KAIRO — Timnas Mesir U-20 pulang dengan luka dan kemarahan membara. Kekalahan

Kekacauan di Menit Akhir Pertandingan yang berlangsung sengit selama 90 menit berubah menjadi drama penuh air mata di injury time. Mesir yang sempat unggu

Jul 09, 2026 - 20:47
0 0
KAIRO — Timnas Mesir U-20 pulang dengan luka dan kemarahan membara. Kekalahan

Kekacauan di Menit Akhir

Pertandingan yang berlangsung sengit selama 90 menit berubah menjadi drama penuh air mata di injury time. Mesir yang sempat unggul lebih dulu melalui gol cepat Mostafa Ziko di menit ke-23, harus rela melihat Argentina menyamakan kedudukan di menit ke-78. Puncak kekesalan terjadi saat wasit menunjuk titik putih untuk Argentina di menit ke-90+4 setelah insiden yang dianggap sangat kontroversial oleh kubu Mesir.

"Kami merasa dirampok. Kami bertarung, kami berdarah, dan kemenangan direnggut begitu saja oleh keputusan yang tidak masuk akal. Apa yang terjadi malam ini adalah aib bagi sepak bola,"

tegas Mostafa Ziko dengan mata berkaca-kaca kepada awak media usai pertandingan.

Hossam Hassan Murka

Pelatih kepala Hossam Hassan bahkan lebih keras lagi. Legenda sepak bola Mesir itu menyebut kepemimpinan wasit sebagai "lelucon" dan mempertanyakan netralitas ofisial pertandingan yang ditunjuk oleh FIFA.

"Saya sudah 40 tahun di sepak bola. Saya tahu kapan tim saya kalah karena lawan lebih baik. Tapi ini? Ini bukan kekalahan. Ini perampokan terang-terangan. VAR ada, tapi sepertinya mereka tidur. Atau pura-pura tidur,"

seru Hassan dengan nada tinggi dalam konferensi pers yang berlangsung panas.

Titik Api Kontroversi

Sumber kemarahan utama Mesir berpusat pada dua insiden krusial. Pertama, gol penyama kedudukan Argentina yang dicurigai berbau offside. Kedua, hadiah penalti di menit-menit akhir yang dianggap sangat lunak. Bek Mesir, Ahmed Samy, dinilai melakukan pelanggaran terhadap striker Argentina, meski tayangan ulang menunjukkan kontak yang sangat minimal.

Kronologi Poin Panas Pertandingan:

  • Menit ke-23: Mostafa Ziko membawa Mesir unggul 1-0 lewat serangan balik mematikan.
  • Menit ke-78: Argentina menyamakan skor. Pemain Mesir memprotes keras karena menduga ada offside dalam proses gol. Wasit mengabaikan protes.
  • Menit ke-90+4: Penalti kontroversial diberikan kepada Argentina. Tidak ada peninjauan VAR yang berarti.
  • Menit ke-90+6: Eksekusi penalti sukses. Mesir tersingkir dengan cara yang menyakitkan.

Kontroversi Kartu Merah

Kemarahan Mesir diperparah dengan kartu merah yang diterima gelandang bertahan, Youssef El Sayed, di menit ke-85. Keputusan ini membuat Mesir bermain dengan 10 orang di sisa pertandingan dan semakin rentan terhadap tekanan Argentina.

Federasi Sepak Bola Mesir (EFA) dikabarkan langsung menyiapkan surat protes resmi kepada FIFA. Mereka menuntut investigasi terhadap kinerja wasit dan meminta transparansi penggunaan VAR dalam pertandingan tersebut.

Apa Kata Publik?

Media sosial Mesir meledak seketika. Tagar #FIFA_Robbery dan #JusticeForEgypt menggema di berbagai platform. Suporter dan pengamat sepak bola Tanah Air menilai Mesir menjadi korban ketidakadilan sistematis di turnamen internasional.

Di sisi lain, kubu Argentina memilih bungkam soal kontroversi ini. Pelatih mereka, Javier Mascherano, hanya menyatakan bahwa timnya beruntung dan fokus pada pertandingan selanjutnya. Sikap ini justru semakin memanaskan situasi.

Dengan hasil ini, Mesir harus mengubur mimpi melangkah lebih jauh di Piala Dunia U-20 2025. Namun, luka dan kemarahan dari kekalahan dramatis ini dipastikan akan membekas lama dalam ingatan publik sepak bola Mesir.

FAQ Esensial

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User