Tak Ada yang Abadi, Gletser di Puncak Jaya Diprediksi Habis Total Akhir 2026
Beritatercepat.com – Kabar memprihatinkan datang dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Gletser tropis terakhir di Asia Pasifik yang bertengger di Puncak Jaya, Papua, terus me
Beritatercepat.com – Kabar memprihatinkan datang dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Gletser tropis terakhir di Asia Pasifik yang bertengger di Puncak Jaya, Papua, terus mengalami penyusutan masif dan diperkirakan akan lenyap seutuhnya pada akhir tahun 2026 atau paling lambat awal 2027. Hilangnya es abadi ini akan menjadi tonggak sejarah kelam bagi Indonesia yang tak lagi memiliki mahkota salju di tanah Papua.
Dalam unggahan resmi di media sosialnya, BMKG menyampaikan keprihatinan mendalam terhadap nasib gletser yang telah bertahan selama ribuan tahun di ketinggian Pegunungan Jayawijaya tersebut. Pengukuran terbaru menunjukkan bahwa tutupan es di sana kini tinggal sisa-sisanya saja, menyusut lebih dari 97 persen dalam kurun kurang dari empat dekade.
Penyusutan Drastis dalam 37 Tahun
Secara rinci, data kami himpun dari laporan BMKG menunjukkan bahwa pada tahun 1988, hamparan gletser di Puncak Jaya masih membentang seluas 4,3 kilometer persegi. Namun, pemantauan yang dilakukan pada September 2025 lalu mencatatkan angka yang amat kontras: hanya tersisa 0,09 kilometer persegi saja. Angka ini setara dengan sekitar sembilan hektare—sebuah luasan yang jika diibaratkan tidak lagi mampu menaungi kawasan sebesar lapangan sepak bola.
Para pakar klimatologi BMKG telah lama mengamati pola penyusutan ini. Suhu global yang terus meningkat serta perubahan pola cuaca ekstrem disebut sebagai biang keladi percepatan pencairan. Sebagai satu-satunya gletser tropis di kawasan ini, es di Puncak Jaya sangat rentan terhadap fluktuasi temperatur kecil sekalipun. Tidak ada musim dingin permanen yang bisa menjaga keseimbangan massa esnya di tengah laju pemanasan global yang kini tak terbendung.
"Tidak lama lagi, Indonesia mungkin akan kehilangan es abadinya untuk selamanya. Es di Puncak Jaya, Papua terus menyusut dari tahun ke tahun. Menurut pakar klimatologi BMKG, es abadi yang telah bertahan ribuan tahun ini diperkirakan bisa hilang sepenuhnya pada akhir 2026 atau awal 2027," tulis BMKG dalam pernyataan resminya yang dikutip media kami.
Dampak Hilangnya Es Abadi bagi Dunia
Kepunahan gletser di Puncak Jaya bukan hanya kehilangan simbolis bagi Indonesia. Dari sisi ilmiah, ini menandai berakhirnya arsip alam yang merekam sejarah iklim bumi purba. Lapisan es tropis tersebut menyimpan data berharga tentang perubahan atmosfer dari zaman ke zaman, yang kini akan hilang bersama lelehannya.
Fenomena ini juga menjadi kode bahaya bagi kawasan lain yang bergantung pada gletser sebagai sumber air tawar. Jika gletser di lintang rendah seperti di Papua saja bisa rontok secepat ini, maka ritual pencairan di pegunungan tinggi di Asia yang menjadi tumpuan hidup miliaran orang akan semakin mencemaskan.
Dengan sisa waktu yang amat sempit, para peneliti dari berbagai negara dikabarkan tengah berlomba mengepak sampel es dan memotret kondisi terkini sebelum gletser tersebut benar-benar menjadi cerita masa lalu. Indonesia harus bersiap menghadapi realita pahit bahwa dalam hitungan bulan, salju di negeri khatulistiwa ini tak lagi bisa ditemukan.
Comments (0)