Gema lantunan kidung suci dan nyanyian keagamaan bergema merdu dalam ajang Utsawa Dharma Gita (UDG) Bali XXXIII. Namun, di balik keindahan nada spiritual tersebut, terselip keprihatinan mendalam dari para pengamat dan penilai seni tradisi. Kategori lomba Nyanyian Keagamaan Hindu dalam helatan tahun ini secara mengejutkan hanya diikuti oleh tiga kabupaten dari total sembilan kabupaten/kota yang ada di Provinsi Bali, yakni Kabupaten Badung, Gianyar, dan Tabanan.
Dari persaingan ketat tiga daerah tersebut, Kontingen Kabupaten Badung berhasil keluar sebagai Juara I. Posisi disusul oleh Kabupaten Gianyar sebagai juara II, serta Kabupaten Tabanan yang harus puas menempati peringkat juara III. Keterbatasan jumlah peserta ini menjadi sorotan utama karena dinilai mengurangi esensi kompetisi tingkat provinsi yang seharusnya menjadi ajang pembuktian talenta-talenta terbaik dari seluruh pelosok Pulau Dewata.
Dominasi Badung dan Kualitas Penampilan Peserta
Meski persaingan terbilang sangat terbatas, dewan juri mengapresiasi kualitas penampilan yang disuguhkan oleh para peserta. Ketiga kontingen dinilai tetap mampu menampilkan karakter yang kuat, baik dari segi teknis vokal, aransemen musikal, hingga penataan koreografi di atas panggung.
| Peringkat | Kontingen Kabupaten | Kategori Lomba |
|---|---|---|
| Juara I | Badung | Nyanyian Keagamaan Hindu |
| Juara II | Gianyar | Nyanyian Keagamaan Hindu |
| Juara III | Tabanan | Nyanyian Keagamaan Hindu |
Masing-masing peserta memperlihatkan keunggulan artistik yang unik. Badung tampil dominan berkat harmonisasi vokal yang matang serta koreografi yang presisi. Sementara itu, Gianyar dan Tabanan memberikan perlawanan sengit melalui kreativitas musikal yang memukau penonton serta dewan juri.
Keprihatinan Dewan Juri Terhadap Regenerasi Talenta
Minimnya kepersertaan ini memicu kekhawatiran dari tim penilai. Salah satu anggota dewan juri UDG Bali XXXIII, Prof. Dr. Desak Made Suarti Laksmi, mengungkapkan bahwa sedikitnya peserta berdampak langsung pada proses pemetaan dan seleksi talenta potensial untuk ajang yang lebih tinggi.
“Kalau hanya tiga, ya hanya tiga peluang. Kalau delapan atau sembilan ikut, kita lebih banyak peluang untuk mencari yang terbaik,” ujar Prof. Desak Made Suarti Laksmi usai memimpin sesi penilaian.
Menurut Suarti Laksmi, UDG Bali merupakan kawah candradimuka untuk mempersiapkan kontingen yang akan mewakili Bali pada ajang Utsawa Dharma Gita Tingkat Nasional. Dengan terbatasnya pilihan daerah yang bertanding, peluang untuk menemukan penyanyi keagamaan terbaik menjadi semakin sempit. Tim penilai terpaksa bekerja ekstra keras memilih calon wakil Bali hanya dari tiga kontingen yang tersedia.
Evaluasi Kendala Anggaran dan Pembinaan Daerah
Menanggapi fenomena sepinya peserta, dewan juri menilai ada berbagai faktor kompleks di tingkat daerah yang memengaruhinya. Masalah kesiapan mental peserta, ketersediaan talenta muda, hingga faktor teknis seperti pengelolaan dan efisiensi anggaran pemerintah daerah diduga menjadi alasan utama absennya enam kabupaten/kota lainnya.
Dalam ajang UDG, kriteria penilaian tidak hanya bertumpu pada keindahan vokal semata. Dewan juri turut memperhitungkan keselarasan aransemen, kreativitas musikal, hingga unsur koreografi. Kekurangan dalam persiapan dan pembinaan teknis acap kali membuat daerah ragu untuk mengirimkan perwakilannya, terlebih jika berbenturan dengan efisiensi anggaran kebudayaan di tingkat kabupaten/kota.
Ke depan, para penggiat seni dan dewan juri berharap partisipasi daerah dalam ajang Utsawa Dharma Gita dapat lebih merata pada setiap kategori lomba. Pemerataan partisipasi tidak hanya menciptakan iklim kompetisi yang sehat dan kompetitif, tetapi juga membuka ruang selebar-lebarnya bagi penggalian bibit-bibit baru pelestari budaya dan seni keagamaan Hindu di Bali.
Comments (0)