Bahasa Jadi Denyut Etnisitas di Tengah Ancaman Kepunahan Global
JAKARTA – Eksistensi bahasa daerah sebagai fondasi identitas etnis kini memasuki fase kritis. Riset terbaru Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang dirilis Kamis (10/4) mengungkap, setidaknya...
JAKARTA – Eksistensi bahasa daerah sebagai fondasi identitas etnis kini memasuki fase kritis. Riset terbaru Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang dirilis Kamis (10/4) mengungkap, setidaknya 11 bahasa lokal di Tanah Air raib dalam dua dekade terakhir karena tergerus arus globalisasi dan minimnya pewarisan antargenerasi. Temuan ini memperkuat kekhawatiran para linguis bahwa kepunahan bahasa akan langsung memutus rantai budaya dan memori kolektif sebuah komunitas.
Sinyal Darurat dari Data Lapangan
Penelitian yang melibatkan 127 titik pengamatan di 22 provinsi itu mencatat, bahasa bukan sekadar medium komunikasi, melainkan "kartu identitas" yang membedakan suatu kelompok etnis dari yang lain. Dr. Maharani Kusuma, ketua tim riset, menegaskan bahwa setiap kali seorang penutur terakhir wafat, satu perpustakaan pengetahuan lokal ikut lenyap.
- Kritis: 11 bahasa daerah punah sejak 2005 di wilayah Indonesia timur dan Kalimantan.
- Rentan: 34 bahasa lain hanya dituturkan oleh populasi di bawah 1.000 jiwa, sebagian besar lansia.
- Faktor utama: Urbanisasi, perkawinan antaretnis, dan dominasi bahasa nasional di ruang publik serta digital.
Bahasa Ritual dan Memori Leluhur
Lebih dari sekadar kata, bahasa etnis memiliki dimensi sakral. Dalam upacara adat, doa leluhur, atau tuturan dongeng rakyat, setiap diksi menyimpan cara pandang dunia yang khas. Saat ritual kematian di komunitas Toraja, misalnya, ungkapan-ungkapan kuno menjadi wahana yang menghidupkan kembali nilai spiritual serta sejarah panjang marga. Tanpa bahasa itu, rantai transmisi budaya terputus dan generasi muda kehilangan peta jati diri.
Para antropolog menyebut fenomena ini sebagai "erosi etnisitas". Ketika sebuah komunitas beralih sepenuhnya ke bahasa dominan, bukan hanya kosakata yang hilang, tetapi juga sistem pengetahuan ekologi, pengobatan tradisional, hingga arsitektur sosial yang selama berabad-abad tertanam dalam struktur bahasa.
Teknologi sebagai Pedang Bermata Dua
Di satu sisi, platform digital membantu dokumentasi bahasa melalui aplikasi kamus dan rekaman suara. Namun, algoritma media sosial dan konten hiburan justru mempercepat dominasi bahasa mayoritas. Anak-anak di desa kini lebih fasih berbahasa asing daripada bahasa nenek moyang mereka sendiri. Kondisi ini diperparah oleh minimnya muatan lokal di sekolah dan kurangnya insentif ekonomi bagi penutur bahasa daerah.
Pemerintah melalui Badan Bahasa merespons dengan program revitalisasi di 8 provinsi. Tapi para pegiat komunitas menilai langkah itu tidak cukup tanpa keterlibatan aktif tetua adat sebagai penjaga gawang. "Bahasa tidak bisa diselamatkan dengan kurikulum saja; dia harus dihidupi di dapur, di kebun, dan di upacara," ujar Silvana, pegiat komunitas bahasa dari Aliansi Masyarakat Adat Nusantara.
Data riset menyimpulkan, kehilangan bahasa ibarat kehilangan denyut etnisitas. Tanpa intervensi sistemik berbasis komunitas, Indonesia berpotensi kehilangan 50 bahasa lokal lagi dalam tiga dekade mendatang—sebuah krisis identitas yang sunyi namun mematikan.
Baca juga:
Comments (0)