SAMARINDA, KALTIM — Kongkalikong SPMB SMA Kaltim Terbongkar, Anak Dewan Caplok Kuota Miskin
SAMARINDA — Praktik busuk mewarnai jalur afirmasi SPMB SMA di Kalimantan Timur. Sejumlah nama dari keluarga anggota DPRD Kaltim terdeteksi melenggang masuk
SAMARINDA — Praktik busuk mewarnai jalur afirmasi SPMB SMA di Kalimantan Timur. Sejumlah nama dari keluarga anggota DPRD Kaltim terdeteksi melenggang masuk sekolah favorit melalui kuota keluarga tidak mampu. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kaltim berdalih server down saat sistem seleksi berjalan.
Sorotan Utama:
- Kuota afirmasi miskin sebesar 15-20% di SMA negeri unggulan justru diisi anak pejabat.
- Tiga nama terkonfirmasi merupakan anak anggota DPRD Kaltim dari berbagai fraksi.
- Disdikbud berdalih server down massal membuat data NIK dan DTKS tidak tervalidasi.
- Laporan awal datang dari orang tua calon murid yang mendapati data pendaftar tidak sinkron.
- Kasus ini kini ditelusuri tim investigasi independen dan Ombudsman Kaltim.
Kronologi Temuan
- 3 Juli 2025 – Pengumuman SPMB jalur afirmasi memicu protes. Puluhan orang tua mendapati anak dari kalangan ekonomi atas lolos di sekolah yang sama, sementara anak mereka yang masuk Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) justru terlempar.
- 4 Juli 2025 – Forum Wali Murid memeriksa inisial nama yang lolos. Tiga di antaranya terkonfirmasi sebagai anak anggota DPRD Kaltim. Fakta memantik amarah: berkas pendaftar menggunakan surat keterangan tidak mampu (SKTM) yang dipertanyakan legalitasnya.
- 5 Juli 2025 – Disdikbud Kaltim merespons dengan dalih server down. Sistem, menurut Kadisdik, gagal melakukan verifikasi silang data kependudukan sehingga NIK pendaftar diproses seadanya.
- 6 Juli 2025 – Ombudsman Kaltim membuka posko pengaduan. Hingga siang, 27 laporan diterima dari berbagai kabupaten/kota. Laporan mayoritas menuding praktik yang sama: SKTM bodong untuk keluarga mampu.
- Status terkini – Gubernur Kaltim meminta audit forensik server SPMB, sementara nama-nama yang lolos jalur afirmasi tengah diuji ulang menggunakan DTKS terbaru.
Pakar pendidikan menyebut jalur afirmasi seharusnya menjadi tameng keadilan, bukan permainan elit. Kuota minimal 20% di tiap SMA negeri adalah mandat undang-undang. “Kalau server down menjadi alasan, itu kelalaian terstruktur,” kata pengamat kebijakan publik Unmul, Dr. Andi Saputra.
Comments (0)