DENPASAR — Perhelatan Utsawa Dharmagita (UDG) XXXIII Tingkat Provinsi Bali resmi bergulir sebagai panggung pelestarian sastra keagamaan dan penguatan tradisi lisan Hindu. Kendati demikian, ajang prestisius yang dirancang sebagai ruang pembinaan generasi muda ini menyisakan catatan penting terkait pemerataan partisipasi peserta dari seluruh kabupaten/kota di Pulau Dewata.
Ajang yang diikuti oleh ratusan kontingen tersebut tidak sekadar menjadi arena perebutan gelar juara umum, melainkan instrumen strategis dalam regenerasi pelantun dharmagita. Namun, dinamika di lapangan menunjukkan bahwa belum seluruh daerah mengirimkan perwakilannya secara maksimal, terutama pada nomor-nomor perlombaan baru.
Kronologi Pelaksanaan dan Agenda UDG XXXIII Bali
Pelaksanaan festival sastra keagamaan ini disusun dalam linimasa kegiatan terstruktur guna menjaring talenta terbaik yang akan mewakili Bali di kancah nasional:
- Pembukaan Resmi (11 September): Gubernur Bali Wayan Koster membuka rangkaian UDG XXXIII yang mengusung tema ‘Dharmagita Atmanam Dharma’ (Menuntun Jiwa Menuju Kesucian).
- Sesi Perlombaan dan Penjurian (12–15 September): Berbagai cabang seperti Dharmawacana, Membaca Sloka, Palawakya, hingga Kakawin dipertandingkan secara intensif di hadapan dewan juri ahli.
- Penutupan dan Evaluasi Kontingen (16 September): Pengumuman juara sekaligus evaluasi menyeluruh atas keterlibatan daerah demi persiapan kompetisi tingkat nasional.
Keterwakilan Wilayah Masih Terkonsentrasi di Tiga Daerah
Kesenjangan kepesertaan tampak mencolok pada cabang Dharmawacana Bahasa Bali kategori anak-anak putri. Sebagai cabang yang baru pertama kali dimasukkan ke dalam materi lomba tingkat provinsi, kategori ini tercatat hanya diikuti oleh tiga kontingen daerah, yakni Kabupaten Gianyar, Kabupaten Badung, dan Kota Denpasar. Enam kabupaten lainnya absen mengirimkan duta pada nomor tersebut.
Dewan Juri Dharmawacana Bahasa Bali Kategori Anak-anak, Drs. I Gusti Lanang Subamya, MM.Pd., menjelaskan bahwa penambahan cabang ini merupakan langkah penyesuaian materi agar selaras dengan standar kompetisi tingkat pusat.
“Lomba Dharmawacana Bahasa Bali kategori anak-anak dilaksanakan karena cabang ini juga ada di tingkat nasional. Keterlibatan anak-anak sangat penting untuk menjaga keberlangsungan bahasa Bali sejak usia dini,” ungkap Lanang Subamya.
Tantangan Teknis dan Penguatan Regenerasi Usia Dini
Lanang Subamya mengakui bahwa cabang dharmawacana menghadirkan tantangan tersendiri bagi peserta usia anak-anak. Peserta tidak hanya dituntut menguasai artikulasi bahasa Bali yang halus dan benar, tetapi juga harus memiliki keberanian mental tampil di ruang publik serta kemampuan mengonstruksi pemikiran kritis berbasis naskah suci.
Dalam praktiknya, materi dharmawacana mewajibkan pengutipan sloka, palawakya, maupun kakawin yang relevan dengan topik bahasan. Oleh karena itu, para pembina di daerah diimbau untuk menyesuaikan bobot materi naskah agar sesuai dengan perkembangan psikologis anak.
Pemerintah daerah bersama Lembaga Pengembangan Dharmagita (LPDG) di masing-masing kabupaten/kota diharapkan lebih proaktif melakukan pembinaan akar rumput. Penyesuaian naskah yang komunikatif dan tidak membebani dinilai menjadi kunci utama agar minat generasi muda terhadap sastra keagamaan Bali tidak surut di masa mendatang.
Comments (0)