Santri Tunarungu di Jakarta Ajari Anak Difabel Mengaji
Jakarta, Maret 2024 – Sebuah potret penuh haru terabadikan di Pondok Pesantren Tahfidz Difabel KH Ahmad Lutfi Fathullah, Jakarta, pada Kamis (21/3/2024). S
Jakarta, Maret 2024 – Sebuah potret penuh haru terabadikan di Pondok Pesantren Tahfidz Difabel KH Ahmad Lutfi Fathullah, Jakarta, pada Kamis (21/3/2024). Seorang santri penyandang disabilitas tunarungu dengan penuh kesabaran membimbing seorang anak difabel tunarungu lainnya membaca Al-Qur’an menggunakan bahasa isyarat. Momen tersebut menjadi bukti nyata bahwa keterbatasan fisik tidak menjadi penghalang bagi siapapun untuk mendalami dan mengajarkan kitab suci. Pesantren yang berlokasi di ibu kota ini memang dikenal sebagai lembaga pendidikan inklusif yang secara khusus menaungi santri dengan berbagai disabilitas, termasuk tuna netra, tuna rungu, dan tuna daksa. Kehadirannya menjadi oase bagi para penyandang disabilitas yang ingin menghafal dan memahami Al-Qur’an.
Latar Belakang Pesantren Inklusif yang Menginspirasi
Pondok Pesantren Tahfidz Difabel KH Ahmad Lutfi Fathullah berdiri di bawah asuhan KH Ahmad Lutfi Fathullah, seorang ulama yang memiliki visi luhur untuk menyediakan akses pendidikan Al-Qur’an bagi seluruh kalangan, termasuk mereka yang memiliki kebutuhan khusus. Sejak didirikan pada 2010, pesantren ini telah mendidik lebih dari 200 santri difabel dari berbagai daerah di Indonesia. Para santri tidak hanya dibimbing untuk menghafal ayat-ayat suci, tetapi juga dibekali keterampilan mengajar agar kelak mampu menjadi mentor bagi sesama penyandang disabilitas. “Kami ingin mencetak kader-kader pengajar Al-Qur’an yang berasal dari kalangan difabel itu sendiri, supaya tidak ada lagi anak-anak yang merasa terisolasi karena kondisinya,” ujar salah satu pengasuh pesantren.
Pukul 08.30 WIB: Suasana Pagi di Kelas Tunarungu
Pantauan di lokasi pada hari itu, sejak pagi puluhan santri tunarungu berkumpul di aula pesantren yang dilengkapi alat bantu dengar dan papan visual. Mereka duduk melingkar dalam kelompok-kelompok kecil, dipandu oleh sejumlah santri senior yang sudah mahir membaca Al-Qur’an isyarat. Salah satunya adalah Ahmad (20), santri asal Tangerang yang telah empat tahun menimba ilmu di pesantren tersebut. Kini, Ahmad rutin mengajar enam anak tunarungu berusia 7 hingga 12 tahun. Dengan bantuan penerjemah lisan, Ahmad mengungkapkan melalui bahasa isyarat bahwa mengajar adalah panggilan jiwanya. “Saya tahu rasanya sulit belajar Al-Qur’an tanpa bisa mendengar. Sekarang saya ingin memudahkan adik-adik,” tuturnya.
Metode Mengaji dengan Al-Qur’an Isyarat
Sistem pembelajaran yang digunakan di pesantren ini merupakan hasil pengembangan KH Ahmad Lutfi Fathullah yang disebut “Metode Isyarat Al-Huffaz”. Metode tersebut memetakan setiap huruf hijaiyah, harakat, dan tajwid ke dalam gestur tangan yang spesifik. Misalnya, huruf “ba” direpresentasikan dengan mengepalkan tangan lalu membuka telapak ke atas, sedangkan “fathah” ditunjukkan dengan gerakan jari telunjuk ke kanan. Seluruh panduan telah dibukukan dalam modul yang dilengkapi gambar dan kode QR menuju video tutorial. “Ini adalah ijtihad kami setelah bertahun-tahun mencari cara terbaik agar teman-teman tuli dapat membaca Al-Qur’an dengan tartil,” terang KH Ahmad Lutfi.
Pukul 10.00 WIB: Proses Belajar Mengaji yang Menyentuh
Di sudut aula, terlihat Siti (19), santriwati tunarungu yang telah hafal lima juz Al-Qur’an, sedang mengajari Aisyah (8), bocah tunarungu yang baru bergabung dua bulan lalu. Mereka duduk berhadapan dengan mushaf Al-Qur’an di atas meja rendah. Siti menunjuk satu ayat, lalu membentuk isyarat huruf dan harakat dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya menunjuk gerakan bibir sebagai penanda makhraj. Aisyah mengikuti dengan seksama, mengangguk ketika sudah paham, dan tersenyum saat berhasil melafalkan ayat dengan isyarat yang benar. Momen itulah yang diabadikan lensa fotografer Merdeka.com, Arie Basuki. “Saya ingin adik-adik bisa merasakan keindahan Al-Qur’an seperti saya,” tulis Siti dalam catatan kecil yang ia berikan kepada tim liputan.
Tantangan dan Dukungan yang Mengalir
Meski semangat para santri begitu tinggi, pondok pesantren ini masih menghadapi sejumlah tantangan. Jumlah penerjemah bahasa isyarat yang tersedia baru tiga orang untuk melayani puluhan santri. Selain itu, kebutuhan akan alat peraga edukatif seperti boneka jari, cermin besar untuk latihan makhraj, dan alat audiovisual ramah difabel masih kurang. Namun, dukungan mulai mengalir dari donatur perorangan, lembaga zakat, dan pemerintah provinsi DKI Jakarta. Tahun lalu, pesantren menerima bantuan berupa 50 set alat tulis braille dan modul Al-Qur’an isyarat yang langsung didistribusikan kepada santri. Pengelola berharap bantuan serupa terus berlanjut agar layanan pendidikan semakin optimal.
Harapan untuk Masa Depan
Para pembina pesantren memiliki cita-cita besar untuk mendirikan cabang di lima provinsi lain dalam lima tahun ke depan. Mereka juga tengah menjajaki kerja sama dengan beberapa universitas untuk membuka program studi pendidikan Al-Qur’an berbasis inklusi. “Kami bermimpi setiap penyandang disabilitas di Indonesia, tidak peduli di mana mereka tinggal, bisa belajar mengaji tanpa harus merasa berbeda,” ujar KH Ahmad Lutfi menutup perbincangan. Semangat yang ditunjukkan para santri tunarungu di Jakarta ini menjadi pengingat bahwa keajaiban belajar dan mengajar tidak pernah mengenal batasan. Al-Qur’an, sebagai petunjuk universal, benar-benar dapat diakses oleh siapa saja yang memiliki kemauan, kreativitas, dan kasih sayang untuk berbagi ilmu.
[SOCIAL_TWEET]: Semangat santri tunarungu di Pondok Pesantren Tahfidz Difabel KH Ahmad Lutfi Fathullah Jakarta mengajar anak difabel mengaji dengan bahasa isyarat. Mereka membuktikan keterbatasan bukan penghalang menyentuh Al-Qur’an. #DifabelMengaji #AlQuranIsyarat #PesantrenInklusif[SOCIAL_TG]: 📖 Santri tunarungu di Jakarta ajari anak difabel mengaji dengan bahasa isyarat. Luar biasa! Baca kisah lengkapnya di sini 👉
Comments (0)