BERITATERCEPAT.COM, DENPASAR — Aparat kepolisian dari Polresta Denpasar bergerak cepat menyikapi keresahan masyarakat akibat beredarnya video viral di berbagai platform media sosial. Video tersebut merekam aksi seorang pria berkedok petugas keamanan adat atau pecalang gadungan yang nekat melakukan pemalakan terhadap pemilik warung nasi campur di kawasan Jalan Gunung Soputan, Denpasar, Bali. Aksi premanisme berkedok seragam adat ini langsung memicu kecaman luas dari warga lokal maupun warganet.
Insiden tersebut menjadi perhatian serius jajaran kepolisian daerah setempat karena dinilai merusak citra keamanan dan pariwisata Bali, serta mencoreng nama baik lembaga adat pecalang yang selama ini dihormati. Menanggapi laporan publik yang marak di media sosial, jajaran Polresta Denpasar bersama unsur Bhabinkamtibmas dan Babinsa segera menerjunkan personel ke lokasi kejadian untuk melakukan verifikasi serta penyelidikan lapangan secara mendalam.
Kronologi Kejadian Pemalakan di Jalan Gunung Soputan
Berdasarkan rekaman video yang beredar luas, peristiwa intimidasi ini terjadi ketika suasana warung sedang melayani pembeli. Pelaku mendatangi pemilik usaha dengan menyamar menggunakan pakaian menyerupai atribut pecalang untuk meyakinkan korbannya bahwa ia sedang menjalankan tugas keamanan desa.
- Awal Kedatangan Pelaku: Pelaku mendatangi warung nasi campur di Jalan Gunung Soputan dengan gestur mengintimidasi dan mengatasnamakan uang iuran keamanan wilayah.
- Penolakan Pemilik Warung: Korban merasa curiga karena penagihan tidak disertai surat tugas resmi atau identitas jelas dari pihak desa adat setempat.
- Perekaman Aksi Intimidasi: Korban secara berani merekam tindakan intimidasi tersebut hingga pelaku akhirnya merasa terdesak dan memilih pergi dari lokasi.
- Penyebaran Video hingga Viral: Rekaman video tersebut diunggah ke media sosial dan langsung mendapatkan respons masif dari masyarakat serta perhatian jajaran kepolisian.
Tindakan tidak terpuji ini sangat disesalkan karena menyasar pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang sedang berjuang menggerakkan roda perekonomian di wilayah Denpasar Barat.
Respon Cepat Polresta Denpasar dan Petugas Gabungan
Menanggapi kehebohan tersebut, Bhabinkamtibmas Desa Pemecutan Kelod Aiptu Made Murdana bersama Babinsa dan unsur keamanan desa adat langsung menyisir lokasi kejadian untuk mengumpulkan data serta keterangan dari para saksi. Petugas mengonfirmasi bahwa pelaku sama sekali bukan merupakan anggota pecalang resmi yang terdaftar di Desa Adat setempat.
"Kami tegaskan bahwa pelaku pemalakan tersebut adalah pecalang gadungan. Pihak kepolisian tidak akan mentolerir segala bentuk aksi premanisme atau pungutan liar yang meresahkan pelaku usaha dan masyarakat di wilayah hukum Polresta Denpasar," tegas perwakilan kepolisian dalam keterangannya.
Sebagai langkah pencegahan agar kejadian serupa tidak terulang kembali di kemudian hari, pihak kepolisian mengeluarkan beberapa poin penegasan dan imbauan penting bagi masyarakat serta pemilik usaha:
- Verifikasi Identitas Petugas: Selalu minta surat tugas resmi dan kartu identitas jika ada oknum yang mengatasnamakan instansi atau lembaga adat tertentu.
- Jangan Takut Melapor: Segera hubungi kantor polisi terdekat atau petugas Bhabinkamtibmas jika mendapatkan ancaman pemerasan atau uang keamanan liar.
- Manfaatkan Layanan Pengaduan: Laporkan setiap tindak kejahatan melalui saluran resmi Call Center Kepolisian 110 atau aplikasi pelayanan publik.
Menjaga Marwah Pecalang dan Keamanan Pariwisata Bali
Peran pecalang dalam tatanan masyarakat adat Bali sangat vital, tidak hanya untuk menjaga ketertiban upacara keagamaan tetapi juga menjaga keamanan lingkungan secara bermartabat. Kehadiran pecalang gadungan yang melakukan aksi pemalakan dinilai dapat merusak tatanan sosial dan marwah lembaga adat yang telah dibangun sejak lama.
Saat ini, Polresta Denpasar terus mendalami identitas pelaku melalui rekaman CCTV sekitar lokasi dan keterangan para saksi untuk segera melakukan penangkapan. Kepolisian juga mengimbau seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menjaga kondusivitas keamanan demi mendukung iklim pariwisata Bali yang aman, nyaman, dan bebas dari tindakan pemerasan.
Comments (0)