Tersangka Teror Bom SDN Jaksel Kirim Ancaman ke RT Sebelum Beraksi
BREAKING — Polisi mengonfirmasi pelaku teror bom di Sekolah Dasar Negeri Srengseng Sawah, Jakarta Selatan, ternyata mengirim pesan ancaman ke ketua RT setempat beberapa jam sebelum beraksi. Temuan i...
BREAKING — Polisi mengonfirmasi pelaku teror bom di Sekolah Dasar Negeri Srengseng Sawah, Jakarta Selatan, ternyata mengirim pesan ancaman ke ketua RT setempat beberapa jam sebelum beraksi. Temuan ini mempertegas motif terencana di balik aksi yang menggegerkan warga Ibu Kota pagi tadi.
Kepolisian Resor Metro Jakarta Selatan mengungkap fakta mengejutkan tersebut saat merilis kronologi penangkapan tersangka, Senin (13/7/2026). Pelaku, seorang pria berusia 32 tahun, ditangkap tim gabungan kurang dari tiga jam setelah mengirimkan paket mencurigakan ke sekolah yang berlokasi di kawasan padat penduduk itu.
Jejak Digital yang Terlacak
Dari hasil penyelidikan sementara, pelaku mengirim pesan melalui aplikasi perpesanan instan kepada ketua RT tempat ia tinggal. Isi pesan bernada intimidasi dan menyebut rencana “kejutan besar” di lingkungan sekitar. “Kami mendapati pesan tersebut dikirim pukul 04.30 WIB, sekitar dua jam sebelum paket ditemukan di SDN Srengseng Sawah 15 Pagi,” ujar Kasat Reskrim dalam keterangan pers.
Pesan ancaman itu tidak langsung ditanggapi serius oleh ketua RT. Namun setelah kejadian teror bom di sekolah, korban baru menyadari kaitan antara ancaman tersebut dengan aksi pelaku. Polisi langsung mengamankan barang bukti berupa ponsel pelaku dan tangkapan layar percakapan digital.
Kronologi Penemuan dan Evakuasi
Kepanikan melanda SDN Srengseng Sawah 15 Pagi sekitar pukul 06.45 WIB. Seorang petugas kebersihan menemukan paket kardus mencurigakan di dekat gerbang utama. Paket tersebut dilengkapi rangkaian kabel dan jam yang mirip dengan perangkat pemicu. Tim Gegana Brimob langsung diterjunkan dan melakukan sterilisasi total di area sekolah.
Ratusan siswa, guru, dan staf dievakuasi ke lapangan terbuka terdekat. Proses evakuasi berlangsung dramatis karena sebagian anak masih trauma dengan insiden serupa di tahun sebelumnya. “Kami prioritaskan keselamatan anak-anak. Semua ruangan disisir,” tegas seorang perwira di lokasi.
Pengakuan dan Motif Sementara
Di hadapan penyidik, pelaku mengaku frustrasi akibat perseteruan pribadi dengan salah satu warga yang anaknya bersekolah di SD tersebut. Ia mengirimkan paket bohong untuk menimbulkan ketakutan massal. Polisi belum menemukan keterkaitan dengan jaringan teror terorganisasi, tetapi tetap mendalami kemungkinan adanya aktor lain yang memengaruhi pelaku.
Pesan ancaman ke ketua RT menjadi kunci pembongkaran identitas pelaku. Analisis forensik digital menunjukkan pelaku menggunakan nomor prabayar yang sama untuk menghubungi RT dan berkomunikasi dengan akun media sosial yang memuat unggahan provokatif. “Ini jadi bukti bahwa pelaku ingin efek kejut tidak hanya dirasakan sekolah, tapi juga komunitas tempat dia tinggal,” jelas penyidik.
Respons Warga dan Langkah Pengamanan
Ketua RT yang menerima ancaman kini mendapat pendampingan psikologis. Ia mengaku tidak menyangka tetangganya sendiri mampu melakukan teror sedemikian rupa. Warga lingkungan setempat menggelar pertemuan darurat untuk memperkuat sistem keamanan lingkungan (siskamling) dan membentuk grup pengawasan berbasis aplikasi pesan.
Pemerintah Kota Jakarta Selatan memperketat prosedur keamanan di seluruh sekolah negeri dan swasta. Setiap paket dan tamu yang masuk wajib melalui pemeriksaan metal detector portabel yang mulai didistribusikan sore ini. Dinas Pendidikan DKI Jakarta juga mengaktifkan hotline pelaporan ancaman selama 24 jam.
UPDATE — Pelaku dijerat Pasal 15 jo Pasal 7 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2018 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme dengan ancaman pidana maksimal seumur hidup. Polisi masih memeriksa dua saksi tambahan, termasuk ketua RT dan seorang rekan kerja pelaku yang diduga mengetahui rencana tersebut.
Baca juga:
Comments (0)