite Olimpiade Internasional menyoroti kasus ini sebagai contoh bagaimana rasisme masih menjadi penyakit sosial yang mendesak untuk diperangi.
Sang senator, yang dikenal vokal dalam isu-isu konservatif, akhirnya menyampaikan permintaan maaf setengah hati melalui akun Instagram-nya. "Saya hanya mengkritik permainan, bukan warna kulit," katanya, sebuah pembelaan yang justru kian menuai kritik karena dianggap tidak mengakui implikasi rasial dari kata-katanya. Para aktivis hak asasi manusia menegaskan bahwa ungkapan semacam itu tidak pernah bisa dinetralkan dengan sekadar permintaan maaf.
Mbappe: Diam yang Memekakkan
Sementara itu, Kylian Mbappe memilih untuk tidak secara langsung menanggapi hinaan senator Paraguay tersebut. Sang striker hanya mengunggah foto sedang berlatih dengan satu kalimat: "Fokus pada hal yang penting." Namun sejumlah sumber dekat pemain Paris Saint-Germain itu mengungkapkan kekecewaan mendalam sang pemain. "Dia lelah, tapi tidak akan membiarkan ini menjatuhkannya. Dia akan membalas di lapangan," ujar seorang staf pribadinya.
Insiden ini kembali menguak luka lama dalam dunia sepak bola, di mana pemain kulit hitam masih kerap menjadi sasaran serangan rasis. Vinícius Júnior, yang juga berulang kali menjadi korban serupa di Spanyol, menyampaikan dukungannya kepada Mbappe melalui pesan pribadi. Kasus ini mempertegas bahwa perang melawan rasisme di sepak bola masih jauh dari selesai.
FIFA berjanji akan membawa laporan ini ke komite disipliner, dan jika terbukti melanggar Statuta FIFA Pasal 13 tentang diskriminasi, Paraguay bisa menghadapi sanksi berat berupa larangan bertanding di ajang internasional—harga yang sangat mahal untuk sebuah hinaan yang tidak berperikemanusiaan.
Comments (0)