Trump Perintahkan Operasi Militer Baru di Selat Hormuz

BREAKING NEWS — Militer Amerika Serikat kembali menggempur sejumlah target di Iran pada Minggu (13/7) waktu setempat. Operasi militer ini merupakan perintah langsung Presiden Donald Trump, yang menu...

Jul 13, 2026 - 12:01
0 0
Trump Perintahkan Operasi Militer Baru di Selat Hormuz

BREAKING NEWS — Militer Amerika Serikat kembali menggempur sejumlah target di Iran pada Minggu (13/7) waktu setempat. Operasi militer ini merupakan perintah langsung Presiden Donald Trump, yang menuduh Iran mengancam keselamatan pelayaran internasional di Selat Hormuz.

Serangan Membabi Buta di Iran Selatan

Provinsi Hormozgan menjadi pusat serangan. Sedikitnya tiga lokasi dilaporkan terkena hantaman proyektil: Pulau Qeshm, Bandar Abbas, dan Hajiabad. Media pemerintah Iran menyebut serangan tersebut dilakukan oleh "musuh" tanpa merinci identitasnya.

  • Pulau Qeshm — Antara 10 hingga 11 proyektil menghujani pulau ini sejak Minggu sore. Gubernur Qeshm, Hossein Amir Teymouri, menegaskan bahwa seluruh titik sasaran adalah fasilitas militer dan tidak ada korban jiwa.
  • Bandar Abbas — Kota pelabuhan strategis ini juga dihantam, merusak sejumlah instalasi militer yang diduga menjadi basis pertahanan laut Iran.
  • Hajiabad — Serangan turut menyasar kawasan militer di kota ini, meskipun laporan detail kerusakan masih terbatas.

Konfirmasi Pentagon dan CENTCOM

Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengeluarkan pernyataan resmi beberapa jam setelah ledakan pertama. "Atas arahan Presiden Donald Trump, pasukan CENTCOM melancarkan serangan lanjutan terhadap Iran untuk meminta pertanggungjawaban pasukan Iran," demikian bunyi pernyataan tersebut. Operasi dimulai sekitar pukul 17.00 waktu Pantai Timur AS.

Pentagon menegaskan, target utama adalah kemampuan militer Iran yang dinilai aktif mengusik kapal dagang dan kapal sipil di jalur pelayaran tersibuk dunia itu. Selat Hormuz sendiri menjadi titik kritis bagi pasokan energi global; setiap gangguan bisa memicu lonjakan harga minyak dunia.

Latar Belakang Eskalasi

Serangan ini bukan yang pertama. Sejak April 2026, AS dan Israel telah melancarkan sejumlah serangan udara terhadap infrastruktur pertahanan Iran, termasuk fasilitas nuklir dan akademis seperti Universitas Teknologi Sharif di Teheran yang hancur pada awal April. Ketegangan terus meroket, dengan Washington menuduh Tehran mengembangkan senjata pemusnah massal dan mendukung kelompok proksi di kawasan.

Analis militer memperingatkan, aksi terbaru di Selat Hormuz bisa memicu putaran balas dendam dari Iran. Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) selama ini memiliki sejumlah rudal anti-kapal dan perahu cepat yang siap mengunci jalur strategis itu sewaktu-waktu. Jika Tehran memutuskan untuk merespons, sepertiga pasokan minyak global bisa terhambat.

Reaksi Pasar dan Dunia

Berita serangan hari Minggu langsung membuat pasar minyak berjangka melonjak. Investor khawatir eskalasi lebih lanjut akan mengganggu arus kapal tanker yang mengangkut minyak mentah dari Timur Tengah ke pasar Asia dan Eropa. Komunitas internasional, terutama China dan Rusia, mendesak kedua pihak untuk menahan diri dan kembali ke meja perundingan.

Di Teheran, belum ada tanggapan resmi selain pernyataan bahwa "musuh" telah menyerang. Namun, media lokal melaporkan peningkatan aktivitas militer di sepanjang pesisir selatan Iran. CNN mengutip sumber intelijen bahwa Iran berpotensi melancarkan serangan balasan dalam 24-48 jam ke depan.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan korban jiwa dari pihak Iran. Kerusakan material dilaporkan signifikan, terutama di fasilitas-fasilitas militer yang dihantam. Pemerintah AS sendiri belum mengonfirmasi jumlah pasti target yang berhasil dilumpuhkan, namun CENTCOM menyatakan misi berhasil mencapai tujuan utama tanpa insiden pada pasukan AS.

Konflik di Selat Hormuz ini menambah daftar panjang krisis di Timur Tengah, yang sudah termasuk perang di Yaman, ketegangan Israel-Palestina, dan pertikaian proksi di Suriah. Dunia kini menanti respons Iran yang kerap sulit ditebak.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
irwan-setiawan

Reporter Foto. Visual storyteller dengan 12 tahun pengalaman.

Comments (0)

User