Sep 17, 2026
Bali

Denpasar — 1.000 Penari Gelar Karya Kolosal Peringati Puputan Badung

Angin sore berembus lembut di jantung Kota Denpasar, membawa gema tabuh gamelan yang membangkitkan ingatan kolektif masyarakat Bali pada sebuah peristiwa s

Denpasar — 1.000 Penari Gelar Karya Kolosal Peringati Puputan Badung

Angin sore berembus lembut di jantung Kota Denpasar, membawa gema tabuh gamelan yang membangkitkan ingatan kolektif masyarakat Bali pada sebuah peristiwa sejarah yang tak pernah pudar. Di atas rumput hijau Lapangan Puputan Badung, sebanyak 1.000 penari dari berbagai generasi bersiap mementaskan karya seni pertunjukan kolosal bertajuk Mati Tanpa Pejah. Pementasan megah ini digelar sebagai puncak perenungan dalam memperingati tragedi kemanusiaan sekaligus aksi heroisme dalam sejarah Puputan Badung.

Dalam pertunjukan ini, ruang terbuka hijau tidak sekadar menjadi tempat berpijak, melainkan panggung hidup yang menyatu dengan monumen sejarah. Ikon-ikon kawasan seperti tiang bendera utama dan patung perjuangan disulap menjadi latar alamiah yang dramatis. Seniman-seniman Bali menggerakkan tubuh mereka dalam ritme yang teratur, merajut narasi keberanian, pengorbanan, serta keteguhan jiwa para leluhur yang memilih gugur demi mempertahankan kehormatan tanah kelahiran.

Refleksi Historis Lewat Karya "Mati Tanpa Pejah"

Pementasan Mati Tanpa Pejah menjadi bagian integral dari rangkaian seremoni peringatan yang diawali dengan apel khidmat pada pagi hari. Karya tari kolosal ini diposisikan sebagai inagurasi budaya sebelum dilanjutkan dengan penayangan film dokumenter yang merekam jejak kelam sekaligus agung peristiwa Perang Puputan Badung.

Kepala Dinas Kebudayaan Kota Denpasar, Raka Purwantara, yang didampingi Kabid Kesenian I Wayan Narta, menjelaskan bahwa pementasan ini melibatkan sedikitnya lima sanggar dan komunitas seni terkemuka di Denpasar. Sinergi antarkomunitas ini membuktikan bahwa semangat pelestarian nilai sejarah masih mengakar kuat di dada generasi muda Bali.

"Temanya adalah Mati Tanpa Pejah, dengan spirit yang tetap mengambil inti semangat perjuangan Puputan Badung. Ini bukan sekadar pertunjukan seni biasa, melainkan media transformasi nilai sejarah kepada masyarakat luas," ujar Raka Purwantara.

Memaknai Perjuangan Tanpa Histeria Kemenangan

Berbeda dengan perayaan kemerdekaan atau peringatan kemenangan perang yang kerap dipenuhi pesta pora, peringatan Puputan Badung dihayati dengan atmosfer yang penuh perenungan mendalam. Raka menegaskan bahwa peristiwa Puputan adalah momen pengorbanan jiwa raga yang teramat sakral, sehingga tidak sepatutnya disambut dengan euforia keberhasilan semata.

"Karena ini adalah peringatan perang dan pengorbanan, bukan perayaan heroik, bukan peringatan kemerdekaan, dan bukan pula acara syukuran. Ini adalah ruang perenungan untuk mengenang jasa para pahlawan Badung yang gugur terhormat di medan laga," tegas Raka.

Nilai filosofis Mati Tanpa Pejah mengajarkan bahwa pahlawan yang gugur secara fisik sesungguhnya tidak pernah benar-benar mati. Spirit, cita-cita, dan keberanian mereka tetap hidup serta mengalir dalam urat nadi generasi penerus. Dinas Kebudayaan Kota Denpasar berupaya menerjemahkan warisan luhur tersebut ke dalam konteks tantangan kehidupan modern, di mana masyarakat masa kini dituntut untuk gigih melawan ketidakadilan, ketimpangan, dan penurunan moralitas.

Elemen Pementasan dan Dokumentasi Sejarah

Untuk memberikan pemahaman yang komprehensif kepada masyarakat dan wisatawan, pementasan seni kolosal ini dirangkaikan langsung dengan penayangan film dokumenter Puputan Badung. Melalui visualisasi audio-visual tersebut, penonton diajak menyelami latar belakang politik, kebudayaan, dan dinamika pertempuran sengit yang terjadi di masa lalu.

Berikut adalah ringkasan teknis pelaksanaan peringatan Puputan Badung:

Parameter Detail Kegiatan
Jumlah Penari Sekitar 1.000 Orang (Terdiri dari 5 Sanggar/Komunitas Seni)
Judul Pertunjukan Mati Tanpa Pejah
Lokasi Utama Lapangan Puputan Badung, Denpasar
Rangkaian Acara Apel Pagi, Seni Tari Kolosal Sore, Penayangan Film Dokumenter

Melalui pementasan seni kolosal dan media dokumenter ini, Pemerintah Kota Denpasar berharap pesan moral Puputan Badung tidak menguap begitu saja. Semangat pantang menyerah diharapkan mampu menjadi modal sosial bagi warga Kota Denpasar dalam membangun daerah dan menjaga identitas kebudayaan Bali di tengah gempuran arus globalisasi.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS yoga-mahendra

Editor Breaking News. Mantan assignment editor TV nasional.

Comments (0)

User