Pencarian 14 Hari, Dua Remaja Pendaki Gunung Bismo Meninggal di Jurang
WONOSOBO, DETIK INI JUGA — Operasi pencarian dramatis selama belasan hari berujung duka. Dua remaja yang dilaporkan hilang saat mendaki Gunung Bismo, Kabupaten Wonosobo, akhirnya ditemukan dalam kon...
WONOSOBO, DETIK INI JUGA — Operasi pencarian dramatis selama belasan hari berujung duka. Dua remaja yang dilaporkan hilang saat mendaki Gunung Bismo, Kabupaten Wonosobo, akhirnya ditemukan dalam kondisi meninggal dunia di dasar jurang terjal sedalam 200 meter.
Tim SAR gabungan mengonfirmasi temuan tragis itu pada sore hari setelah penyisiran besar-besaran di area tebing curam sisi barat gunung. Kedua korban dievakuasi dengan teknik vertical rescue menyusuri kontur jurang yang ekstrem, sebuah proses yang memakan waktu lebih dari delapan jam sebelum jasad berhasil diangkat ke permukaan.
Kronologi Pencarian
Kedua remaja, yang berstatus pelajar sebuah SMK di Wonosobo, dilaporkan tidak kembali ke rumah sejak memulai pendakian dua pekan lalu. Keluarga yang gelisah melapor ke polisi setelah komunikasi terakhir dengan korban terputus. Berikut fakta kunci kasus ini:
- Identitas korban: Dua remaja laki-laki, warga Kecamatan Kertek, Wonosobo.
- Waktu kejadian: Diduga terpeleset pada hari kedua pendakian akibat guyuran hujan deras yang mengguyur kawasan gunung.
- Lokasi temuan: Dasar jurung di ketinggian 2.100 mdpl, tersembunyi di balik rimbunnya vegetasi pegunungan.
- Durasi pencarian: 14 hari operasi intensif melibatkan 60 personel SAR, relawan, TNI, Polri, serta warga lokal.
Medan Ekstrem Hambat Evakuasi
Komandan Tim SAR gabungan menjelaskan, sinyal darurat dari ponsel korban sempat terdeteksi samar pada hari kelima pencarian, tetapi cuaca buruk dan tebing vertikal menghambat upaya mencapai titik tersebut. Baru pada pagi tadi, tim berhasil membuka jalur tali dan menurunkan tim kecil. Di kedalaman 200 meter, mereka menemukan dua kantong mayat yang sudah dalam kondisi memprihatinkan.
“Kontur jurang sangat curam dan licin, kami harus merayap dengan tali pengaman. Di titik terdalam, terdapat genangan air dan dinding batu bergerigi,” ujar Komandan Tim. Dugaan sementara, korban terpeleset saat berusaha mencari jalan keluar di tengah kabut tebal tanpa perlengkapan navigasi memadai.
Pihak keluarga yang menunggu di posko pendakian tak kuasa menahan histeria. Ambulans dan tim forensik telah disiagakan di kaki gunung untuk penanganan jenazah.
Peringatan Pendakian Saat Musim Hujan
Insiden ini menambah daftar panjang kecelakaan di Gunung Bismo, yang dikenal memiliki jalur sempit dan jurang-jurang tersembunyi. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Wonosobo sebelumnya telah mengeluarkan imbauan agar pendaki tidak melakukan aktivitas di musim hujan karena risiko tanah longsor dan kabut.
Kedua jasad rencananya akan disemayamkan di rumah duka setelah proses identifikasi dan visum selesai. Pemerintah desa setempat turut memberikan pendampingan trauma bagi keluarga.
Baca juga:
Comments (0)